Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik sejak awal 2026, termasuk friksi antara Amerika Serikat dan NATO terkait Greenland, kekhawatiran mengenai independensi Federal Reserve, serta ketidakpastian tarif global.
Kondisi tersebut memicu lonjakan minat terhadap aset lindung nilai.
Menurut trader logam independen, Tai Wong, emas semakin dibutuhkan sebagai aset lindung nilai dan diversifikasi portofolio di tengah kondisi ekonomi dan politik yang sangat tidak pasti.
“Peran emas sebagai aset aman dan diversifikasi di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik yang tinggi menjadikannya suatu keharusan dalam portofolio strategis,” ungkapnya, dikutip dari Reuters.
Permintaan Safe Haven Kian Kuat, Suku Bunga Jadi Sorotan
Tren pembelian oleh bank sentral dan pergeseran investor dari dolar turut menopang harga emas.
Emas juga menjadi pilihan saat prospek suku bunga rendah menguat.
Tahun lalu, emas mencapai tonggak penting ketika pertama kali menembus level US$3.000 dan US$4.000 per ons pada Maret dan Oktober, didorong pemangkasan suku bunga AS dan meningkatnya konflik global.
Commerzbank dalam catatannya menyebutkan bahwa pemangkasan suku bunga AS diperkirakan akan meningkat pada akhir tahun setelah penunjukan Ketua Federal Reserve yang baru.
Perak, Platinum, dan Paladium Ikut Menguat
Di luar emas, harga perak mencatat sejarah baru dengan menembus US$100 per ons untuk pertama kalinya.
Harga spot perak naik 5% menjadi US$100,94 per ons pada 01.48 WIB, Sabtu (24/1/2026).
Direktur Metals Focus, Philip Newman menyatakan bahwa perak diperkirakan terus mendapat manfaat dari faktor-faktor yang sama yang menopang permintaan investasi emas, termasuk kekhawatiran tarif dan rendahnya likuiditas fisik di pasar London.
“Perak seharusnya terus mendapatkan keuntungan dari banyak faktor yang sama yang mendukung permintaan investasi emas,” katanya.
Di sisi lain, Platinum sempat menyentuh rekor US$2.771,10 per ons dan terakhir diperdagangkan di US$2.744,40.
HSBC menilai logam ini menarik bagi investor sebagai alternatif yang lebih murah, serta memperkirakan defisit pasar meningkat menjadi 1,2 juta ons tahun ini. Sementara itu, paladium naik 4,1% menjadi US$1.999,64.(*)
Editor : Heri Sugiarto