Ekonomi RI Mulai Menggeliat, Menkeu Optimistis tapi juga Realistis

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (net)

Pemerintah berharap perbaikan aktivitas ekonomi, khususnya di kuartal III bisa terwujud melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Dengan PEN, pertumbuhan kuartal lll diharapkan bisa merangkak naik. Karena, target pertumbuhan ekonomi tahun ini akan sangat bergantung pada kinerja aktivitas ekonomi pada kuartal III.

“Kami harus mengikhtiarkan untuk mencari dan mencapai skenario-skenario yang lebih optimis, tetapi tetap realistis berdasarkan kondisi yang dihadapi saat ini,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, kemarin.

Sri Mulyani mengatakan, beberapa sektor perekonomian di kuartal II sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Namun, hal ini perlu dipastikan lebih lanjut berdasar data statistik di bulan Juni yang saat ini sedang dalam tahap finalisasi.

Beberapa sektor yang dimaksud ini adalah seperti konsumsi listrik yang meningkat, sektor makanan dan penerimaan perpajakan yang mulai menunjukkan pembalikan ke arah positif, serta sektor perdagangan eceran mulai membaik. Walaupun masih ada beberapa sektor yang menunjukkan pelemahan, tapi sektor yang mulai membaik tidak sedikit.

“Kami akan lihat semua indikator ini untuk melakukan asesmen risikonya. apabila dilihat, indeks kekayaan konsumen kita pada bulan Juni sudah membaik positif, indeks keyakinan konsumen dan indeks ekspektasi kondisi ekonomi juga sudah mulai membalik. Ini memberikan sinyal bahwa masyarakat juga melihat ada harapan,” jelasnya.

Menkeu memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal lll bisa tumbuh 1 persen dalam skenario optimis. namun dalam skenario terberatnya, perekonomian akan tumbuh negatif.
“Tahun ini memang tergantung kinerja di kuartal III dan IV. Kalau kuartal III kita bisa hindari, tidak negatif, yang best scenario kuartal III bisa 0,5-1 persen. Kalau negatif untuk kuartal III, kita mungkin masih akan negatif. Itu berarti kalau kita bisa sampai negatif, kita bisa resesi,” jelasnya.

Untuk itu, pemerintah berharap perbaikan aktivitas ekonomi, khususnya di kuartal III bisa terwujud melalui program Pemulihan ekonomi nasional (PEN). Seluruh stimulus yang ada di dalam program ini memiliki tujuan agar masyarakat bisa terbantu dan aktivitas ekonomi bisa perlahan pulih.

Sri Mulyani mengakui saat ini pemerintah lagi memanaskan mesin perekonomian agar bisa maksimal di kuartal III. Pemerintah juga menganggarkan dana pemulihan ekonomi nasional sebesar Rp 695,2 triliun di tahun ini. Dana ini mencakup sektor kesehatan Rp 87,5 triliun, perlindungan sosial Rp 203,9 triliun, insentif usaha Rp 120,6 triliun, UMKM Rp 123,4 triliun, pembiayaan korporasi Rp 53,5 triliun, dan sektoral kementerian dan lembaga serta pemda Rp 106,1 triliun.

“Kita juga berharap supaya dana pemerintah itu betul-betul bisa mendukung proses pemulihan. Baik itu di rumah tangga, konsumsi, baik itu usaha kecil, menengah, maupun korporasi besar. Dan kita tetap menjaga agar lembaga keuangan tetap stabil dan menjalankan tugasnya,” ucapnya.

Sementara Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menilai, kuartal lll menjadi penentu apakah Indonesia termasuk negara yang masuk kedalam jurang resesi atau tidak. Karena, kepastian resesi atau tidak menunggu rilis ekonomi kuartal III yang berakhir September. Jika Indonesia terjadi resesi kemungkinan baru diumumkan Oktober.

“Tidak lagi proyeksi. Tapi sudah official datanya di bulan Oktober BPS menyampaikan pertumbuhan ekonomi kita di kuartal III. Kita masuk resesi atau tidak,” katanya.
Piter menegaskan, resesi sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam sebuah siklus ekonomi. Ibarat roda resesi adalah posisi ketika ekonomi sedang berputar di bawah. “Ini bukan sesuatu yang sangat buruk, yang penting tidak terjadi krisis. Artinya, dunia usaha masih bisa bertahan tidak kolaps, demikian juga dengan sektor keuangan,” jelasnya. (kpj/jpg)