BNN Minta Jurnalis Ambil Peran Penting

10
Pemred Padang Ekspres Revdi Iwan Syahputra menjadi narasumber saat rapat kerja BNNK Payakumbuh, di Kota Randang itu, kemarin (8/3). (IST)

Berada di jalur perlintasan Sumatera yang juga menjadi gerbang utama bagian Timur Sumbar, Payakumbuh dan Limapuluh Kota bisa saja jadi target pusat peredaran di Sumbar. Makanya, selain penindakan ekstra, namun juga butuh benteng kokoh pertahanan lewat pencegahan.

Dipimpin AKBP Sarminal, Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Payakumbuh memiliki tugas berat di garda utama perang melawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Mengingat, daerah ini kerpa menjadi rute supply narkoba jenis ganja maupun sabu-sabu.

Sejumlah pengungkapan kasus tindak kejahatan penyalahgunaan narkoba jumbo yang berhasil dilakukan duo Polres di Luak Limopuluah (Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota), jadi buktinya.

Berkarung-karung ganja dengan berat sampai ratusan kilogram pernah diungkap Polres Limapuluh Kota dan Polres Payakumbuh. Bahkan, sederet pengungkapan narkoba juga tak pernah sepi dari pemberitaan. Hal ini, jadi bukti nyata gempuran peredaran narkoba kian gencar mengancam.

”Kita mengajak wartawan mengambil peran strategis dalam pencegahan terhadap pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Bagaimana memberikan edukasi bahaya penyalahgunaan narkoba kepada masyarakat,” ungkap Kepala BNNK Payakumbuh, AKBP Sarminal bersama Sub Koordinator Seksi P2M BNN Indra Yulita saat Rapat Kerja dan Sosialisasi Peran Wartawan dalam Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba, di Mangkuto Hotel Payakumbuh, kemarin (8/3).

Masih segar tentunya dalam ingatan pembaca, Selasa (6/10/2020) lalu, pengungkapan terhadap satu unit minibus jenis Toyota Avanza membawa narkoba jenis ganja empat karung lebih dengan berat mencapai ratusan kilogram. Ketika itu, Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Payakumbuh melakukan penembakan sewaktu pengejaran.

Tak hanya sekadar lewat, namun Payakumbuh menjadi target distribusi narkoba ke daerah sekitarnya. Bila tak miliki benteng pencegahan yang kokoh, Payakumbuh dan daerah sekitarnya sangat riskan menjadi tempat bertumbuhnya pengguna-pengguna baru.

”Disitulah sangat dibutuhkan peran aktif wartawan. Lewat program bersih narkoba (Bersinar), kita berharap wartawan yang tergabung di Balai Wartawan Luak Limopuluah bisa memainkan peran strategis dalam upaya pencegahan dalam pemberentasan peredaran gelap narkoba,” ucap Indra Yulita.

Selama ini, tambah dia, pemberitaan terkait narkoba sudah sangat banyak dimuat media massa. Terutama, peristiwa pengungkapan dan penindakan. Namun, hanya saja minim pemberitaan berkaitan dengan pencegahan. Padahal, pencegahan tak kalah pentingnya. Sebab, inilah benteng utama perang terhadap narkoba.

Pemimpin Redaksi (Pemred) Padang Ekspres Revdi Iwan Syahputra yang diminta menjadi narasumber dalam raker ini, juga menekankan perlunya aspek pencegahan. ”Wartawan bisa terus menghasilkan karya-karya jurnalistik edukatif terkait upaya pencegahan narkotika. ”Tidak monoton hanya pada peristiwa, namun mampu mengulas lebih jauh dampak kesehatan, hukum dan karirnya,” ujar Ope—panggilan akrab Revdi Iwan Syahputra.

Di perusahaan pers, khususnya Padang Ekspres, menurut Ope, terdapat rubrik khusus terkait kesehatan, termasuk bahaya narkoba dan dampak buruknya bagi kehidupan sosial. Pihaknya juga terus mendorong dan mengarahkan wartawan untuk menulis, dan mengkampanyekan pencegahan, serta pemberantasan narkoba.

