Masjid Jami’ Jorong Kapalokoto Sijunjung, Mata Airnya Tak Pernah Kering

59
KOKOH: Masjid Jami’ Jorong Kapalokoto, Nagari Padangsibusuk, Sijunjung.(YULICEF ANTHONY/PADEK)

Selain berfungsi jadi rumah ibadah, masjid satu ini juga menyimpan segudang cerita dan sejarah di tengah-tengah masyarakat. Itulah Masjid Jami’, terletak di Jorong Kapalokoto, Nagari Padangsibusuk, Kecamatan Kupitan, Kabupaten Sijunjung. Di bagian kubah, dahulunya terdapat tempat kumandang azan.

Subhanallah. Kita bisa menyebut Asmaul Husna saat menapaki anak tangga menuju Masjid Jami yang berjumlah 99. Seraya ditantang pandai-pandai mengatur napas agar tak sesak. Sebelum akhirnya sampai di depan masjid tertua kebanggaan masyarakat Padangsibusuk tersebut.

Masyarakat setempat juga ada menamainya dengan sebutan Masjid Saratuih Janjang. Di sisi kanan tangga dilengkapi besi untuk pegangan. Sepintas, tingkat kemiringannya memang terlihat relatif curam, hingga setiap orang yang melewatinya sedikit perlu berhati-hati.

Gedung Masjid Jami’ terasa punya aura, bahkan tak jarang masyarakat setempat menganggapnya bangunan sakral, alam sekitarnya gemah ripah loh jinawi, berhawa sejuk. Uniknya, di bawah masjid terdapat mata air yang tak pernah kering.

Muhammad Haskil,50, selaku pengurus Masjid Jami’ mengungkapkan, Masjid Jami’ adalah masjid tertua. Konon kabarnya dibangun di atas sebuah mata air (jernih) ratusan tahun silam, atau sekitar awal abad ke-20.

Namun, sekitar tahun 1930-an harus mengalami proses renovasi total, dari sebelumnya berupa bangunan kayu beratap ijuk menjadi bangunan beton dua lantai. ”Bangunan asli Masjid Jami’ kini hanya tinggal tonggak bagian bawah (penyangga) sekitar 10 buah. Selebihnya, sudah mengalami renovasi,” ujarnya.

Dahulu juga ada tangga melingkar pada bagian tiang utama menuju ruang dalam kubah, berfungsi sebagai tempat kumandang azan. Namun, sejak ada mik dan toa (alat pengeras suara) akhirnya ruang tersebut tidak lagi difungsikan. Seiring waktu kemudian dihilangkan, hingga tinggal atap dan kubah saja.

Jamaah Masjid Jami’ terdiri dari berbagai aliran, seperti Tarbiyah Islamiyah, NU, Muhammadiyah, serta Tarekat. Nama masjid ini tersohor lantaran memiliki seorang ulama besar bernama H Jainudin sekitar tahun 1960-an, sekakigus beliau bertindak sebagai Imam masjid.

Selanjutnya, kaderisasi imam masjid berlangsung sesuai kemufakatan warga. Ruang dalam berukuran 22 x 22 meter. Tonggak-tonggak di lantai bawah diukir kaligrafi nama empat khalifah Rasulullah, Syaidina Ali Bin Abi Thalib, Umar Bin Khatab, Utsman Bin Afan, Abu Bakar As Siddiq, serta empat mazhab.

Sejak zaman saisuak Masjid Jami’ Padangsibusuk tak semata-mata difungsikan sebagai tempat ibadah. Akan tetapi, juga sebagai ruang sosio-kultural masyarakat.

Bahkan, menurut manuskrip ”Perjuangan Anak Nagari Padang Sibusuk dalam Merintis dan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia”disusun N Sutan Makmur, disebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia diumumkan di Masjid Jami’ dalam sebuah ceramah pada Kamis malam, 23 Agustus 1945.

Maka, dikibarkan bendera merah putih oleh masyarakat di Pasar Padangsibusuk pada Sabtu pagi, 25 Agustus 1945. Mereka melakukan itu tanpa takut, meski diawasi oleh tentara Jepang yang telah kalah dalam Perang Dunia II.

