PADEK.JAWAPOS.COM-Korban keracunan yang diduga karena menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dharmasraya terus bertambah.
Sebab, selain di SMA 1 Sungairumbai, murid-murid dari Pondok Pesantren Nurul Izzah Sungairumbai pun menjadi korban. Di SMA 1 Sungairumbai saja hingga kemarin tercatat 154 siswa yang diduga keracunan.
Itu belum termasuk 11 orang guru, satu orang tenaga Tata Usaha (TU) dan satu orang pesuruh kantor.
Sedangkan dari Pondok Pesantren Nurul Izzah ada 12 korban. Mereka diduga keracunan setelah memakan menu MBG Selasa (3/2) lalu.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Izzah Jamal Oktopa kepada Padang Ekspres, kemarin.
“Mereka merasakan pusing, mual dan sejenisnya, mulai sore hari (Selasa, 3/2). Dan kita langsung beri pertolongan. Alhamdulillah kondisi mereka sudah membaik. Mungkin karena anak-anak tinggal di asrama, sehingga kita cepat tahu kondisi anak-anak dan segera diberikan pertolongan,” ucapnya.
Setelah mencuatnya dugaan keracunan tersebut, sekolah tidak lagi mau menerima MBG.
“Karena anak-anak tinggal di pondok pesantren, jadi makan mereka kita masak sendiri. Ada atau tidak ada MBG kita tetap sediakan makan untuk anak-anak. Apa lagi sudah ada kejadian seperti ini,” kata dia.
Terpisah, Kepala Sekolah SMA I Sungai Rumbai Rini Susila menyatakan, sampai Rabu (4/2) pukul 23.00 WIB, jumlah siswa yang terdampak sekitar 154 siswa. Selain itu ada juga 11 guru, satu tenaga tata usaha dan seorang pesuruh kantor.
“Bahkan ada siswa kita yang rawat inap dan sudah diperbolehkan pulang. Namun sampai di rumah, anak kita kembali ke RSUD untuk menjalani perawatan rawat inap. Hal itu disebabkan kondisi anak masih belum stabil,” tuturnya.
Dengan mencuatnya kasus ini, pihak sekolah tidak lagi menerima MBG. “Saya dapat informasi MBG dihentikan sementara.
Walaupun masih didistribusikan ke sekolah, tentu anak-anak berpikir untuk mengonsumsinya. Anak-anak masih trauma,” tegasnya.
Mie Sudah Bau
Menurut salah seorang korban dugaan keracunan MBG yang tidak mau identitasnya disebutkan, saat menu MBG datang sekitar pukul 11.30 WIB, sudah dalam kondisi bau. Namun karena makan bersama-sama, MBG tersebut tetap di konsumsi.
“MBG berupa mie itu ada dua jenis. Mie basah dan mie biasa. Saat saya konsumsi mie tersebut pedasnya luar biasa. Tapi ya tadi, karena makan-makan bersama akhirnya habis juga,” ujarnya.
Sebagaimana diberitakan Padang Ekspres kemarin, ibu-ibu hamil pun menjadi korban dugaan keracunan tersebut. Yakni sebanyak lima orang.
Berhentikan Sementara
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Dharmasraya Jasman Rizal menyampaikan, Badan Gizi Nasional (BGN) resmi memberhentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dharmasraya Sungairumbai.
Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Badan Gizi Nasional Nomor 297/D.TWS/02/2026 tertanggal 4 Februari 2026 yang ditujukan kepada Kepala SPPG Dharmasraya Sungairumbai.
“Penghentian operasional bersifat sementara. Dilakukan dalam rangka investigasi lanjutan serta menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” ucapnya.
”Kami berharap secepatnya hasil lab tersebut keluar. Kalau keluar malam (Kamis, 5/2), semalam-malam hari hasil itu akan kita umumkan,” tegasnya.
