BPR Mutiara Pesisir: Surplus Likuiditas, Kurangi Pinjaman Antar Bank

69
Direktur utama pt bpr mutiara pesisir sri mulyani (kiri) dan direkturnya arbi syahni (kanan)

Mampu mempertahankan pertumbuhan usaha ditengah perlambatan ekonomi bukanlah perkara mudah bagi sebuah lembaga keuangan. Walau pertumbuhan mulai melambat namun sepanjang tahun 2020 PT Mutiara Pesisir masih mampu menghasilkan pertumbuhan. Total asset tercapai Rp 27,78 Miliar, realisasi Kredit Rp 17,57 Miliar, Dana Pihak Ketiga sebanyak Rp 20,94 Miliar dan Laba Bersih Usaha Rp 303 Juta.

Banyak cara yang dapat ditempuh untuk mengurangi beban biaya sebagai upaya mewujudkan efisiensi. Ada yang memilih meramping biaya operasional dan ada pula yang memilih untuk mengurangi biaya dana atau cost of fund. Kedua langkah ini dilakukan oleh manajemen PT BPR Mutiara Pesisir sepanjang tahun 2020.

“Kita memang ditahun 2020 lebih mengedepankan efisiensi sebagai upaya mempertahankan pertumbuhan usaha dan mengunci pendapatan laba agar tidak jauh melorot akibat sulitnya pasar kredit. Tahun 2020 ini total asset kita tercapai Rp 27,78 Miliar, realisasi Kredit sebanyak Rp 17,57, Dana Pihak Ketiga sebanyak Rp 20,94 Miliar dan Laba Bersih Usaha sebanyak Rp 303 Juta”, ujar Direktur Utama PT BPR Mutiara Pesisir Sri Mulyani yang didampingi oleh Direkturnya Muhammad Abri Syani.

Menurut Sri Mulyani, perlambatan disektor kredit sangatlah terasa sekali ditahun 2020 terutama memasuki Q2/2020 seiring mewabahnya Covid-19. Sepanjang tahun 2020 terjadi pertumbuhan dana yang tak sebanding dengan pertumbuhan kredit. Akibatnya, kita di PT BPR Mutiara Pesisir mengalami surplus likuiditas.

“Dari sisi kedalaman likuiditas ini baik apalagi di saat ekonomi sulit, namun dari sisi operasional dan jangka panjang ini juga tidak menguntungkan. Surplus likuiditas musti dimanfaatkan untuk mengurangi beban termasuk beban dana itu sendiri,” ujar Sri Mulyani.

Surplus likuiditas yang terjadi sepanjang tahun 2020 membuat manajemen harus mencari strategi mengurangi beban dana itu sendiri. Selain berupaya terus memacu kredit ditengah perlambatan ekonomi, penyelesaian kewajiban juga dilakukan demi memperkecil beban dana.

“Kita di tahun 2020 menyelesaikan beberapa kewajiban kepada deposan kita terutama menyelesaian sebagian kewajiban/pinjaman yang diterima. Ini dapat dilihat dari menurunnya pinjaman yang diterima dari Rp 3,97 Miliar ditahun 2019 menjadi Rp 2,80 Miliar di tahun 2020. Artinya, adalah pengurangan pinjaman hampir 30 persen dari total pinjaman yang ada ditahun 2019 yang lalu. Penyelesaian inilah yang diharap bisa ikut berkontribusi untuk menekan beban bunga”, ujar Sri Mulyani.

Secara kinerja asset PT BPR Mutiara Pesisir ditahun 2020 masih mampu bertumbuh meskipun pertumbuhannya mulai melandai. Sepanjang tahun 2020 PT BPR Mutiara Pesisir total asset tercapai Rp 27,78 Miliar atau tumbuh sebesar 6,13 persen dibandingkan realisasi asset tahun 2019 yang lalu dengan realisasi sebesar Rp 26,18 Miliar.

Baca Juga:  Digitalisasi Penting untuk Kembangkan Bisnis

Dari dua fungsi utama, sector dana masih memberikan pertumbuhan positif sedangkan kredit relative konstan secara year on year.

Dana Pihak Ketiga

Dari dua produk penghimpun dana, baik tabungan maupun deposito sama sama memberikan pertumbuhan. Total dana tabungan yang mampu dihimpun selama tahun 2020 tercatat sebanyak Rp 12,94 Miliar atau tumbuh dibandingkan realisasi dana tabungan tahun 2019 yang lalu dengan realisasi sebesar Rp 12,40 Miliar. Sedangkan dana deposito selama tahun 2020 terkumpul sebanyak Rp 8,01 Miliar atau tumbuh lebih 30 persen dibandingkan deposito tahun 2019 yang lalu.

Bertumbuhnya dana sepanjang tahun 2020 linier dengan peningkatan beban bunga yang musti dipikul BPR Mutiara Pesisir. Total beban bunga yang musti ditanggung sepanjang tahun 2020 tercatat sebanyak Rp 965 Juta. “Jika kita tak melakukan pelunasan sebagian pinjaman yang diterima tentulah beban bunga jauh akan lebih besar lagi,” ujar Sri Mulyani.

Melambatnya ekonomi di sector ril dan melorotnya daya beli masyarakat sepanjang tahun 2020 berdampak kepada kemampuan BPR Mutiara Pesisir dalam mendistribusikan kredit.

“Kinerja kredit kita selama tahun 2020 dapat dikatakan relative konstan. Tahun 2020 total kredit yang mampu kita salurkan sebanyak Rp 17,57 Miliar atau nyaris sama dengan realisasi kredit tahun 2019 yang lalu,” ucap Sri Mulyani.

Relatif konstannya realisasi kredit berbanding lurus dengan pendapatan bunga yang mampu dibukukan. Total pendapatan bunga BPR Mutiara Pesisir selama tahun 2020 tercapai sebesar Rp 3,66 Miliar atau nyaris sama dibandingkan pendapatan bunga tahun 2019 yang lalu.

Perlambatan ekonomi akibat Covid-19 yang mendera kita sepanjang tahun 2020 meninggalkan “pekerjaan rumah“ tersendiri bagi BPR Mutiara Pesisir ditahun 2021 ini. Sejumlah indikator kualitas usaha musti mendapat perhatian serius demi mengembalikan kinerja ke trend positif.

“Target kita di tahun 2021 ini memang lebih diarahkan pada peningkatan kualitas usaha terutama dalam memperbaiki kualitas aktiva produktif, pengendalian biaya sambil terus memacu usaha dengan memaksimalkan realisasi kredit. Untuk itu sejumlah langkah strategis telah disiapkan dan dituangkan dalam Rencana Bisnis Bank tahun 2021 ini”, ujar Sri Mulyani.

Dari data yang dimiliki Padang Ekspres, PT BPR Mutiara Pesisir merupakan salah satu BPR yang memiliki segmen pasar khusus. BPR yang berada di bawah naungan Kementerian Perikanan dan Kelautan ini menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk peningkatan ekonomi masyarakat pesisir pantai, terutama di kawasan Tiku, kabupaten Agam dan wilayah pesisir pantai terdekat lainnya. Selain menyalurkan kredit untuk masyarakat pesisir pantai, BPR Mutiara Pesisir juga ikut melaksanakan program pemberdayaan ekonomi yang digulirkan Kementerian Kelautan dan Perikanan. (two)

Previous articleKemenparekraf Intip CHSE MICE di Bukittinggi dan Puncak Lawang
Next articleASN Wajib Salat Subuh Berjamaah, Andre Rosiade Bela Wako Bukittinggi