Ini Sosok Jenderal Niniak Mamak Bersanding Birokrat Ulung di Pilgub

Pasangan Fakhrizal dan Genius Umar telah resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon gubernur dan wakil gubernur ke KPU Sumbar, Minggu (6/9). Duet jenderal polisi berbintang dua dan birokrat yang dikenal dekat dengan masyarakat ini hadir memberikan harapan untuk Sumbar maju. Berikut kisahnya.

 

”Terimalah restu dari Abak dan Amak Zal (panggilan Fakhrizal, red). Masih ingat petuah-petuah Abak sejak kamu kecil?”

Suara Sabri, lelaki 83 tahun itu bergetar ketika menerima pelukan, anaknya Fakhrizal pada Sabtu (5/9). Di samping Sabri, Asni, 77, ibunda Fakhrizal menatap dalam-dalam wajah anak sulungnya dengan mata berkaca-kaca.

”Masih, Bak. Izal masih ingat. Masih berbudi sampai kini.” Fakhrizal menjawab pertanyaan ayahnya dengan tegas dan lugas.

Hari itu, Fakhrizal didampingi istri tercinta Ade Fakhrizal berada di Jorong Pakansinayan, Nagari Kamangmudiak, Kecamatan Kamangmagek, Kabupaten Agam untuk meminta restu kedua orangtuanya sebelum secara resmi mendaftar sebagai calon Gubernur Sumbar periode 2020-2024.

Sang ayah merupakan seorang pensiunan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sejak kecil selalu menanamkan nilai-nilai tentang hidup dan perjuangan kepada Fakhrizal.

Ungkapan Socrates, filsuf Yunani kuno, ”Hidup yang tak teruji, bukanlah hidup yang berarti” telah menjadi pegangan hidup alumni Akademi Kepolisian 1986 ini.
Sebagai anak pertama dari enam bersaudara, kala muda Irjen Pol Fakhrizal dituntut untuk mampu menjadi teladan sekaligus ”pambangkik batang tarandam” bagi keluarganya.

Terlahir sebagai anak tentara, Fakhrizal menghabiskan waktu selama 12 tahun di asrama Batalyon Infanteri (Yonif) 133, Airtawar, Padang. Bapaknya, merupakan anggota TNI AD dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu)
Sebagai anak tentara yang menjalani hari-harinya di asrama, hidup yang dijalaninya jauh dari kata mapan.

Masa kecil Fakhrizal memang beda. Dia lebih gandrung bermain sepakbola dibandingkan berkumpul tanpa melakukan kegiatan berfaedah. Jika tak main sepak bola, dia tanding voli, atau memilih membaca Al-Quran saja di rumah.

Fakhrizal lulusan Akademi Kepolisian tahun 1986, lahir 26 April 1963 silam. Ia pernah menjadi Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah (2015–2016) dan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat (2016–2019).

Memiliki seorang bapak dengan pangkat rendah dan bergaji tak seberapa ketika itu, membuat keluarga Fakhrizal hidup seadanya, jauh dari kata mapan.

”Hidup enak waktu itu hanya ada dalam bayangan, karena bapak hanya tentara berpangkat rendah. Gajinya kecil, kadang untuk makan saja sulit,” ungkap Fakhrizal.

Meski hidup kekurangan, sang bapak tak pernah membiarkan anaknya tak bersekolah. Segala hal diupayakan agar enam buah hatinya bisa menempuh pendidikan yang layak.

Sang bapak juga menanamkan hidup disiplin, bertanggung jawab dan tahu diri. Dari ibunya, Fakhrizal mendapat nilai-nilai penting lainnya seperti berbagi kepada sesama, dan tidak jumawa. Ajaran-ajaran itu yang membentuk karakter Fakhrizal sampai sekarang.

Nilai-nilai baik yang ditanamkan ayah dan bundanya mendorong Fakhrizal menggantung cita-cita setinggi langit. Sejak duduk di bangku SMA, Fakhrizal bermimpi bisa menjadi tentara, meneruskan jejak bapaknya. Namun takdir menuntunnya ke pengabdian yang lain. Selepas lulus dari SMA Negeri 2 Padang, Fakhrizal tes Akabri, dan dinyatakan diterima di Akademi Kepolisian, bukan Akademi Militer.

”Lokasi pendaftaran waktu itu di markas Amandam, yang ada di Muaro Padang. Lewat pendaftaran itulah petualangan saya sebagai polisi dimulai,” kata ayah empat anak tersebut.

Tuhan ternyata membukakan pintu lebar pada Fakhrizal untuk menjadi “pambangkik batang tarandam” keluarganya. Hanya sekali tes, dia lulus Akabri dan menempuh pendidikan kepolisian.

