SANG GURU: Belasan Tahun Ramlan Ngajar di Desa Terpencil, Demi Siswa

38
TANPA LELAH: Ramlan memanen hasil ladangnya.(IST)

Ia diam terpaku. Ia pandang langit di atas. Debar hatinya makin keras. Lama ia berpikir. Menerima atau tidak? Kalau ia terima tawaran menjadi guru dan diangkat dengan golongan II/A dengan gaji Rp 16 ribu di waktu itu, artinya apa? Itu artinya ia harus mengajar di pelosok nagari yang tak bisa dilewati dengan jalan darat. Harus lewat laut.

Harus bersampan-sampan. Harus kuat menahan badai dan gelombang gadang. Apakah anak muda yang baru tamat dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Painan Pesisir Selatan itu akan sanggup?

Bila SK pengangkatan jadi guru yang sudah tiba di tangannya ini ia tolak, itu berarti ia telah mengkhianati cita-cita sendiri yang telah ia bangun sejak lama. Bukankah ia memilih masuk SPG karena ingin menjadi guru? Bukankah begitu? Anak muda itu berpikir lama. Ia mengangguk-angguk sendiri seraya menikmati segelas kopi pagi nan hangat sekali.

Ia berjalan. Ia melangkah. Ia menengadah ke langit-langit. Ingin benar ia berharap suara hati jatuh dari atas dan terlaksana melalui langkah-langkah kaki guna mewujudkan cita-cita yang sudah lama ia bangun sendiri.

Cita-citanya satu; adalah jadi guru!

Laut boleh saja menenggelamkannya. Tapi, laut tidak boleh menenggelamkan cita-citanya.
Hops. Hatinya kuat sudah. Mau badai. Mau laut. Mau gelombang besar. Ia tak peduli. Surat Keputusan (SK) yang sudah di tangan itu, harus ia ‘eksekusi’. Tekatnya sudah kuat. Hatinya sudah padat. Sejak itu, anak muda 20 tahun itu menjadi guru. Sudah 38 tahun masa peganbdiannya kini.

“Menjadi seorang guru merupakan cita-cita saya sejak kecil. Begitu tamat SMP Negeri 1 Asam Kumbang tahun 1979, saya pilih masuk SPG Negeri Painan. Setelah mengikuti tes dan dinyatakan lulus tahun 1983 sebagai guru PNS, saya ditugaskan di daerah terisolir. Tepatnya di SD Inpres 44 Sungaipinang,” kata Ramlan Dani SPd yang pernah diundang ke Istana Negara dan menjadi inspirasi masyarakat lingkungan .

Manis dan getirnya menjalani profesi sebagai seorang guru, merupakan penggalan cerita yang tidak pernah terlupakan oleh Ramlan. Ramlan kini menjabat Kepala Satuan Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pesisir Selatan ini.

Walau jauh dan juga berada di perkampungan terpencil, namun tidak mengendorkan semangatnya untuk mengabdikan ilmunya saat ditugaskan menjadi guru di kampung terisolir tersebut, tepatnya di Sekolah Dasar (SD) Negeri 44 Sungaipinang, Kecamatan Koto XI Tarusan.

Ramlan itu guru hebat. Ia benar-benar menjadi guru penggerak dalam kenyataan sosial. Ramlan bersama masyarakat membuat kelompok tani yang hasilnya sudah berton-ton. Bisa menambah pemasukan masyarakat di masa sulit pitih di ruang pandemi.

“Saya dirikan kelompok tani, supaya kita tak berlarut-larut dalam kesedihan berpandemi. Kita harus bangkit. Tak boleh lama-lama terpuruk karena wabah ini,” ujar Ramlan ketika dihubungi Laman Guru Padang Ekspres di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pessel, Selasa (23/11).

Ramlan kembali berkisah tentang 38 tahun silam. Katanya, saat SK diterima dia merasa sangat terkejut dan juga sedih karena ditugaskan di daerah terisolir dan sangat terpencil ketika itu.

“Satu-satunya transportasi untuk bisa sampai ke Desa Sungaipinang ketika itu hanyalah melalui jalur laut menggunakan boat penumpang selama 1,5 jam dari Dermaga Carocok Tarusan. Perjalanan pertama menaiki perahu penumpang memang membuat jantung saya berdebar karena tingginya gelombang yang juga diiringi oleh hujan dan badai. Belum lagi membayangkan tinggal jauh di daerah terpencil dari orangtua,” katanya.

