”Jan Mada Jo Lai, Patuhi Protokol Kesehatan”

Ibnu Mas’ud, pengusaha minang yang berbagi kisah terkena Covid-19. (IST)

”Ambo kanai Covid 19, Pak Nazir. Ko kini alah 10 hari dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Pekanbaru. Ko kini sadang dipasangkan infus. Agak sakik saketek. Alah sapuluah kali di Swab, positif sadonyo.”

Itulah percakapan via video call dengan Ibnu Mas’ud, sahabat lama saya yang positif Covid-19. Tidak ada perubahan di wajah. Bicaranya masih kuat. Hanya sedikit meringis karena jarum infus lagi ditanam ke tangannya. 15 menit azan Maghrib menjelang, Ibnu bercerita berbagai hal. Mulai dari sakitnya hingga pariwisata Sumatera Barat juga diulasnya.

Oh ya, Ibnu Mas’ud, sangat perhatian dengan pariwisata Sumatera Barat. Anak Kamang, Kabupaten Agam ini sudah puluhan tahun menggeluti dunia travel. Di Riau, dia yang pertama mendirikan travel haji dan umrah. Sangat terkenal dan punya banyak jamaah. Travelnya pun kini sudah melebar ke Sumatera Barat, Pulau Jawa, Kalimantan hingga Nusa Tenggara Barat. Kawasan Madeh pun turut dia majukan.

”Awal Juli saya ke Jakarta untuk urusan yang sebenarnya masih bisa ditunda. Saya yakin saja dengan hasil rapid test yang non-reaktif. Padahal juga tahu bahwa rapid test hanya tes awal dan hasilnya tidak 100 persen akurat,” cerita Ibnu.

Tanggal 21 Juli malam, kata Ibnu, dirinya merasakan badan kurang enak. Selera makan mulai terganggu. Besoknya, langsung ke rumah sakit. Minta dirawat. Setelah diperiksa, dokter sampaikan terkena DBD. ”Dengan trombosit yang turun menjadi 109.000, saya yakin bahwa ini DBD. Selama tiga hari DBD-nya diobati, Alhamdulillah hasilnya memuaskan,” jelasnya.

Hari keempat, kata Ibnu, muncul gejala lain. Batuk disertai dahak berdarah. Tenggorokan terasa kering. Dirinya minta dokter periksa lagi. Siang itu juga dites swab dan difoto thorax. Setelah itu langsung dipindahkan ke kamar isolasi. Daya tahan tubuh menurun. Makan sudah susah sekali. Minum air terasa tidak manis lagi.

”Sambil menunggu hasil tes swab, saya minta dipindah ke RSUD Arifin Achmad. Dengan pertimbangan tim pencegahan wabah Covid-19-nya lebih banyak, lengkap dan punya bangunan khusus untuk pasiennya. Ahad malam, saya dipindah dengan kondisi cukup lumayan menderita dan rasa badan tidak menentu,” ceritanya.

Di RSUD, ujar Ibnu, langsung diberikan obat, dan infus. Senin paginya, rasa badan lumayan enak. Walau untuk makan masih hilang selera. Modal zikir, doa dan baca Al Quran jadi penambah semangat dan membuat dirinya bertambah yakin bahwa ini ujian yang Allah berikan. ”Alhamdulillah sampai hari ke 13 ini, kondisi bertambah baik. Sudah empat hari infus tidak dipasang lagi,” jelasnya.

Apa yang dialami saat ini, kata Ibnu, pelajaran buat dirinya dan orang lain. Dirinya sengaja bercerita, agar semua orang tahu bahwa mematuhi protokol kesehatan yang sudah disampaikan pemerintah benar-benar harus dijalankan. Tidak boleh acuh tak acuh. Jangan lalai. Jan mada jo lai.

Baca Juga:  Terobosan Erick Tohir Dinilai Positif bagi Pekerja dan Dunia Usaha

Awal-awal munculnya wabah ini, dirinya percaya bahwa Covid-19 berbahaya. Mudah menyebar. Tapi kebiasaan berjalan dan ke luar rumah tidak pernah berhenti. Sering diingatkan agar tetap di rumah dan ke luar bila perlu saja. Pakai masker dan sesering mungkin cuci tangan, adalah sesuatu yang tidak disiplin dilakukan. Karena badan ini terasa enak-enak saja.

”Kadang untuk hal yang penting, saya penuhi ajakan kawan ke luar untuk hanya sekedar mengopi atau sarapan. Duduk tanpa jaga jarak yang aman. Tidak pakai masker yang benar. Masker hanya digantung di dagu atau di leher,” akunya.

Dari kejadian yang dialaminya, Ibnu menyadari selama ini banyak melakukan kesalahan. Abai dan lalai untuk patuhi protap Covid-19. Terkadang cenderung meremehkan. Dirinya sendiri benar-benar mengalaminya. Ternyata, apa dialaminya masih ringan dibanding beberapa pasien Covid-19 di gedung yang sama.

Ibnu juga menyitir sebuah hadits dari Rasulullah yang diriwayatkan Bukhari-Muslim bagaimana seharusnya menghadapi wabah mematikan. ”Tha’un atau wabah penyakit menular adalah suatu peringatan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya.”

Rasulullah dari Abu Hurairah, kata Ibnu, juga menganjurkan untuk isolasi antara sakit dengan sehat agar penyakit dialaminya tidak menular kepada yang lain. ”Janganlah yang sakit dicampur-baurkan dengan yang sehat.”. Dengan demikian, penyebaran wabah penyakit menular dapat dicegah dan diminimalisir.

Aktivitas inilah, kata Ibnu, yang sekarang dikenal dengan social distance, yakni suatu pembatasan untuk memutus rantai penyebaran wabah Covid-19. Caranya adalah jauhi kerumunan, jaga jarak, dan di rumah saja. Kegiatan social distance tak hanya dalam muamalah seperti pendidikan, ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya, pemerintahan, dan sebagainya yang langsung berhubungan dengan sesama manusia, tetapi juga dalam ibadah.

”Apa yang saya alami ini adalah ujian dan pelajaran berharga. Perlu saya berbagi kepada saudara-saudaraku.Yang namanya new normal bukanlah sesuatu yang kita jalani dengan kebebasan tanpa ikut aturan. Tapi sebuah situasi baru yang kita benar-benar harus ikuti. Jaga agar tubuh bisa menghadapi wabah,” himbaunya.

Kebiasaan mengusap muka, memasukkan jari ke hidung dan mulut, menggosok-gosok mata, katanya, adalah satu kebiasaan yang sangat berpotensi sebagai pengantar virus ke dalam tubuh. Apalagi dalam kondisi tidak cuci tangan sebelumnya.

”Mari saudara ku, patuhilah protap pencegahan Covid-19. Jangan nekat untuk mencoba menikmati wabah ini. Karena kondisi daya tahan kita tidak sama. Jika kita kena, akan ada beberapa orang yang dekat juga berisiko kena. Saya sudah membuat empat orang terkena wabah ini. Saya sedih dan menyesal. Gara-gara kelalaian saya, orang lain dan orang terdekat saya ikut merasakan akibatnya,” tutupnya. (M. Nazir Fahmi-Padang Ekspres)