Dipicu Kesulitan Ekonomi Dampak Pandemi, Kasus Gizi Buruk Meningkat

ilustrasi gizi buruk. (net)

Pandemi Covid-19 yang sudah genap setahun di Indonesia juga berdampak pada kesehatan balita. Kasus gizi buruk atau gizi kurang pada balita di Kota Padang cenderung meningkat selama pandemi Covid-19.

Koordinator Promosi Kesehatan Puskesmas Andalas, Yusmarni mengakui pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap pemenuhan gizi balita. Sehingga permasalahan gizi pada anak di masa pandemi meningkat.

Berdasarkan data di Puskesmas Andalas pada tahun 2019, ada 13 orang terindikasi mengalami kasus kekurangan gizi (gizi buruk dan gizi kurang). Itu tersebar di 5 kelurahan di Kecamatan Padang Timur seperti Kelurahan Jati 7 orang, Kelurahan Simpangharu 1 orang, Kelurahan Sawahan 1 orang, Kelurahan Andalas 3 orang dan Kelurahan Sawahan Timur 1 orang.

Ia menjelaskan secara umum kasus gizi buruk ini bukan hanya karena kekurangan asupan gizi melainkan juga adanya kelainan bawaan sejak lahir atau penyebab lain. Artinya pada tahun 2019 itu, sepenuhnya tidak semuanya gizi buruk. Karena gizi buruk indikatornya berat badan berkurang atau menyusut.

“Artinya dari 13 orang itu, 6 orang bisa dikatakan betul-betul murni terkena gizi buruk dan selebihnya kelainan bawaan sejak lahir atau penyebab lain,” katanya kepada Padang Ekspres, Selasa (2/3).

Pada tahun 2020, juga terjadi penambahan kasus menjadi 7 orang yang betul-betul murni terkena gizi buruk. Dibandingkan pada tahun 2019 yang hanya 6 orang. Itu tersebar di Kelurahan Parakgadang Timur 1 orang, Kelurahan Andalas 1 orang, Kelurahan Parakkarakah 4 orang, Kelurahan Sawahan 1 orang. Penyebabnya masalah ekonomi, pola makan, dan pola asuh.

“Mungkin pada tahun 2020 ini dilihat dari status sosial ekonomi atau ekonomi rendah dampak dari pandemi Covid-19 menyebabkan data kasus gizi buruk meningkat, karena pada umumnya berasal dari orangtua yang berpenghasilan menengah ke bawah,” terangnya.

Di samping itu, Yusmarni menyebutkan ada beberapa faktor penyebab kekurangan gizi atau gizi kurang seperti ketidaktahuan orangtua tentang gizi, tingkat sosial ekonomi yang rendah, kebersihan lingkungan yang buruk dan menderita penyakit tertentu atau penyebab lain.

Sejauh ini upaya yang dilakukan Puskesmas Andalas dalam menekan kasus gizi buruk yakni sejak tahun 2019 sudah melaksanakan program Rumah Gizi di Kelurahan Kubu Dalam Parak Karakah dan sudah dikembangkan juga di Kelurahan Jati dan Kelurahan Andalas.

Selain itu, Puskesmas Andalas juga mempunyai inovasi aplikasi seperti Ayo Ceting atau Ayo Cegah Stunting yang dapat memantau tumbuh kembang anak, hingga fitur edukasi soal anak yang sesuai standar Kementerian Kesehatan.

Baca Juga:  Sembako Mulai Merangkak Naik

“Di aplikasi Ayo Ceting itu bisa dilakukan pemantauan tumbuh kembang bayi balita hingga ibu hamil. Biasanya tiap kelurahan pembina wilayah langsung memantau. Nanti untuk di tingkat puskesmas bisa juga konsultasi dengan dokter anak terkait dengan kasus gizi buruk,” urainya.

Lebih lanjut dikatakan, di Puskesmas Andalas selama pandemi Covid-19 dari awal tahun 2020 sampai bulan April tetap melakukan kegiatan posyandu. “Namun, pada bulan Mei-Juli kita betul-betul tutup tidak melaksanakan posyandu karena kasus Covid-19 sangat tinggi. Dan pada bulan Agustus kembali mengadakan posyandu sampai sekarang dengan prokes yang ketat dan juga dibantu oleh Dinas Kesehatan Kota Padang,” bebernya.

Sementara itu, Ahli Gizi Puskesmas Nanggalo, Noli Novianda mengatakan, selama pandemi Covid-19 atau pada tahun 2020, pihaknya menangani 2 kasus balita gizi buruk. “Ada 2 orang. Tidak rawat inap, tapi rawat jalan, cuma kalau sekarang keadaannya sudah mulai membaik. Untuk sekarang masih kita pantau dengan ada petugas yang mendatangi rumah mereka,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, hal tersebut dikarenakan faktor ekonomi keluarga yang menyebabkan anak kurang nutrisi. Asupan makanan anak tidak seimbang dan mengakibatkan gizi buruk.
“Gizi buruk terjadi bukan hanya karena kurang nutrisi pada anak. Namun juga di masa kehamilan sang ibu kekurangan asupan dan nutrisi dimana juga berpengaruh dengan perkembangan tumbuh anak,” ujarnya.

Ia menyebutkan, selama pandemi Covid-19 di Puskesmas Nanggalo kegiatan posyandu tidak dibuka. Dengan sebab itu, kegiatan pemantauan pertumbuhan menjadi kurang maksimal.

“Kita sebenarnya jalan. Tapi kegiatan posyandu tidak buka menghindari kerumunan, jadinya proses tidak maksimal. Karena semua anak tidak memberikan perkembangannya,” sebutnya.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk di antaranya status sosial ekonomi, ketidaktahuan ibu tentang pemberian gizi yang baik untuk anak dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

“Anak balita (0-5 tahun) merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi atau termasuk salah satu kelompok masyarakat yang rentan gizi,” bebernya.

Di sisi lain, lanjutnya antusiasme peserta posyandu di Puskesmas Nanggalo, hampir sama dengan sebelum pandemi Covid-19. Untuk kali ini, Kader posyandu telah melakukan sweeping balita ke rumah warga agar pemberian vitamin A kepada anak.

“Kami juga memberikan edukasi dan sosialisasi seperti pemberian makan bayi dan anak melalui konseling gizi dan juga melakukan pemantauan pertumbuhan setiap bulannya,” tandas Noli. (r)

Previous articlePelaku Jambret di 18 Lokasi Ditangkap
Next articleDitimpa Pohon Tumbang, Tiga Rumah dan 3 Mobil Rusak