Pertama Masa Pandemi, BP2MI Padang Berangkatkan Pekerja Migran ke Jepang

123

Sebanyak 12 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sumatera Barat diberangkatkan ke Jepang setelah melewati proses pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) selama tiga bulan.

“Ini adalah pengiriman PMI pertama dari Sumbar ke Jepang sejak pandemi melanda. Mudah-mudahan ke depan akan semakin banyak tenaga kerja terdidik kita yang bisa mendapatkan kesempatan serupa,” kata Gubernur Sumbar, Mahyeldi saat melepas PMI ke Jepang di Padang, Jumat (13/8/2021).

Ia mengatakan secara SDM, PMI asal Sumbar sudah sangat memadai untuk bisa bekerja di luar negeri. Kendala yang dihadapi hanya persoalan bahasa.

Karena itu menguasai bahasa asing sudah seharusnya menjadi kewajiban bagi generasi muda saat masih menuntut ilmu di tingkat SMA/SMK apalagi di Perguruan Tinggi. “Ke depan, penguasaan bahasa asing juga akan menjadi perhatian dalam sistem pendidikan kita di Sumbar,” ujarnya.

Ia berpesan, sebagai orang Minangkabau yang memiliki falsafah di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung, PMI yang berangkat harus bisa menyesuaikan diri dengan adat dan kebiasaan di negara tujuan.

Gubernur juga mengatakan pihaknya akan mensingkronkan PMI dengan Minang Diaspora atau perantau Minang yang ada di negara tujuan agar mereka tetap merasa ada yang mengayomi sesama orang dari kampung meskipun di negara tujuan ada lembaga yang akan memberikan perlindungan.

Sementara itu, Kepala UPT BP2MI Padang Bayu Aryadhi mengatakan pemberangkatan tersebut merupakan program BP2MI Padang kerjasama G to G dengan Pemerintah Jepang. Pemberangkatan dilakukan menggunakan protokol kesehatan untuk penerbangan internasional.

Sebenarnya ada 12 orang yang telah dilatih dan akan dikirim ke Jepang, namun satu orang sedang sakit dan seorang lagi ada di Jakarta. Dari 12 orang tersebut, enam merupakan alumni pelatihan bahasa Jepang, kerjasama UPT BP2MI Padang dan BLK Padang. Di Jepang, mereka bekerja sebagai careworker.

Ia menyebut penghasilan masing-masing PMI yang dikirimkan itu di Jepang sekitar Rp12 juta/orang per bulan. Jika yang berangkat 10 orang maka akan menyumbang Rp120 juta per bulan atau setara Rp1,2 miliar setahun sehingga membantu devisa negara.

Ia berpesan agar PMI yang dikirimkan tersebut tidak hidup konsumtif di Jepang, tetapi menabung untuk bekal saat pulang kembali ke Tanah Air. (*)