Pasar Konveksi Menggeliat Lagi, Omzet Pedagang Meningkat Drastis

14
Salah seorang pegawai toko pakaian di Pasar Raya sedang melipat celana yang akan dijual, kemarin. (IST)

Masa pandemi Covid-19 ternyata tidak menyurutkan minat masyarakat untuk berbelanja baju Lebaran. Buktinya penjualan pakaian atau produk fashion di sejumlah toko dan pasar mulai mengalami peningkatan.

Seperti dirasakan salah seorang pedagang pakaian di Pasar Raya Padang, Sardi, 49. Ia mengatakan, terjadi peningkatan penjualan pakaian di tokonya dibandingkan tahun 2020 lalu.

Menurutnya, kondisi ini salah satunya disebabkan karena mulai normalnya daya beli masyarakat yang terdampak akibat pandemi Covid-19. Ia menceritakan, pada tahun 2020 lalu saat kasus positif Covid-19 masih tinggi di Kota Padang dan aktivitas di Pasar Raya dibatasi, omzet dari penjualan pakaian mengalami penurunan hampir mencapai 70 persen.

Sebelum pandemi Covid-19, dalam satu bulan dia bisa memperoleh omzet sebesar Rp 60 juta. “Saat kasus positif Covid-19 tinggi di Kota Padang pada pertengahan tahun 2020, omzet yang saya terima berkurang menjadi sekitar Rp 22 juta per bulannya,” kata Sardi.

Pemilik Toko Milenial Style itu menyebutkan, meningkatnya penjualan pakaian mulai dirasakan pada bulan Desember 2020 lalu, ketika kasus positif Covid-19 mulai melandai di Kota Padang dan aktivitas masyarakat mulai normal kembali dengan beberapa kelonggaran kebijakan pemerintah.

Namun Sardi mengungkapkan, puncak penjualan pakaian biasanya ketika memasuki 10 hari dan 1 minggu menjelang Hari Raya Idul Fitri. Lebih lanjut Sardi dikatakan, di toko miliknya, dia menjual beberapa jenis pakaian dan celana seperti kaos, kemeja, baju koko, celana jeans, celana dasar, dan jenis-jenis pakaian lainnya. Untuk harga satu pakaian berkisar antara Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu lebih.

“Target pasarnya masyarakat menengah ke bawah karena konsumen tersebut yang paling banyak di Kota Padang ini,” tukasnya. Sementara untuk stok atau pakaian yang dijual, Sardi mengatakan, hampir seluruh pakaian yang dijual merupakan stok baru yang disesuaikan dengan mode atau gaya pakaian yang sedang tren saat ini. “Kalau dijual pakaian stok lama, tentu jarang orang yang beli karena dianggap modelnya sudah lewat,” ujarnya.

Peningkatan penjualan pakaian juga turut dirasakan oleh pedagang pakaian lainnya, Murni, 35. Ia mengatakan, peningkatan penjualan mulai dirasakan ketika menjelang momen bulan Ramadhan tahun 2021. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang membeli pakaian muslim.

“Satu minggu jelang bulan puasa sudah ramai masyarakat yang membeli pakaian untuk ibadah seperti baju koko, peci, jilbab, mukena, dan lainnya. Dibandingkan tahun lalu ada peningkatan sedikit kira-kira 40 persen,” jelas Murni.

Baca Juga:  Berbagi Kebahagiaan Ramadhan, PLN Sumbar Sebar 7.500 Paket Sembako 

Selama bulan Ramadhan ini, penjualan pakaian cenderung normal seperti hari biasanya. Kondisi itu mungkin disebabkan karena puncak penjualan pakaian di bulan Ramadhan masih belum terjadi. Biasanya masyarakat mulai ramai membeli pakaian ketika satu minggu jelang Lebaran.

Untuk saat ini omzet yang didapatkan dalam satu bulan terakhir bisa mencapai Rp 20 juta sampai Rp 25 juta. Omzet tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2020 saat kasus positif Covid-19 masih tinggi di Kota Padang.

Sementara untuk harga pakaian yang dijual berkisar antara Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu tergantung bahan pakaian dan celana. Selain pakaian, dirinya juga menjual jilbab yang harganya mulai Rp 35 ribu sampai Rp 75 ribu dan beberapa jenis mukena.

Di bulan Ramadhan tahun ini, Murni berharap peningkatan penjualan pakaian bisa terus meningkat sehingga dirinya bisa memenuhi kebutuhan hidup dan melanjutkan usaha pakaian di masa depan. “Ya mudah-mudahan semuanya bisa lebih baik dan kembali normal,” tukasnya.

Sementara itu, Ratna Dewi, 57, salah seorang pengunjung pasar saat ditemui Padang Ekspres mengaku belum memikirkan untuk membeli paiakan Lebaran.
Namun, ia akan membeli baju Lebaran ketika ada penghasilan lebih atau tambahan. Karena lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan lain.

Penjualan Pernak Pernik Lebaran Sepi
Berbeda dengan penjualan pakaian, penjualan pernak-pernik Lebaran seperti hiasan ketupat atau hiasan Idul Fitri lainnya masih sepi. Eri, 46, pedagang yang berjualan pernak-pernik Lebaran di sekitaran Permindo mengaku penjualan masih sepi. “Ini sudah hari ke-14 saya berjualan di sini. Tapi pembeli masih sepi. Omzet yang diperoleh hanya Rp lebih kurang 200 ribu,” katanya.

Menurutnya, banyak orang membeli ornamen ini secara online sehingga tak banyak lagi yang membeli secara langsung. Ia mengaku, biasanya mampu mengumpulkan omzet hingga Rp 1 juta per harinya dari menjual sajadah atau ornamen ketupat. Namun sejak tahun kemarin hal itu cukup sulit didapat.

“Saya berjualan pernak-pernik Lebaran ini sudah 10 tahun di sini. Mulai dari pernak pernik seperti ketupat hingga sajadah saya jual. Biasanya saya dapat menjual itu hingga Rp 1 juta per harinya. (a/cr1)

Previous articleMasih Ada Kafe Langgar Prokes
Next articleTahanan Kasus Pembunuhan Kabur