Hanya saja, terkait berapa data pasti korban keracunan yang diduga karena menyantap menu MBG ini, dia belum bisa menjawabnya.
Ketika kembali dihubungi pukul 20.02 WIB, ia menjawab panggilan Padang Ekspres. Namun selanjutnya Jasman menegaskan jika suara yang didengarnya terputus-putus.
Begitupun saat Padang Ekspres konfirmasi kepada Direktur RSUD Sungairumbai Sujito, via WhatsApp dan telepon, yang bersangkutan berjanji akan segera mengirimkan data pasien dugaan keracunan MBG yang khusus datang berobat ke RSUD Sungai Rumbai.
Baca Juga: BREAKING NEWS: Gunung Marapi Erupsi Kamis Malam, Kolom Abu 3.000 Meter
Namun sampai berita ini di tulis, Sujito belum mengirimkan data tersebut. Hal yang sama juga tak didapat dari Kepala Dinas Kesehatan Dharmasraya Yosta Defina.
Ia juga berjanji akan mengirimkan data detail perkembangan jumlah korban. Namun data tersebut juga tidak dikirim hingga berita ini ditulis.
Pastikan Sesuai Ketentuan
Dugaan kasus keracunan MBG ini kembali menjadi warning untuk penyelengara dan pemerintah, terkait bagaimana harus menjamin keamanan dan kesehatan makanan yang akan disantap penerima.
Ahli gizi Zuhrah Taufiqa mengatakan dugaan keracunan ini menunjukkan bahwa keamanan pangan harus menjadi prioritas utama dalam setiap penyediaan makanan. Terutama bagi anak sekolah, generasi penerus bangsa.
“Program MBG memiliki tujuan baik, yaitu meningkatkan status gizi anak, tetapi implementasinya harus diiringi dengan sistem pengawasan yang kuat. Terutama pada bahan baku, proses pengolahan, kebersihan dapur, dan distribusi makanan,” katanya kepada Padang Ekspres, Kamis (5/2).
Makanan bergizi, sebut dia, tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan variasi dan komposisi nutrisinya, tetapi harus aman dari kontaminasi dan diolah dengan standar higiene yang tepat.
Untuk optimalnya dampak yang ingin diperoleh dari program MBG ini, ia menyarankan agar masyarakat dan penyedia makanan, termasuk sekolah, menerapkan prinsip keamanan pangan dan gizi seimbang dalam setiap penyajian makanan.
Terkait itu hal pertama yang perlu diperhatikan adalah penggunaan bahan pangan yang segar dan berkualitas tinggi.
Pemilihan bahan harus dilakukan dengan cermat, termasuk memeriksa tanggal kedaluwarsa dan memastikan seluruh kondisi bahan mentah masih baik.
“Setiap proses pengolahan makanan harus mengikuti prinsip higiene sanitasi, seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah menyiapkan makanan, menjaga kebersihan peralatan dan lingkungan kerja, serta menggunakan air bersih yang layak untuk mencuci maupun memasak,” ucapnya.
Zuhrah menekankan, sangat penting membangun Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan pangan yang jelas.
Mulai dari penyimpanan makanan pada suhu yang aman, adanya daftar periksa kebersihan dapur, hingga dokumentasi harian yang dapat dipantau.
“Para petugas perlu mendapatkan pelatihan rutin agar memahami teknik pengolahan yang aman. Pengujian makanan secara berkala oleh petugas kesehatan atau laboratorium, terutama pada program pemerintah, perlu dilakukan untuk memastikan tidak terjadi kontaminasi bakteri atau zat berbahaya lainnya,” tambahnya.
Tidak kalah penting, sambung dia, edukasi kepada masyarakat dan sekolah harus diperkuat mengenai prinsip gizi seimbang dan keamanan pangan.
Termasuk cara memilih serta menyimpan bahan makanan dengan benar dan mengenali tanda-tanda makanan yang sudah tidak layak konsumsi. (ita/yud)
Editor : Novitri Selvia