Ikuti Kisah Cerbung Berbahasa Minang: Indak Talok Den Kanai Ati

Penulis novel, Firdaus Abie (kanan) ketika memberikan pelatihan literasi di salah satu sekolah beberapa waktu lalu. (Foto: dok.pri)

Di saat wabah virus vorona (Covid-19) merajalela, sebuah terobosan dilakukan Harian Umum Rakyat Sumbar (media grup padek.co yang terintegrasi dengan padek.jawapos.com).

Direncanakan, Senin (13/4), sebuah rubrik baru dihadirkan untuk memanjakan pembaca. Cerita bersambung (cerbung) berbahasa Minang. Judulnya, “Indak Talok Den Kanai Ati”.

“Harapan kami, semoga cerita bersambung ini bisa menjadi bacaan alternatif bagi pembaca dan pelanggan,” kata Jhon Kenedy, Redaktur Pelaksana Harian Umum Rakyat Sumbar, saat rapat redaksi secara online dengan tim kerjanya, Jumat (10/4).

Cderbung ini, sebenarnya berupa novel. Semula akan diterbitkan dalam bentuk buku. Proses penerbitannya sedang digarap. Namun dalam diskusi tim redaksi, akhirnya sang penulis, Firdaus Abie, menyerahkan novel tersebut dimuat terlebih dahulu dalam bentuk cerbung.

Kata Jhon Kenedy, sang penulis tak khawatir terhadap karyanya tersebut. Sekali pun sudah dimuat dalam bentuk cerbung, namun ia tetap optimistis ketika dicetak nantinya jadi buku akan tetap ada yang mencarinya.

“Masing-masing ada pasarnya,” kata Firdaus Abie, yang juga General Manager dan Pemimpin Redaksi Harian Umum Rakyat Sumbar.

Firdaus Abie kemudian “membocorkan” naskahnya. Cerita yang ditulisnya, selesai tahun lalu. Ia menggarap naskah tersebut di sela kesibukan hariannya di Harian Umum Rakyat Sumbar.

“Butuh waktu tiga tahun untuk menyelesaikannya,” kata Firdaus Abie, yang juga seorang pegiat literasi ini.

Ia merencanakan dan memulainya tahun 2016. Belum tuntas naskahnya ditulis, ia dihadapkan pada kesibukan harian, sehingga naskah tersebut sempat terbengkalai. “Digarap lagi, terbengkalai lagi. Begitu selalu. Akhirnya baru selesai, November 2019,” imbuhnya.

Cerbung ini memiliki setting remaja. Seorang anak yang mulanya dipandang sebelah mata oleh lingkungannya, justru termotivasi untuk membuktikan bahwa pandangan tersebut keliru. Ia jadikan gangguan tersebut sebagai ujian, lalu berlari untuk terus mengejar mimpiannya.

Kisah dibangun dengan menggabungkan kritik sosial dalam persahabatan dan keirian, memandang sesuatu sebelah mata, ada sikap egois dan keculasan di dunia pendidikan.

Tak selamanya dunia pendidikan mendukung keberhasilan anak didiknya secara sempurna. Anak-anak berprestasi, apalagi jika berprestasi non-akademik, cenderung dianggap telah mengabaikan hakikat pendidikan sesungguhnya.

Pergulatan itu harus dilawan seorang anak lelaki dari keluarga kurang mampu.
Firdaus Abie menyebutkan, bahasa dalam kisah tersebut adalah bahasa Minang yang dipakai sehari-hari di Padang.

Sekali-kali disela oleh bahasa Minang dialek rang Pariaman. Ada juga bahasa Minang dari daerah lain di Sumbar. “Bacampua aduak se-nyo,” kata Firdaus Abie, penulis novel “Cincin Kelopak Mawar” itu.

Lahirnya novel berbahasa Minang tersebut, katanya, bermula dari keisengannya mengisi hari luang. Saat senggang, ia membuka cadangan naskahnya. Ketika itu, beberapa bulan sebelumnya, dia baru saja menyelesaikan sebuah novel, namun belum dicetak.

Ia kemudian iseng mengalihbahasakan satu paragraf ke bahasa Minang. Setelah itu dua paragraf, tiga paragraf hingga tak disadarinya selesai satu judul naskah. Setelah itu, dilanjutkannya hingga tuntas.

Ia pernah menulis cerpen, dialognya ditulis dalam bahasa Minang. Cerpen itu, ditulis tahun 2007, lalu diikutkan pada Sayembara Cerpen A.A Navis Award, kerja sama UNP dengan Deakin University, sebuah universitas negeri di Victoria, Australia.

Semua dialog ditulis dalam bahasa Minang. Cerpen berjudul “Cincin Kelopak Mawar” tersebut ditetapkan juri sebagai Juara II. Belakangan, cerpen tersebut dikembangkan menjadi sebuah novel. Judulnya tak berubah. Dialognya tetap menggunakan bahasa Minang.(rel/esg)