Padangsibusuk salah satu nagari pelopor perlawanan Serikat Islam Merah 1926/1927 terhadap kolonial Belanda di Sawahlunto. Mereka yang terlibat dalam perlawanan itu diangkat sebagai Perintis Kemerdekaan Indonesia oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960.

Baca Juga:  Kisah Nathaya dan Navice, Kakak Beradik Peraih 9 Medali di Olimpiade

Dalam buku ”Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998” karya Audrey Kahin (YOI, 2005), disebutkan bahwa perlawanan Serikat Islam Merah 1926/1927 menewaskan Letnan Simon (Belanda) di perlintasan rel kereta api di Padangsibusuk.

Sutan Makmur dalam manuskripnya mencatat, komandan kompi tentara Belanda Letnan Simon itu tewas dalam pertempuran antara pasukan Belanda dari Van der Capellen (Batusangkar) dengan pasukan Front Timur (Padang Sibusuk dan Tanjung Ampalu) dibawah pimpinan M. Zein di Sililie, Padang Sibusuk, 1 Januari 1927.

Manuskrip itu ditulis oleh N Sutan Makmur berdasarkan wawancara dengan para pelaku sejarah tersebut. Lazimnya masjid dan surau di Minangkabau adalah satu satu tempat musyawarah menyangkut hajat orang banyak. Dulu, juga merupakan bagian perlawanan terhadap kolonial.

Tentu Masjid Jami’ sebagai ruang publik, baik untuk beribadah maupun aktivitas sosio-kultural, memiliki peran pula dalam gerakan merintis kemerdekaan Indonesia itu. Sebab perang melawan penjajahan diyakini umat Islam sebagai jihad. Kini, Masjid Jami’ Padang Sibusuk masih berdiri kokoh di atas mata air nan tak pernah kering ditimba dari zaman ke zaman.

Berhawa Sejuk

Ditambahkan seorang tokoh masyarakat, Aska, 60, Ketika berada di dalam ”Rumah Allah” yang satu ini, hawa sejuk begitu terasa menyelimuti. Tak heran selama Ramadhan di tiap tahunnya Masjid Jami’ menjadi pilihan segenap warga untuk menunaikan Shalat Tarweh Berjamaah, maupun Shalat Lima Waktu.

”Mungkin karena terdapat aliran mata air hingga menyerupai kolam bawah tanah persis di bagian bawah masjid, ruangan masjid akhirnya terasa sejuk,” ujarnya.

Aliran mata air akhirnya serta-merta membesut (keluar) persisnya di samping bangunan masjid, kemudian oleh warga dibuatkan bak-bak penampungan yang berfungsi untuk menyimpan air. Sumber air ini selanjutnya menjadi sumber air bersih bagi penduduk, bahkan sunber air minum. Selain untuk berwudhu bagi segenap jamaah. Tak pernah kering meski kemarau panjang.

Di tahun 1990 tim kesehatan Kabupaten Sijunjung pernah melakukan survei terhadap mata air ini, ternyata sumber air tersebut dinyatakan bisa langsung diminum. Kadang-kadang ada masyarakat mengambil air Masjid Jami’ untuk pengobatan.

Sebahagian masyarakat ada yang mempercayai, sumber air masjid ini berasal dari mata air di bagian bawah pohon beringin (beringin gadang) yang berdiri kokoh persisnya di tepi Jalan Lintas Sumatera, Jorong Kapalo koto, Nagari Padang Sibusuk. Berjarak sekitar 100 meter dari Masjid Jami’. Sampai sekarang pohon beringin tersebut masih ada.

”Apabila pohon beringin terlihat berdaun rimbun, maka aliran mata air Masjid Jami’ akan turut menjadi besar pula,” sebut Aska.

Uniknya, ada pula cerita dahulunya tentang orang Taiwan tak bisa menebang pohon beringin besar itu ketika hendak melaksanakan proyek pelebaran jalan raya. Akan tetapi akhirnya mesin pemotong kayu (sinsaw) mendadak macet, rusak.

Begitu pula pakai alat berat, juga berkali-kali mati. Sejak itu rencana pembongkaran pohon beringin dihapuskan. Sampai sekarang, oleh nasyarakat tetap dilestarikan saja. (***)