Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Rupiah Tertekan, BI tidak Seagresif Bank Sentral AS

Hendra Efison • Sabtu, 9 November 2024 | 13:03 WIB

 

 

Photo
Photo
PADEK.JAWAPOS.COM—The Federal Reserve (The Fed) mengumumkan pemangkasan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 4,50–4,75 persen kemarin (8/11) dini hari. Pemangkasan itu adalah kali kedua yang dilakukan The Fed dalam dua pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) secara beruntun. September lalu, bank sentral Amerika Serikat (AS) itu memangkas suku bunga 50 bps.

Gubernur The Fed, Jerome Powell, menuturkan indikator terkini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus berkembang dengan pesat. Sejak awal tahun ini, kondisi pasar tenaga kerja telah mereda, angka pengangguran meski meningkat dianggap dalam level yang rendah.

Dilansir dari AFP, sasaran inflasi juga terus bergerak mendekati target bank sentral AS sebesar 2 persen. ”Kalibrasi ulang dari sikap kebijakan kami ini akan membantu menjaga kekuatan ekonomi dan pasar tenaga kerja. Serta, memungkinkan kemajuan lebih lanjut pada inflasi saat kami bergerak menuju sikap yang lebih netral dari waktu ke waktu. Kami pikir dari sisi ekonomi maupun kebijakan , keduanya berada di posisi yang sangat baik,” jelasnya.

Penurunan suku bunga itu diharapkan dapat mendorong pinjaman lebih terjangkau bagi masyarakat dan perusahaan sehingga membantu mempercepat pemulihan ekonomi. Hal itu diharapkan dapat mendorong pembelian barang dan jasa, investasi bisnis, serta proyek-proyek pembangunan yang sebelumnya tertunda.

Meski pemangkasan suku bunga itu diharapkan dapat membantu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, sejumlah pakar memperingatkan bahwa kebijakan tersebut harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak memicu inflasi kembali.

Powell juga menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur dari jabatannya meski menghadapi tekanan dari Donald Trump. Pria yang telah memimpin The Fed sejak 2018 itu menyatakan komitmennya untuk menjalankan kebijakan moneter yang independen dan menjaga stabilitas ekonomi, terlepas dari kritik atau tekanan politik.

Seperti diketahui, Powell menjadi target kritik Trump sejak beberapa tahun lalu. Terutama saat Trump menganggap kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkannya berpengaruh negatif pada pertumbuhan ekonomi.

”Saya tidak akan mundur. Mandat kami di The Fed adalah melayani kepentingan publik, bukan kepentingan politik,” tegasnya.

Dia menambahkan bahwa independensi bank sentral adalah hal yang sangat penting untuk memastikan kebijakan moneter yang berlandasan data dan analisis, bukan pada tekanan eksternal.

Investor Cermati Kebijakan Pemerintah

Sementara itu, Vice President Infovesta Wawan Hendrayana menilai, pemangkasan suku bunga The Fed sudah sesuai dengan ekspektasi pasar maupun analis. Dia juga memprediksi masih adanya pemangkasan di akhir tahun. ”Sudah price-in, saat ini market bergerak oleh isu lain,” ungkapnya kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres) tadi malam.

Keputusan yang dilakukan bank sentral AS itu membuka ruang bagi Bank Indonesia (BI) ikut menurunkan suku bunga acuan. Hanya, diperkirakan tidak agresif. Mengingat, nilai tukar USD tengah menguat terhadap hampir seluruh mata uang negara-negara lainnya.

Peningkatan tipis 0,60 persen indeks harga saham gabungan (IHSG) di posisi 7.287,191 kemarin (8/11) dipengaruhi derasnya aliran dana asing keluar. Mengantisipasi kebijakan Trump sebagai presiden AS terpilih yang arahnya akan meningkatkan inflasi dan mempertajam perang dagang. Sehingga akan menurunkan ekspor Tiongkok ke AS. Yang mengakibatkan banjirnya produk-produk Tiongkok ke negara lain, termasuk Indonesia. ”Itu semua masih menjadi katalis negatif karena pertumbuhan ekonomi Indonesia juga sedang melemah,” ungkapnya.

Meski demikian, lanjut Wawan, investor juga tetap akan mencermati kebijakan-kebijakan Presiden Prabowo Subianto dan kabinetnya yang diharapkan mampu meningkatkan konsumsi di masyarakat dan menggerakkan kembali roda perekonomian. ”Koreksi pada IHSG dapat dimanfaatkan untuk buy on weakness dalam jangka panjang, terutama sektor keuangan,” tandasnya. (dee/han/c6/dio/jpg)

Editor : Hendra Efison
#bank sentral as #pemangkasan suku bunga acuan #bank indonesia (bi) #jerome powell #Rupiah Tertekan #the federal reserve