Genjot Hilirisasi Kendaraan Listrik

20
ilustrasi. (net)

Minat investor asal Korea Selatan (Korsel) menanamkan modalnya di Indonesia terus meningkat di tengah pandemi Covid-19. Karena itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bakal terus mengawal para investor tersebut sampai jadi.

BKPM terus berusaha menarik investor Korsel untuk berinvestasi di Indonesia, khususnya di bidang industri hilirisasi kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) battery. Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia mencatat, data hasil realisasi investasi asal Negeri Ginseng pada triwulan II (April-Juni) tahun 2020, totalnya mencapai 552,6 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 8,2 triliun. “Capaian ini melonjak 340 persen dari total investasi Korsel pada triwulan I (Januari-Maret) tahun 2020 sebesar 130,4 juta dolar AS,” kata Bahlil dalam keterangan resminya, kemarin.

Karena itulah, lanjut Bahlil, pemerintah perlu menunjukkan keseriusan dalam menjemput investor dari Korsel. Pasalnya, peningkatan investasi ini merupakan sinyal positif bahwa Indonesia masih dilirik oleh investor di tengah pandemi Covid-19. “Kita harus serius memfasilitasi investor yang mau masuk Indonesia sampai jadi. Harus kita kawal terus,” tegas Bahlil.

Menurutnya, sesuai arahan Presiden Jokowi, investasi yang saat ini mendorong perekonomian adalah investasi yang mendukung transformasi ekonomi, serta memiliki nilai tambah. Selain itu, perlu dikejar investasi yang padat karya. Sebab, Indonesia butuh banyak lapangan kerja untuk kembali menggerakkan perekonomian akibat hantaman korona sejak awal tahun 2020. “Untuk mendorong realisasi investasi, kami bersama Menteri BUMN Erick Thohir ke Korsel untuk membahas hilirisasi EV battery,” ujar Bahlil.

Untuk diketahui, Bahlil dan Erick Thohir berkunjung ke Korea Selatan pada 23-24 September 2020 dalam rangka menindaklanjuti sejumlah rencana investasi perusahaan asal Korsel di Indonesia. Delegasi Indonesia juga berdiskusi dengan beberapa perusahaan Korsel untuk menindaklanjuti minat investasi ke Indonesia.

Baca Juga:  Komisaris BUMN Diizinkan Rangkap Jabatan

Erick mengatakan, meski di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Indonesia terus agresif untuk mendatangkan investasi. “Kita harus optimistis. Keberangkatan kami ke Korsel karena memang ada minat serius dari beberapa perusahaan Korea. Artinya, Indonesia memiliki daya tarik. Dan kita tindaklanjuti itu,” ujar Erick.

Sejak tahun 2015, Korsel menjadi negara asal investasi terbesar ke-7 di Indonesia setelah Singapura, Jepang, China, Hong Kong, Malaysia dan Belanda. Korsel membukukan total investasi mencapai 7,7 miliar dolar AS.

Berdasarkan data yang ada di Pusat Komando Operasi dan Pengawalan Investasi (Pusat KOPI) BKPM, investasi dari Korsel pada periode tahun 2016 sampai semester I tahun 2020 didominasi oleh sektor listrik, gas dan Air (sebesar 944,3 juta dolar AS).

Selain itu, ada industri mesin, elektronik, instrumen medis, peralatan listrik, presisi dan optik. Kemudian, jam tangan (902,5 juta dolar AS), industri kimia dan farmasi (749,6 juta dolar AS), industri barang kulit dan alas kaki (552,0 juta dolar AS) dan industri lainnya (528,7 juta dolar AS).

Berdasarkan lokasi, investasi Korsel mayoritas berada di Jawa (4,5 miliar dolar AS). Disusul Kalimantan (1,0 miliar dolar AS), Sumatera (372,4 juta dolar AS), Papua (246,8 juta dolar AS) dan Maluku (226,3 juta dolar AS). (nov/jpg)