Pegiat Literasi Sumbar dan Sulteng Hadiri Literasi Konservasi

36

Namanya Mamen. Dia berasal dari Palu, Sulawesi Tengah. Sejak lima bulan lalu, ia berkeliling Indonesia sebagai seorang backpacker.

Setibanya di Pekanbaru, ia berminat dan mengikuti Literasi Konservasi yang ditaja Komunitas Seni Rumah Sunting, 9-11 April 2021 di Desa Cipang Kanan, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rohul.

Selain Mamen, Literasi Konservasi ini juga diikuti lima pegiat literasi dari Sumbar. Di antara mereka ada jurnalis, penulis, pelukis dan pegiat literasi.

Kelima orang tersebut adalah Arbi Tanjung (pendiri Komunitas Ladang Raso Pasaman Timur), Ubaidillah Al Ansori (Redaktur Budaya Rakyat Sumbar), Akhmad Suwistyo, Febri Putra One Ilahi dan Siddiq.

Kelima-limanya menerobos jalur perbatasan melewati Kecamatan Rao, terus ke Desa Rumbai, dan masuk Desa Cipang Kanan.

Selain Mamen, Arbi Tanjung dkk, juga hadir puluhan peserta lain dari berbagai kabupaten di Riau.

Mereka antara lain, Lenggok Media Rohul (Nuratika dkk), Gedau Production Pelalawan (Icamp Dompas dkk), Papala Padang Sawah Kampar Kiri (Kasmono dkk), Laskar Pegiat Ekowisata Riau (Gober dkk), Salmah Creative Writing (Siti Salmah), DR Hermawan An (dosen dan sastrawan), Union Adventure (Nanda), Jungle Ghost Riau (Dedy), Komunitas Menulis Kreatif Rokan Hulu (Suyatri dkk), dan SMAN 04 Ujung Batu Rohul (Kepsek Lisa Armis).

Peserta Literasi Konservasi dengan tema ‘Cipang, Aku Pulang’ yang berasal dari berbagai komunitas dan daerah ini rata-rata penulis, pegiat sastra, wisata, budaya, guru, pelajar dan kepala sekolah. Lengkap, dari usia dini sampai usia lebih setengah baya.

Selama tiga hari dua malam itu, peserta diinapkan di satu rumah milik mertua Kepala Desa Cipang Kanan.

Mereka berdiskusi dan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan. Saat tiba di Desa Cipang Kanan dan turun mobil double kabin milik Inhutani yang mengantarkan mereka, peserta langsung disambut Kepala Desa, Abadi, dan segenap Datuk Ninik Mamak serta masyarakat Cipang Kanan.

Malam harinya, mereka mengikuti kegiatan Literasi Konservasi di los pasar Dusun Kubang Buaya.

Sabtu atau di hari kedua, peserta mengikuti perjalanan ke destinasi wisata Air Terjun Sarosah Tinggi yang terletak di Dusun Batas. Perjalanan yang panjang, berangkat pukul 10.00 dan kembali ke Kubang Buaya pukul 21.00 WIB.

Selama peserta ke air terjun, sebagian panitia tinggal di desa dan melakukan edukasi konservasi melalui seni khusus untuk anak-anak.

“Cipang Kanan sangat menggugah. Alamnya indah, adat istiadat ya terjaga baik Kami diajak keliling Cipang Kanan, menyaksikan tradisi dan budaya dan yang paling enak gulai pucuk getah. Ini sitimewa dan harus dipertahankan. Semua yang kami makan, kami lihat, kami rasakan semua dari Cipang Kanan Ini harapan kami sampai kapanpun,” kata Arbi Tanjung.

Mamen sendiri berharap agar perjuangan keras menjadikan Desa Cipang Kanan sebagai Desa Budaya dan Wisata, harus terus dikawal. Jangan berhenti di tengah jalan atau terbiar.

“Saya banyak melihat tempat wisata yang dibuka akhirnya terbiar kan, karena tidak dikawal. Di Cipang Kanan jangan sampai terjadi begini. Saya senang dan bangga bisa datang ke Cipang Kanan ini,. Saya benar-benar beruntung. Masyarakatnya ramah-ramah dan anak-anak di sini sangat bersemangat,” kata Mamen.

