Sosok Reido Deskumar, Milenial asal Agam yang Pernah jadi Jubir Mahyeldi-Audy

177

Nama Reido Deskumar, tidak asing lagi bagi masyarakat khususnya kaum millenial Sumatera Barat. Pikiran dan gagasannya banyak hadir dalam kegiatan seminar yang diselenggarakan lembaga sosial masyarakat, organisasi pemuda dan organisasi mahasiswa. Bahkan sering tampil sebagai pembicara di stasiun TV dan radio. Goresan pikirannya juga menghiasi media cetak maupun media online Sumatera Barat.

Anak muda yang akrab dipanggil Reido ini, juga menghiasi kancah perpolitikan Sumatera Barat, saat dirinya di tunjuk menjadi Juru bicara Milenial Mahyeldi-Audy pada Pemilihan Kepala Daerah Gubernur dan Wakil Gubernur tahun 2020 lalu. Reido tampil pada acara debat visi misi kandidat di televisi bahkan turun langsung dari daerah ke daerah meyakinkan masyarakat memilih Mahyeldi Audy.

Pria kelahiran Maninjau, Agam 7 Desember 1991, mengawali pendididikanya di SDN 21 Koto Tinggi Maninjau. Setelah menamatkan SMP di SMPN I Maninjau, melanjutkan pendidikan di SMAN I Maninjau, Agam.

Tamat SMA, Reido melanjutkan pendidikannya di Fakultas Teknik , Universitas Andalas. Selama dikampus inilah Reido mulai berproses, aktif di organisasi mulai dari tingkat jurusan, fakultas dan universitas. Puncaknya pada tahun 2015, Reido menduduki posisi strategis dengan jabatan Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Andalas.

Saat menjabat Presiden Mahasiswa Reido aktif ikut serta dalam gerakan BEM Seluruh Indonesia. Konsolidasi gerakan mahasiswa nasional dan aksi demontrasi memperjuangkan aspirasi masyarakat Indonesia di gedung DPR RI Senayan dan Istana Presiden tidak pernah absen diikutinya.

Reido memiliki tekad walaupun berasal dari kampus daerah, tapi semangat jangan hanya sebatas level daerah, akan tetapi harus menasional. Aktif di gerakan mahasiswa nasional, Reido juga tidak lupa mengawal kebijakan-kebijakan strategis di Sumatera Barat.

Selain gerakan politik, Reido juga aktif membuat gerakan sosial masyarakat. Diantaranya mengadakan kegitan bakti sosial ke nagari-nagari tertinggal, acara ke panti asuhan, pengobatan gratis bagi masyarakat kurang mampu, membantu mahasiswa yang kesulitan dalam membayar uang kuliah karena kondisi keuangan keluarga, dan melakukan penggalangan dana saat ada bencana alam.

Saat di kampus, Reido juga mengimbangi aktif di organisasi dan akademik, dengan tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang mahasiswa. Prestasi di bidang akademik juga turut diukir. Dimulai dari aktif sebagai asisten Laboratoium Metallurgy Teknik Mesin Universitas Andalas, Asisten Dosen, ikut dalam program student exchange (pertukaran pelajar) ke Universitas Putra Malaysia (UPM). Sekaligus melakukan research (penelitian) tugas akhir.

Baca Juga:  Buya H Hannan Putra LC MA, Dulu Jurnalis Kini Jadi Ulama: Kita Hobi Bertikai

Reido pernah mendapatkan sejumlah beasiswa. Di antaranya beasiswa Society of Petroleum Engineer Indonesia dan Beasiswa Karya Salemba Empat.

Dari perjalannya di kampus, Redo juga aktif menulis. Sebelum menamatkan kuliah, Reido menulis buku dengan judul Jejak Pergulatan. Reido melihat buku adalah simbol intelektual seseorang. Saat di kampus sudah banyak buku yang dibacanya, maka sudah saatnya Reido sendiri yang menghadirkan karya buku.

Setelah tamat kuliah, Reido mencoba peruntuhan di dunia kerja. Selama tiga setengah tahun Reido bekerja di salah satu perusahan nasional pertambangan batubara di Kalimantan. Setelah dijalani Reido merasa tidak menemukan passion-nya, maka memutuskan keluar dari perusahaan dan kembali pulang kampung ke Sumatera Barat.

Saat ini Reido bekerja sebagai salah satu staf Buya Mahyeldi Gubernur Sumatera Barat. Selain itu Reido juga aktif diberbagai organisasi. Di antaranya, diamanahkan sebagai Ketua Umum Gema Keadilan Sumatera Barat, Pengurus Wilayah Muhamadiyah Sumatera Barat, Wakil Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah, Wakil Sekretaris Umum Karang Taruna Sumatera Barat, Wakil Ketua Bidang Pemuda dan Budaya Kerukunan Keluarga Luhak Agam Provinsi Sumatera Barat, dan Wakil Ketua Pembina Perhimpunan Petani Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Agam.

Saat ini Reido juga aktif membina puluhan kelompok tani, kelompok nelayan, PKWT dan UMKM yang ada di Kabupaten Agam. Reido juga hadir sebagai inisiator meyakinkan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi untuk membuka jalan alternatif Malalak Sungai Batang Kabupaten Agam.

Reido meyakini bahwa apa yang dilakukannya hari ini masih belum apa-apanya. Semuanya masih berproses. Terus bertekad agar menjadi orang yang bermanfaat bagi semua.

“Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan yang terpenting baginya jangan pernah lelah untuk terus berkontribusi memajukan daerah,” ungkapnya.(rel)