Baca Juga:  Asyik Main Judi, Dua Pelaku Diciduk Polisi, Tiga Melarikan Diri

”Jangan biarkan BNN bekerja sendiri, kita harus aktif berkontribusi. Mari sama-sama kita gelorakan perang terhadap narkoba melalui peran masing-masing. Sebagai wartawan tentu lewat karya jurnalistiknya,” harap Ope yang sangat mengapresiasi upaya BNNK Payakumbuh merangkul media massa dalam perang terhadap narkoba.

Tak dipungkiri, tambah dia, sekitar 781 ribu pemberitaan muncul saat diketik ”Berita Narkoba” pada pencarian via platform Google. Namun, hanya sekitar 140 ribu saja ketika dicoba dengan kata ”Berita Pencegahan Narkoba”. Artinya, berita pencegahan narkoba tak seimbang dengan berita peristiwa pengungkapan penyalahgunaan narkoba.

Koordinator Balai Wartawan Luak Limopuluah, Arfidel Ilham yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan ini menilai, wajar saja temuan itu terjadi karena nilai jual beritanya dinilai lebih tinggi ketimbang berita pencegahan. Sebab berita pencegahan, butuh keahlian khusus untuk bisa lebih menarik dikonsumsi pembaca.

”Ke depan, hal ini menjadi tantangan bagi kita sebagai jurnalis, bagaimana mengemas lebih baik lagi berita pencegahan sehingga menarik dibaca pembaca. Terutama menyangkut, dampak negatif narkoba bagi masyarakat dari sisi kesehatan, sosial dan ekonomi,” ucap Arfidel yang juga wartawan Padang Ekspres.

Berdasarkan perbandingan data yang bersumber dari bnn.go.id, kata Arfidel, jumlah kerugian negara akibat narkotika tercatat Rp 84 triliun berdasarkan data tahun 2019. Jika dibandingkan dengan kasus korupsi yang dirilis Indonesian Coruption Watch (ICW) tahun 2020 yang mencatat kerugian negara sebesar Rp 39,2 triliun.

Artinya, kerugian negara akibat narkotika jauh lebih besar. Begitu juga kasus yang tercatat di Payakumbuh. Penghuni LP Kelas II B Payakumbuh didominasi kejahatan penyalahgunaan narkotika.

”Artinya, kita harus terlibat aktif mengambil peran perang terhadap narkoba seperti diumumkan Presiden RI Joko Widodo sejak tahun 2016 lalu itu. Sekarang ini kondisinya darurat. Jika kita diam, siap-siap saja kehancuran pada anak dan lingkungan kita. Tentunya, hal ini juga akan berdampak luas bagi Indonesia masa depan,” ucap Arfidel.

Dia melihat, presepsi masyarakat umumnya sangat tak menguntungkan terhadpa program pencegahan saat ini. Sebab, kejahatan narkoba dianggap tak menakutkan dan tidak memalukan. Sehingga, membutuhkan upaya lebih keras membangun stigma negatif agar pelaku tindak kejahatan narkoba memalukan.

”Begitu juga dengan hukuman yang lebih menakutkan. Artinya, tak ada lagi yang berani berbuat setelah merasakan hukuman kejahatan pertama. Sebab saat ini, tak jarang kita dengar pelaku kejahatan narkoba berulang kali masuk penjara akibat kasus sama, namun tak kunjung jera,” tambahnya.

Artinya, butuh kehati-hatian dalam menulis pemberitaan agar framing berita tak menginspirasi pengguna baru narkotika. ”Apalagi nanti narkoba dianggap sebagai sebuah tren,” tukas dia. (fdl)

Previous articleKuota Jalur Zonasi SD 70 Persen, Pemda Bisa Sertakan Sekolah Swasta
Next articleSuhatri Bur-Rahmang, Energi Baru Padangpariaman