Karena tidak ada pilihan, hal itu harus dilaluinya dengan berbagai suka dan duka dengan tinggal menetap menempati rumah dinas guru yang disediakan di sekolah itu.

“Walau tempat saya bertugas masih berada di wilayah Pessel. Namun, rasanya sangat jauh dari kampung halaman. Sebab ketika itu tidak ada tempat berkabar maupun berkirim pesan. Untuk melepas kerinduan kepada orangtua, sehingga setiap satu kali sebulan, atau satu kali dalam dua pekan, saya pulang ke rumah di Asamkumbang, Kecamatan Bayang Utara menaiki perahu. Suatu ketika perahu yang saya tumpangi pernah hampir tenggelam. Hal itu terjadi karena tidak bisa dikendalikan akibat mesinnya mati saat hujan dan badai terjadi,” jelasnya.

Beruntung badai cepat berlalu ketika itu, sehingga perahu yang dia ditumpangi kembali bisa melaju walau dengan perasaan yang waswas dan takut. Menurut Ramlan, waktu  pertama diangkat menjadi guru dengan golongan II/a tahun 1983, gaji yang ia terima tiap bulan  Rp 16.940.

“Kalau dibelikan ke beras saat itu, tidaklah cukup 1 kaleng ukuran 20 kilogram. Namun, saya tetap bertahan karena guru merupakan cita-cita saya dari sejak kecil,” ujar wisudawan Universitas Terbuka (UT) tahun 2012 itu lagi.

Untuk  menambah penghasilan karena gaji guru tak cukup, pulang mengajar Ramlan  pergi melaut. Dengan menggunakan perahu dayung, Ramlan menjala ikan.

“Kalau nasib lagi beruntung, maka hasil tangkapan bisa terjual Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu setiap kali melaut. Namun bila tidak, hanya Rp 2 ribu saja. Tapi bagi saya itu tidak jadi persoalan karena semuanya sudah ada yang mengatur, yang penting kita berusaha,” ucap Ramlan yang pada tahun 1987 diangkat jadi  kepala SD Inpres 44 Sungaipinang, setelah satu tahun menjadi pejabat sementara (Pjs).

“Ketika itu bisa dikatakan sayalah kepala SD termuda di Pesisir Selatan, karena masih berumur 26 tahun. Di tahun 1987 itu pula saya menikah dengan Sri Suryani yang usianya 3 tahun lebih muda dari saya. Dari pernikahan itu, kami dikaruniai empat orang anak. Dari empat orang anak saya itu, tiga di antaranya telah menikah,” ucapnya.

Kembali ke soal 38 tahun silam. Gaji guru yang diterima Ramlan memang jauh dari cukup. Pergi melaut, kadang dapat kadang tidak. Akhirnya,  pengurus Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) di sekolah itu melakukan rapat menyantuni kegiatan operasional kebutuhan pegawai yang ada di sekolah tersebut.

“BP3 ya semacam komite sekolah sekarang sepat membantu guru yang berdinas di tempat saya mengajar itu. Saya dan guru-guru sesama mengajar dibantu dengan sambal, kayu bakar, dan beras genggam. Baik orangtua maupun siswa badoncek membantu kami. Setiap siswa memberikan sumbangan dalam bentuk beras segenggam, dan kayu bakar sebanyak dua atau tiga potong saat datang ke sekolah,” kata Ramlan Dani lagi.

Pada tahun 1998, bersama 52 kepala sekolah yang sama-sama berasal dari daerah terisolir lainnya di Sumbar, Ramlan pernah diundang ke Istana Negara.

“Kenangan mengajar selama 15 tahun di Desa Sungaipinang, tak akan pernah kami lupakan. Masyarakatnya baik-baik semua. Suka menolong. Muridnya santun-santun. Saya rindu pada Sungaipinang yang kini sudah menjadi nagari, bukan desa lagi,” ujar Ramlan yang teringat kembali ketika gelombang gadang hampir menenggelamkan perahunya ketika hendak menuju Desa Sungaipinang untuk mengajar. “Demi siswa. Demi tanggung-jawab moril sebagai guru, gelombang gadang pun akan kita hadang,” ujarnya. (yon)