Risiko Ekonomi Tahun 2021 masih Tinggi

24
ilustrasi. (net)

Kondisi perekonomian pada awal tahun 2021 diproyeksi belum sepenuhnya pulih. Oleh sebab itu, pemerintah akan tetap melanjutkan program perlindungan untuk rakyat miskin.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu memperkirakan, meskipun vaksin Covid-19 sudah ditemukan dan didistribusikan pada kuartal pertama 2021, risiko ekonomi masih tinggi.

“Pada awal tahun, vaksin belum bisa menjangkau seluruh populasi di Indonesia. Sejumlah risiko harus tetap diwaspadai, termasuk menjaga keberlangsungan hidup 40 persen masyarakat termiskin,” ungkap Febrio dalam diskusi daring Kemenkeu, kemarin.

Dia menuturkan, saat ini, pemerintah terus menyiapkan langkah-langkah agar perekonomian bisa tetap bergerak dengan risiko seminimal mungkin. Termasuk, menjamin 40 persen penduduk termiskin agar hidupnya tidak lebih susah sampai kondisi ekonomi kembali seperti sebelum ada korona.

Selain itu, papar Febrio, pemerintah sedang fokus agar tenaga kerja Indonesia yang mayoritas informal bisa kembali bekerja. Kemudian, pekerja formal dengan penghasilan di bawah Rp 5 juta mendapat subsidi. “Program-program itu ke depan akan terus dipantau,” ungkapnya.

Febrio menyampaikan, tahun depan, pemerintah memiliki ambisi kuat untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 hingga 5,5 persen. Berbagai upaya akan dilakukan agar target tersebut bisa tercapai.

Dia menilai, target pertumbuhan ekonomi 4,5 hingga 5,5 persen cukup realistis. Meskipun diakuinya, harus diikuti dengan kerja keras. Pemerintah harus menyiapkan kebijakan agar perekonomian makin kuat pulih dan tenaga kerja makin siap.

Baca Juga:  Dipastikan tidak akan Ada PHK

Untuk mencapai itu, lanjutnya, Indonesia harus berani tampil menyerang dengan menjemput investasi pada 2021 agar daya ungkit ekonomi makin kuat. Pada tahun ini, pemerintah lebih banyak bertahan dan menutup diri akibat korona. “Di 2021 kita masih bertahan, tapi kita juga harus mulai menyerang. Seperti apa menyerangnya? Investasi harus naik. Karena investasi itu 33 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) kita,” ujarnya.

Dia menambahkan, pihaknya saat ini sedang mengejar target penerimaan pajak tahun ini yang dalam Perpres 72/2020 sebesar Rp 1.198,8 triliun. “Ini saya pikir jadi poin penting untuk pemerintah bagaimana sisa tiga bulan ke depan untuk bisa mengejar target di Perpres 72,” katanya.

Febrio mencatat realisasi penerimaan pajak hingga Agustus baru mencapai 56,5 persen dari target atau sebesar Rp 676,9 triliun serta terkontraksi 15,6 persen (yoy) dibanding periode sama 2019 yaitu Rp 802,5 triliun. “Teman-teman lagi kerja keras. Sayangnya terjadinya pada Desember baru ketahuan, jadi kejar setoran luar biasa di Desember,” tegas Febrio.

Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah menilai, vaksin Corona menjadi kunci pemulihan ekonomi Indonesia. “Korona merupakan sumber masalah perlambatan ekonomi. Artinya, fokus pemerintah seharusnya pada pengendalian pandemi dan penemuan vaksin, agar ekonomi bisa lari kencang lagi,” kata Piter. Menurutnya, aktivitas masyarakat akan terbatas jika vaksin tidak ditemukan. “Akhirnya, pemulihan ekonomi juga akan berjalan lambat,” tegasnya. (nov/jpg)