Buku setebal 272 halaman tersebut merupakan karya Yose Hendra, alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (Unand), yang mengulas praktik pengetahuan lokal masyarakat Sumatera Barat dalam menghadapi ancaman bencana.
Dalam kesempatan itu, Fadly Amran menyampaikan apresiasi terhadap karya literasi yang mengangkat perspektif budaya dalam mitigasi kebencanaan.
Ia menilai bahwa pendekatan kultural merupakan elemen penting yang tidak dapat dipisahkan dari strategi mitigasi bencana, terutama di daerah yang memiliki kekayaan tradisi dan nilai adat seperti Sumatera Barat.
“Buku ini menjadi referensi penting untuk memperkuat literasi kebencanaan, sekaligus menghidupkan kembali peran budaya sebagai fondasi ketangguhan masyarakat. Mitigasi bencana tidak hanya soal teknologi, tetapi juga memerlukan kekuatan budaya dan nilai-nilai lokal dalam membangun ketahanan masyarakat,” jelas Fadly Amran dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Ikatan Kekerabatan Antropologi Universitas Andalas (IKA UA) tersebut.
Fadly Amran juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Padang untuk terus mendukung tumbuhnya karya literasi, khususnya dari para penulis lokal. Ia menyebutkan bahwa berbagai program di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang akan terus diarahkan untuk memperkuat ekosistem literasi.
“Kami akan terus mendorong dan mendukung para penulis melalui berbagai program di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang. Kegiatan literasi seperti ini perlu digalakkan untuk menumbuhkan semangat menulis sekaligus memperkaya khazanah pengetahuan masyarakat,” tuturnya.
Ketua IKA FISIP Unand, Yefri Heriani, mengatakan bahwa bedah buku ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai mitigasi bencana berbasis kearifan lokal. Ia menilai buku tersebut memiliki pendekatan antropologis yang kuat sehingga penting untuk didiskusikan secara lebih luas.
“Gaya penulisan buku ini sangat antropologis, sehingga layak untuk dibedah dan didiskusikan. Buku ini juga menunjukkan bahwa pengetahuan lokal merupakan bagian penting dalam mitigasi bencana di Sumatera Barat yang dikenal sebagai etalase bencana,” ujarnya.
Sementara itu, penulis buku, Yose Hendra, menjelaskan bahwa karya tersebut merupakan hasil kajian di sejumlah daerah di Sumatera Barat yang memiliki tradisi dan nilai adat dalam menghadapi bencana. Menurutnya, kearifan lokal memainkan peran besar dalam penyebaran pesan mitigasi.
“Buku ini menunjukkan bahwa pesan mitigasi dapat disampaikan melalui tradisi, nilai adat, hingga kesenian. Hal tersebut diharapkan dapat mendukung pemerintah dan masyarakat dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi berbagai jenis bencana,” terangnya.
Kegiatan bedah buku tersebut diikuti oleh para akademisi, mahasiswa, pegiat literasi, dan berbagai unsur masyarakat yang antusias mendiskusikan gagasan mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.(*)
Editor : Heri Sugiarto