Pasokan Lokal Kurang, Harga Bawang Merah terus Naik

157
ilustrasi aktivitas pedagang bawang. (Foto: Dok. Jawapos.com)

Lima hari setelah Lebaran, harga bawang merah terus mengalami kenaikan di berbagai daerah di Sumbar.

Seperti di tingkat petani di Nagari Alahanpanjang, telah mencapai kisaran Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Harga ini naik dibandingkan harga selama bulan ramadhan yang dikisaran Rp 40 ribu per kilogram.

Salah seorang pedagang sembako di kawasan Kotogadang Guguak, Kecamatan Gunung Talang, Zulkarnain, 55, mengatakan memang puncaknya saat Lebaran, harga bawang merah fluktuatif dikisaran harga Rp 45 ribu hingga Rp 55 ribu dalam dua minggu terakhir.

Menurutnya itu terjadi karena harga ditingkat petani yang juga sudah mahal. Pihaknya memperkirakan bahwa biasanya kenaikan harga tersebut tidak akan bertahan lama. Setidaknya hingga dua minggu usai Lebaran. Saat ini harga bawang mahal karena berkurangnya pasokan dari pulau Jawa, akibat pengiriman agak diperketat.

Pedagang lainnya, Linda, 50, mengatakan sekarang harga bawang merah sudah naik. Harga ini setiap Minggu terus melonjak naik. Apalagi semenjak penerepan PSBB ini, semua pasokan akan diperketat, tapi meskipun naik, persediaan semua kebutuhan pokok masih cukup.

Seorang petani di Alahanpanjang, Saputra, 32, di Alahanpanjang, mengatakan kenaikan harga tersebut sudah berlangsung sejak tiga dua hari yang lalu secara bertahap. Kenaikan ini memang sudah cukup lama bertahan. Sebelumnya paling tinggi sampai Rp 40 ribu per kilogram, kemudian sekarang terus naik lagi capai Rp 50 ribu per kilogram.

Ia juga mengungkapkan kenaikan harga saat ini karena ketersediaannya di tingkat petani sedikit. Sedangkan peminatnya sangat banyak. Disisi lain ia juga berharap harga bawang masih bertahan, sebab saat ini umur bawangnya sudah dua bulan dan menunggu satu bulan lagi baru bisa dipanen, perawatannya juga susah dan membutuhkan biaya mahal.

Kepala Dinas Koperindag dan UMKM Kabupaten Solok, Eva Nasri menyebutkan bahwa ketidakstabilan harga bawang merah karena pasokan bawang dari Pulau Jawa berkurang. Selain itu, para petani bawang di Kabupaten Solok juga tahun ini kebanyakan belum panen.

Selain itu, wabah virus korona memang banyak dampaknya terhadap petani. Apalagi saat ini harga cabai merah turun dan sekarang harga bawang merahlah yang mengalami kenaikan yang sangat drastis. Sehingga banyak dikeluhkan masyarakat sebagai kebutuhan harian.

Penyebab lain harga bawang merah naik adalah berkurangnya pasokan bawang dari luar daerah, sehingga harga bawang merah menjadi melonjak. Namun demikian untuk bawang impor justru harganya jauh lebih murah.

Dari tahun ke tahun, produksi bawang merah selalu meninhkat, begitu juga dengan luas lahan. Pada tahun 2016 tercatat sebesar 59.045 ton dengan luas tanam 5.518 hektare, pada tahun 2017 mengalami peningkatan dengan produksi bawang merah sebesar 82.685,2 ton dengan luas tanam 7.919 hektare. Tahun 2018 mencapai 88.395 ton dan realisasi tahun 2019 mencapai 102.054 ton dari lahan seluas 8.769 hektare.

Dan kecamatan Lembah Gumanti merupakan daerah yang terluas dan menjadi sentral pembangunan tanaman bawang merah dengan luas tanam 5.051 hektare dengan rata – rata produktifitas komoditi bawang merah sebesar 11,27 ton per hektare.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Si Is mengatakan sebab, bawang merah termasuk pangan strategis. Sebagai daerah sentra penghasil bawang merah, khusus bawang merah, kabupaten Solok sebagai sentra produksi bawang merah terbesar di Sumatera memiliki peran strategis dalam memenuhi ketersediaan pasokan bawang merah baik di dalam Provinsi Sumatera Barat maupun daerah lain yang membutuhkan.

Untuk menstabilkan harga, tentu butuh pasokan normal dikawasan itu, sebab saat ini ditingkat petani memang ada kurang hasil panen, sedangkan permintaan semakin banyak. Menyikapi itu, Ia menyebut akan terus mendorong petani memperluas areal tanam, khususnya di sentra penghasil bawang terbanyak, yaitu di Kecamatan Lembah Gumanti, Danau Kembar, Gunung Talang, dan Lembang Jaya.

Begitu juga di Pariaman, harga bawang merah di Kota Pariaman masih tinggi, Rp 50 ribu per kilogram. ”Ya, bawang merah lokal sampai saat ini masih berkisar Rp 55 ribu hingga Rp50 ribu perkilogram. Biasanya jika usai Lebaran, harga bawang merah turun namun ini masih cukup tinggi,” ujar pedagang sembako di Pasar Pariaman Armen, kemarin.

Armen menyebut meskipun saat ini pasar sudah diserbut bawang merah dari Pulau Jawa dan bawang merah impor. Namun warga tetap bertahan membeli bawang merah lokal,meskipun kuantitas yang dibeli menjadi berkurang.

Sementara Kadis Perindag Kop dan UKM Pariaman Gusniyeti Zaunit membenarkan harga bawang merah masih cukup tinggi. Meski demikian Yet, begitu ia akrab disapa harga bawang merah sudah mulai turun dibandingkan harga saat jelang lebaran. ”Jelang Lebaran harganya hingga Rp 70 ribu per kilogram saat ini sudah turun jadi Rp 55 ribu. Namun memang masih tinggi belum kembali ke harga normal,” ujarnya.

Meski demikian sebut Yet, pihaknya belum terpikir untuk operasi pasar mengingat kondisi saat ini. Yet menyebut telah mencoba koordinasi dengan provinsi dan saat ini pihak pemprov berupaya mencarikan kemudahan pengangkutan dari Alahanpanjang.

Sedangkan di Dharmasraya harga bawang masih tetap tinggi berkisar Rp 50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram. Salah seorang pedagang Pasar Pulaupunjung An,53, menyebutkan harga ini dikarenakan pasokan tidak seperti biasanya.

Sementara itu, salah seorang pembeli Heny, 34, mengungkapkan masih tingginya harga bawang merah membuat dirinya mencari alternatif lain dalam memasak. ”Terpaksa saya beli bawang packing yang harganya jauh lebih murah ketimbang bawang kampung. Satu kilonya seharga Rp 30 ribu. Kalau beli bawang kampung terlalu mahal,” katanya. (nia/f/one)