Waspadai Bantuan Asing Terkait Korona, Pemerintah Bisa Terjebak Commitment Fee

Covid-19. (Foto: INTERNET)

Di tengah pandemi korona, Indonesia dibanjiri pinjaman dari asing. Namun pemerintah diminta hati-hati memilah pinjaman asing ini. Jangan sampai terjebak commitment fee yang berlebihan.

Sekadar info, setelah Asian Development Bank (ADB), kini Bank Pembangunan Islam (IsDB) akan memberikan dana pinjaman darurat sebesar Rp 3,89 triliun untuk mengatasi dampak wabah korona.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pinjaman multilateral ini bisa dijadikan sebagai alternatif pembiayaan. Ada untung dan ruginya.

“Untungnya jika dibandingkan dengan penerbitan surat utang global, bunga yang ditawarkan umumnya lebih kecil. Biasanya 1 hingga 2 persen. Angka ini relatif lebih rendah dibanding imbal hasil surat utang global tenor 50 tahun misalnya yang berada di kisaran 4 persen,” kata Yusuf.

Ruginya, kata dia, umumnya pinjaman luar negeri multilateral ini berisiko terhadap selisih kurs, karena pinjaman akan dilakukan dalam valuta asing. Apalagi jika tidak ada proses hedging. Kerugian berikutnya, pinjaman dari lembaga seperti ini umumnya juga mensyaratkan adanya commitment fee. Artinya jumlah tarikan pinjaman harus sesuai dengan perjanjian awal.

“Secara umum, pinjaman kategori multilateral/lembaga ini perlu dilakukan dengan hati-hati karena ada ongkos tambahan yang bisa ditanggung pemerintah jika tidak melakukannya dengan hatihati,” tegasnya.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebut, IsDB siap mengucurkan bantuan yang nilainya mencapai 250 juta dolar AS atau mencapai Rp 3,89 triliun (estimasi kurs 15.591 per dolar AS).

“Kami melakukan pembicaraan virtual dengan Presiden IsDB Bandar Hajjar mengenai langkah pemerintah dalam bidang kesehatan, bantuan sosial, maupun insentif dunia usaha. Mereka bersedia memberikan dana darurat Covid -19 dengan proses negosiasi berkisar antara 200-250 juta dolar AS,” kata Sri Mulyani dalam akun media sosial Instagram, kemarin.

Saat rapat virtual dengan IsDB, lanjut Menkeu, mereka berkomitmen akan memberikan dukungan bersama dengan lembaga multilateral lain seperti Bank Dunia dan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) untuk mengatasi COVID-19 “IsDB meluncurkan program 3 R (Respons, Restore, Restart),” kata Ani, sapaan akrabnya.

Ia juga mengatakan, pemerintah akan mengandalkan pinjaman dari lembaga multilateral untuk mendukung pembiayaan berbagai program stimulus . Namun pembiayaan dari lembaga multilateral ini bukan merupakan langkah mendesak yang akan dimanfaatkan untuk penanganan korona.

Langkah yang paling utama dilakukan pemerintah adalah melakukan sejumlah realokasi atau refocusing belanja APBN yang tidak mendesak seperti perjalanan dinas atau pertemuan rapat. “Pemerintah juga akan mengandalkan pembiayaan penerbitan surat utang untuk mendukung pelebaran defisit anggaran,” kata Ani.

Sebelumnya, Bank Pembangunan Asia (ADB) menyetujui pinjaman sebesar 1,5 miliar dolar, atau sekitar Rp 23 triliun kepada Indonesia untuk membantu menanggulangi dampak virus korona. Presiden ADB, Masatsugu Asakawa mengatakan, Covid19 menimbulkan dampak yang cukup berat bagi aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi di Indonesia. (nov/jpg)