Kisah Fina Gustina Guru Honor SMP 1 Sungai Rumbai, Ikhlas Digaji 700 Ribu

41
MEMPRIHATINKAN: Guru honor Fina Gustina ketika memberikan materi kepada siswa SMP 1 Sungai Rumbai.(IST)

Menjadi guru hononer harus banyak sabarnya. Meski digaji ratusan ribu tetap ikhlas mengajar. Adalah Fina Gustina, 34, guru honor di SMP 1 Sungai Rumbai. Bergaji Rp 700 ribu sebulan tak membuatnya patah arang.

Sebagai guru, Fina berkewajiban mentransfer ilmu. Mencerdaskan anak bangsa. Digaji seadanya tak masalah baginya. Untuk menambah penghasilan, alumni STKIP Padang jebolan tahun 2013 tersebut nyambi jualan kue di sekolah. Cantik dan lembut tutur katanya. Dia bercerita suka dukanya menjadi guru honor selama 8 tahun.

“Begitu selesai wisuda saya langsung mengabdikan diri sebagai tenaga honor dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tahun 2014 saya tercatat sebagai guru honor dengan honor Rp 25 ribu satu jam. Total honor yang diterima Rp 400 ribu per bulan. Kondisi ini berlangsung hampir tujuh tahun. Cobaan datang di tahun 2019. Saat itu honor diturunkan menjadi Rp 20 ribu per jam. Otomatis penghasilan juga semakin menurun. Namun saya tetap mengajar walau dengan honor yang semakin kecil. Beruntung jarak antara rumah dan sekolah tidak begitu jauh. Hanya sekitar 600 meter, sehingga saya bisa jalan kaki,” ucapnya.

Hampir satu tahun kondisi itu berlangsung. Untungnya tahun 2020 honor dinaikkan kembali menjadi Rp 25 ribu per jam. “Dan alhamdulillah tahun 2022, honor dinaikkan lagi menjadi Rp 35 ribu per jam. Walau belum diterima, setidaknya ada harapan baru. Sebulan kita akan menerima sekitar Rp 700 ribu,” ucapnya.

Ibu satu anak itu berkata, guru honorer punya tanggung jawab hampir sama dengan guru PNS. Namun dari sisi gaji sangat jauh berbeda. “Namun semua itu diterima dengan hati ikhlas. Namanya juga guru honor,” ucapnya.

Kendati uang segitu tak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, Fina putar otak untuk menambah penghasilan. Selain membuat kue, ia juga membantu adiknya yang punya usaha fotokopi.

“Beruntung tinggal masih sama orangtua. Jika uang tidak cukup untuk biaya sehari-hari, ada orangtua yang membantu. Jika pergi mengajar, ada orangtua dan adik yang menjaga anak,” tuturnya.

Menjadi guru PNS tetap jadi impiannya. Sudah tiga kali ikut testing penerimaan CPNS namun belum beruntung. “Kesempatan untuk jadi PNS hanya tinggal satu kali lagi. Jika masih tidak lulus juga, maka kesempatan untuk jadi PNS harus dikubur, karena dari sisi usia tidak memenuhi persyaratan lagi,” ujarnya.

Fina berharap, guru honor tidak lagi digaji per jam. “Kalaupun digaji per jam, saya dan kawan-kawan yang honor lainnya sangat berharap honor dinaikkan. Misalnya Rp 1 juta setiap bulannya,” harapnya. (***)