Hingga Minggu (8/2/2026), sedikitnya 221 orang dilaporkan menjadi korban, mulai dari siswa SMA Negeri 1 Sungai Rumbai, santri pondok pesantren, balita, ibu hamil, hingga lansia.
Kasus yang bermula pada Rabu (4/2/2026) ini tidak lagi dipandang semata sebagai insiden kesehatan, melainkan telah berkembang menjadi persoalan kepercayaan publik.
Hal tersebut menyusul sikap Pemerintah Kabupaten Dharmasraya yang dinilai sebagian masyarakat masih pasif dan minim penjelasan substantif terkait perkembangan penanganan kasus.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Dharmasraya, Jasman Rizal, menyatakan bahwa hasil uji laboratorium akan diumumkan secepatnya setelah sampel dikirim untuk pemeriksaan. Namun, hingga Minggu (8/2/2026), hasil tersebut belum disampaikan secara resmi kepada masyarakat.
Kondisi ini memicu pertanyaan dari sejumlah orang tua korban. Salah seorang wali murid, yang enggan disebutkan namanya, mempertanyakan kepastian sumber dugaan keracunan yang menimpa anaknya.
“Kami hanya tahu anak kami muntah-muntah dan dirawat. Setelah itu, tidak ada penjelasan apa pun. Situasi ini menimbulkan pertanyaan, apakah benar uji sampel laboratorium sudah dilakukan atau belum,” ujarnya.
Hal senada disampaikan wali murid lainnya. Ia menilai hingga kini belum ada penjelasan resmi dari Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mengenai jumlah pasti korban, hasil uji laboratorium, maupun bentuk penanganan lanjutan terhadap para korban.
“Sikap pemerintah daerah ini terkesan lebih memilih meredam isu ketimbang mengungkap fakta. Korbannya sudah ratusan orang, dan sikap diam justru menimbulkan kesan kelalaian. Negara seharusnya hadir dengan data, bukan dengan kebungkaman. Kami hanya ingin kepastian. Kalau memang dari makanan, sampaikan. Kalau bukan, jelaskan secara terbuka,” katanya dengan nada kecewa.
Di sisi lain, upaya konfirmasi yang dilakukan media kepada sejumlah pejabat terkait juga belum membuahkan kejelasan. Ketika ditanya mengenai jumlah korban dan perkembangan penanganan, tidak ada pejabat yang bersedia memberikan data secara rinci.
Plt Sekdakab Dharmasraya disebut mengarahkan pertanyaan kepada Dinas Kesehatan, sementara Kepala RSUD Sei Rumbai, Sujito, yang sebelumnya berjanji akan menyampaikan data korban, hingga berita ini diturunkan belum memberikan keterangan resmi.
Belum adanya transparansi data dan hasil uji laboratorium tersebut membuat publik berharap pemerintah daerah segera menyampaikan informasi secara terbuka guna menghindari spekulasi serta memulihkan kepercayaan masyarakat. (ita)
Editor : Adetio Purtama