Masjid Raya Asy-Syuhada Nagari Cupak, Buya Hamka dan Saksi Perjuangan

20
BERPERAN VITAL: Masjid Raya Asy-Syuhada Nagari Cupak berdiri kokoh setelah melalui sejumlah perbaikan.(FRIKEL ADILLA MENDER/PADEK)

Tempat ibadah baik masjid maupun surau (musala) objek penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Bahkan sejak dulunya, tak jarang banyak masjid menjadi saksi sejarah dan perjuangan masa lampau sebuah daerah, salah satunya Masjid Raya Asy-Syuhada, Nagari Cupak, Kecamatan Gunungtalang.

Masjid Asy-Syuhada atau Masjid Raya Cupak pusat keagamaan di nagari dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Kabupaten Solok itu.

Masjid ini sudah berdiri sejak satu abad lalu (masjid lamo) dan selalu digunakan masyarakat setempat sebagai tempat ibadah, sosialisasi, serta seluruh fungsi surau di Minangkabau.

Namun masa mempertahankan kemerdekaan, Masjid Raya Cupak menjadi saksi perjuangan masyarakat Cupak mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

”Sebelumnya sejak dibangun 1 abad lalu, bangunannya dari kayu dan atapnya dari ijuk. Masjid ini kerap menjadi sasaran Belanda, saat masa mempertahankan kemerdekaan,” ujar Ketua Pengurus Masjid Asy-Syuhada Cupak, Rahman Ahmad.

Masjid Lamo keseluruhan bahan utamanya terbuat dari kayu, kecuali atap. Untuk bahan atap dipakai ijuk, Masjid Lamo mempunyai tiang (tonggak) sebanyak 36 buah, dinding papan beruku pada tiga sisinya sampai mihrab. Masjid Lamo tersebut berukuran 12 kali 12 meter persegi.

Saat masa revolusi sesudah kemerdekaan, Masjid Lamo Cupak sangat berperan terutama bagi para pejuang rakyat Cupak. Masjid Lamo ini sering dijadikan tempat bermufakat sesama ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai.

Di samping itu, masjid ini berfungsi untuk tempat perundingan dan berkumpul para pejuang untuk mengatur siasat perang dalam menghadapi pasukan Belanda.

”Masjid Lamo tidak luput dari aksi pengrusakan dan penghancuran. Masjid ini pernah hancur akibat serangan pasukan Belanda selama masa revolusi fisik dari tahun 1945 sampai 1949,” jelasnya.

Tak hanya masjid, rumah-rumah warga juga ikut hancur, sehimgga masyarakat hanya tinggal di tenda darurat. Kemudian, masyarakat menginginkan kembali untuk mendapat rumah mereka yang hancur.

Dan, didapati kata sepakat agar mengundang Buya Hamka, untuk memberikan ceramah guna menguatkan kembali iman rakyat Cupak yang telah mulai merapuh sebagai akibat peperangan yang selalu menghantui perasaan mereka.

Dijelaskan Rahman, Buya Hamka datang ke Cupak tahun 1952, memberikan ceramah hingga berhasil mengobat hati warga Cupak dan menanamkan rasa kesadaran, serta keiklasan.

Setelah itu, mulailah direncanakan pembangunan sebuah masjid permanen. Tanggal 1 Februari 1952 adalah hari gotong-royong pertama masyarakat Cupak untuk mewujudkan apa yang telah dipesankan Buya Hamka.

”Untuk dorongan moril peletakan batu pertama masjid, dilakukan Buya Hamka dan Gubernur Sumatera Tengah waktu itu dijabat oleh Ruslan Mulyoharjo,” jelasnya.

Pahun 1980 pembangunan masjid yang monumental dan permanen selesai. Masa pengerjaannya memakan waktu lebih kurang 28 tahun (1952-1980). Biaya keseluruhan pembangunan Masjid Raya ini meliputi ratusan juta rupiah.

”Saat ini, Masjid Asy Syuhada menjadi tempat penting bagi masyarakat Cupak dan menjadi pusat keagamaan, serta sosialisasi masyarakat,” ujarnya. (***)