Perjalanan di hari kedua, Mamen, Arbi dkk dibawa ke Air Terjun Sarosah Tinggi. Meski dari air terjun sudah pik 21.00 WIB, tapi DR Hermawan tetap hadir di acara Panggung Konservasi malam itu.

Berbagai seni ditampilkan, baik dari peserta maupun masyarakat desa di tiga dusun yang ada di desa tersebut, yakni Dusun Kubang Buaya, Kersik Putih dan Kampung Batas. Ada seni tari, musik, lagu, sastra lisan marotik, silat, oguong, musikalisasi puisi dan pembacaan puisi.

Los pasar yang berada di jantung Desa Cipang Kanan selama dua malam itu pun penuh, tumpah ruah. Masyarakat dari desa lain juga berdatangan termasuk dari desa-desa Sumbar yang berada di perbatasan.

“Saya sangat bangga dengan adanya kegiatan Literasi Konservasi ini. Ke depan Insyaallah akan lebih kami tingkatkan untuk kemajuan Cipang Kanan,” kata Abadi.

Sementara itu, Founder of Rumah Sunting yang juga pembina, mengatakan, kegiatan Literasi Konservasi dilaksanakan untuk menguatkan rasa cinta masyarakat kepada alam dan budaya.

“Desa Cipang Kanan ini desa terluar di Riau yang berbatasan langsung dengan Desa Rumbai, Kecamatan Mapat Tunggal, Sumbar. Maka, Literasi Konservasi yang kita laksanakan ini juga disaksikan masyarakat Sumbar yang ada di perbatasan itu, selain Arbi Tanjung dkk. Untuk apa, untuk menguatkan cinta masyarakat kepada alam dan budayanya. Jangan sampai rusak, jangan sampai hilang,” kata Kunni.

Kunni dan keluarga besar Rumah Sunting melaksanakan kegiatan ini tidak sendiri. Dukungan banyak pihak, kata Kunni, adalah hal utama yang menyebabkan kegiatan ini bisa terlaksana.

“Ke Cipang Kanan ini sulit, jauh. Jalan buruk, sinyal susah, anak-anak banyak. Mereka juga perlu hiburan dan edukasi yang lebih tentang banyak hal, termasuk tentang pentingnya literasi konservasi yakni memahami dengan dalam tentang pentingnya menjaga alam dan budaya. Mereka ini pelakunya, pemiliknya dan penjaganya. Terjaga alam dan budaya Cipang Kanan, terjaga Riau, terjaga Indonesia,” beber Kunni.

Kuni mengaku sangat berterimakasih Kepada Kepala Desa Cipang Kanan yang menyambut dan memfasilitasi kegiatan ini dari awal hingga akhir.

Tentunya juga kepada masyarakat Cipang Kanan. Begitu juga kepada Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Kementerian LHK RI yang menfasilitasi transportasi sekaligus memberikan edukasi tentang Rehabilitasi Hutan Lindung (RHL) saat diskusi di malam pertama di desa tersebut.

“Kerja kolektif, kolaboratif ini yang paling penting. Rumah Sunting tidak bisa sampai ke Cipang Kanan, tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dukungan banyak pihak, terutama Pak Kades Abadi yang semangat luar biasa. Saya salut, dan dia sosok yang layak dicontoh dalam upaya membangun desa yang berkarakter,” kata Kunni Lagi.

Kegiatan diakhiri dengan Ziarah Budaya ke rumah istri Raja Rokan Kedua Tuanku Ibrahim, yaitu Siti Soleha di Dusun Kersik Putih serta penanaman pohon kehidupan. Selama Ziarah Budaya, peserta disuguhi tarian dan musik tradisional Gondang Oguong. Saat itu juga peserta ikut menari bergembira ria sambil mengeluarkan uang sukarela untuk penari cilik tersebut. (rel)

Previous articleTerapkan Prokes Ketat, Dimulai Hari Ini, UNP Gelar UTBK Gelombang 1
Next articleAndre Rosiade Bawa 7 Kepala Daerah Temui Menteri Koperasi & UMKM