Sempat Isolasi Mandiri, Fitri Arsih Raih Gelar Doktor Pertama UM lewat Daring

Fitri Arsih saat sidang terbuka disertasi program S3 Universitas Negeri Malang (UM) secara daring dengan para penguji dan promotor, Kamis (9/4). (Foto: Swari Arfan)

Wabah virus korona (Covid-19) tidak menghalangi upaya Fitri Arsih menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Negeri Malang (UM). Setelah menjalani isolasi mandiri 14 hari, ia baru berhadapan dengan para penguji dan promotor hingga berhasil menyandang gelar doktor, sekaligus doktor UM pertama lulus ujian secara online.

SEHARUSNYA, Fitri Arsih, SSi, M.Pd mengikuti ujian disertasi Program Studi S3 Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang sudah diselesaikannya di kampus UM, Jawa Timur pada 26 Maret lalu. Namun karena wabah Covid-19, ujiannya terpaksa ditunda.

Pada 20 Maret, istri seorang jurnalis ini memilih kembali ke Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat karena tidak diketahui sampai kapan pandemi akan berakhir.

Setibanya di Padang, Fitri mengaku dirinya menjalani isolasi mandiri selama 14 hari di rumah orangtuanya. Berpisah sementara dengan suami dan sang anak. Karena dia masuk kategori orang yang baru pulang dari daerah yang sudah terjangkit Covid-19.

“Selama 14 hari isolasi mandiri, saya tidak keluar rumah. Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Saya sehat wal afiat,” ungkap wanita yang tercatat sebagai dosen di Universitas Negeri Padang (UNP) ini.

Setelah proses isolasi mandiri selesai, pada Kamis (9/4) pagi bertempat di Redaksi Harian Rakyat Sumbar (Grup padek.co yang terintegrasi dengan padek.jawapos.com), Fitri akhirnya bisa mengikuti ujian disertasi.

Wanita berusia 40 tahun ini sidang terbuka di hadapan delapan orang penguji dan promotornya lewat aplikasi online, Zoom Meeting. Tujuh orang penguji dan promotor dari UM serta seorang penguji dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Setelah mengikuti sidang terbuka secara daring dari pukul 09.00 hingga pukul 12.00, Fitri berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Randai sebagai Upaya Memberdayakan Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif, Keterampilan Komunikasi serta Pemahaan Konsep Calon Guru Biologi”.

“Saya sengaja sidang disertasi bawa laptop ke kantor suami (Harian Rakyat Sumbar) karena katanya jaringan Wifi kencang dan stabil. Alhamdulillah, semuanya selesai. Terima kasih kepada Pak Rektor, Pak Dekan serta semua penguji dan promotor. Semoga ilmu yang saya dapatkan bermanfaat di tempat saja mengajar dan generasi masa mendatang,” ungkap istri Endang Pribadi yang memiliki satu putra ini.

Sidang terbuka tersebut dihadiri penguji dan promotor, yakni Prof. Dr. Hadi Suwono, M.Si, Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd, Prof. Dr. Abdul Gofur, M.Si, Prof. Susri Mahanal, M.Pd, Dr. Ibrohim, M.Si, Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si, Dr. Sisworo, dan Prof. Dr. Endang Susantini.

Suasana sidang disertasi doktor Fitri Arsih secara online. (foto:swari arfan)

Dekan FMIPA UM, Prof. Dr. Hadi Suwono, M.Si menjelaskan bahwa ujian disertasi secara daring ini pertama dilakukan FMIPA UM dalam usaha pencegahan penyebaran Covid-19. “Ujian daring seperti ini juga berlaku untuk ujian tesis bagi mahasiswa S2 dan ujian skripsi bagi mahasiswa S1,” ujarnya.

Setelah mahasiswa lulus, kata Hadi, akan dilakukan revisi yang juga dilakukan secara online dengan para penguji dan promotor.

“Setelah lulus, mahasiswa akan terus berkonsultasi dengan pembimbing dan penguji hingga yudisium dilakukan secara daring. Untuk pelaksanaan wisuda belum ada keputusan, karena kita melihat perkembangan penanggulangan Covid-19,” tambahnya.

Lebih lanjut, Hadi mengajak masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan S3 di bidang pendidikan segera melanjutkan ke UM.

“Di UM kami membantu mahasiswa tumbuh dan berkembang serta lulus tepat waktu. FMIPA UM memiliki empat jurusan yakni, Biologi, Matematika, Kimia dan Fisika yang dapat ditempuh melalui jalur penelitian dan perkuliahan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Hadi menjelaskan bagi masyarakat yang ingin melanjutkan perkuliahan di UM cukup mendaftar secara online.

“Untuk melanjutkan pendidikan di UM pada saat ini cukup mengirimkan fortofolio prestasi selama ini, dan kami seleksi. Sehingga tidak perlu ujian secara konvensional lagi,” tutupnya.

Promotor Fitri Arsih, Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd menjelaskan, ada perbedaan ujian desertasi konvensional dan online ini.

“Biasanya setelah kelulusan, kami ada sesi foto bersama mahasiswa dengan penguji. Ujian melalui daring, kami tidak bisa melakukannya. Semoga Covid-19 ini dapat segera berakhir,” harapnya.

Sementara itu, GM Harian Rakyat Sumbar, Firdaus Abie yang turut menyaksikan ujian desertasi secara daring di kantornya itu langsung mengucapkan selamat kepada Fitri.

“Selamat atas pencapaian yang diraihnya ya Fitri. Seumur hidup, ini adalah ujian disertasi daring pertama yang saya saksikan. Kami sebagai koran Grup Jawa Pos dan Padang Ekspres yang eksis di dunia pendidikan sangat bangga ketika kantor kami Harian Rakyat Sumbar dijadikan tempat mahasiswa UM ujian daring ini. Ini jadi sejarah,” ucapnya.(heri sugiarto/swari arfan)