Lepas pendidikan tahun 1986, Fakhrizal ditempatkan di Polda Metro Jaya, sebagai sebagai Wapamapta Res Metro Jaksel, Polda Metro Jaya. Di awal-awal berdinas, berputar-putar di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

Baca Juga:  Walikota Pimpin Langsung Pencarian Nelayan Hilang

Hingga tahun 1990, terhitung dia pernah memikul empat jabatan. Selain Wapamapta, dia juga pernah menjadi Paur Minik Serse Res Jaksel, Kanit Resintel Res Metro Pasar Minggu dan Kanit Res Intel Metro Kebayoran Baru Polda Metro Jaya.

Juni tahun 1988 menjadi bulan yang tak akan pernah dilupakan Fakhrizal. Di bulan itulah dia bertemu dengan tambatan hatinya, Ade Fakhrizal, peragawati muda. Keduanya bertemu setelah Ade yang berstatus Putri Ayu Sumbar, tahun 1988 mewakili Sumbar ke ajang Putri Ayu Indonesia di Jakarta.

Fakhrizal dikarunai empat anak. Putra sulung, Alfano Ramadhan mengikuti jejak sang ayah lulus dari Akademi Kepolisian menjadi perwira polisi. Putri kembarnya Julia Nofadini dan Julia Nofadina adalah alumni Universitas Indonesia. Sementara si bungsu, Syarfina, sedang menuntut ilmu di universitas yang sama dengan kedua uninya.

Kepada anak-anaknya, sosok yang akrab disapa jenderal niniak mamak ketika menjabat kapokda ini mengajarkan kesederhanaan. Dia ingin anaknya menjadi pribadi yang rendah hati, luhur dan tidak merasa tinggi hati dengan segala karunia yang diterima.

Terkait memimpin, menurut Fakhrizal tidak zamannya lagi pemimpin bersikap otoriter, anti-kritik atau bertangan besi. Saat ini, yang dibutuhkan adalah pemimpin yang humanis, tidak membedakan bawahan, atau mengelompokkan diri, serta asyik saja dengan kelompok. ”Sebagai pemimpin, saya pelindung bagi seluruhnya,” katanya.

Genius Umar

Sementara itu Genius Umar merupakan wali kota Pariaman, lahir di Kota Pariaman pada 24 Juli 1972. Istri dari dr. Lucyanel Arlym, MARS dan memiliki empat orang anak.

Birokrat sejati dengan latar belakang pendidikan sebagai doktor dan layak disandingkan mendampingi Irjen Pol Fakhrizal. Ia telah mengeyam asam garam mengelola pemerintahan, sampai akhirnya menjadi wali kota Pariaman periode 2018-2023 sejak 9 Oktober 2018, setelah memenangkan Pilkada Pariaman 2018.

Genius merupakan putra dari almarhum Ali Umar dan Jasni. Ayahnya merupakan guru sekolah dasar dan pernah menjadi Kadis Pendidikan di Padangpariaman.

Sedangkan ibunya pensiunan guru sekolah dasar dan kepala sekolah. Genius Umar lulus SD Negeri 2 Pauh Pariaman angkatan 1985, SMP Negeri 4 Pariaman angkatan 1988, SMA Negeri 2 Pariaman angkatan 1991.

Kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) angkatan 1994, dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara, Lembaga Administrasi Negara RI, Jakarta angkatan 1997.

Setelah itu melanjutkan S-2 Magister Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada angkatan 2001 dan Doktor (S-3) di IPB Program Manajemen dan Kebijakan Pengelolaan SDA dan Lingkungan tahun 2007.

Karirnya ditapakinya dari bawah. Tahun 1994 Genius menjadi staf Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa di Kabupaten Padangpariaman, 1995, Kasubsi Pembangunan Desa, Kecamatan Sungaigeringging, Padangpariaman dan 1998-1999 menjabat Sekretaris Camat Batanganai, Padangpariaman. Kemudian tahun 2000-2007 tugas belajar di UGM dan IPB hingga akhirnya menyandang gelar akademis doktor.

Pada tahun 2007-2008, Genius menjadi Kasubag Panitia Kerja Sama Antar Lembaga Parlemen, Setjen Hubungan Luar Negeri DPD RI. Tahun 2009-2010 jadi Kabag Panitia Kerja Sama Antar Lembaga Parlemen, Setjen Hubungan Luar Negeri DPD RI

Setelah itu tahun 2003 menjadi dosen luar biasa STPDN bidang mata kuliah berpikir serba sistem. Selanjutnya 2003 sampai 2013, menjadi dosen Sekolah Tinggi Manajemen Industri Indonesia, Bidang Mata Kuliah Manajemen Strategi, Metodologi Penelitian dan dosen pascasarjana Universitas Pendidikan Jakarta, serta pernah jadi dosen pasca sarjana Universitas Krisnadwipayana, Bidang Analisis Kebijakan Publik. (rel)