Warga Evakuasi Mandiri, Ketahanan Lumbung Mesti Dibangun di Pengungsian

28
EVAKUASI: Salah satu titik lokasi pengungsian warga di Betaet, Desa Simalegi, Kecamatan Siberut Barat, kemarin.(JARET FOR PADEK)

Berada di wilayah rawan gempa dan tsunami, masyarakat di Kepulauan Mentawai sudah paham betul bagaimana harus bersikap jika satu waktu bencana itu datang. Pengalaman telah mengajarkan mereka tentang apa yang penting dipersiapkan.

BELUM begitu terang hari ketika itu. Warga di pantai barat Pulau Siberut kembali gempa. Alhasil, mereka berhamburan ke luar rumah dan melakukan evakuasi mandiri ke daerah perbukitan.

Kepanikan yang menghantui akan adanya tsunami pascagempa membuat mereka tidak lagi memperhatikan jalanan, sehingga ada warga yang tak sengaja menginjak pecahan kaca. Bahkan, ada yang sampai pingsan. Ini terjadi di Dusun Betaet, Desa Simalegi, Kecamatan Siberut Barat.

Untungnya, petugas medis cekatan dan langsung melakukan penanganan di luar bangunan Puskesmas Betaet. Lokasi Puskesmas Betaet cukup jauh dari pantai dan berada di ketinggian. Sehingga, tenaga medis tidak tetap bisa melakukan penanganan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat, gempa yang terjadi pukul 06.10 kemarin itu berkekuatan 6,1 skala richter (SR). Pusat gempa berada pada 1.18 LS-98.53 BT atau 147 KM barat laut Kepulauan Mentawai. Namun, disebut tidak berpotensi tsunami.

Meskipun demikian, Syaiful Tasirileleu tak mau ambil risiko. Warga desa Simalegi ini bersama 10 Kepala Keluarga (KK) lainnya mengungsi di daerah perbukitan dengan kondisi seadanya. Dia mengatakan, lokasi tersebut, tidak termasuk ke dalam lokasi pengungsian gempa yang sudah disediakan tenda atau terdaftar di Pemerintah Kecamatan Siberut Barat.

”Kami hanya tinggal di rumah keluarga yang berada di ketinggian. Kami tidak dapat tenda, maupun logistik. Tapi, kami masih bisa bertahan untuk beberapa hari ke depan. Karena, kami sudah menyiapkan pangan dan logistik sebelum terjadi gempa. Karena, pengalaman gempa sebelumnya, menuntut kami untuk siaga dan menyiapkan lumbung pangan di lokasi pengungsian,” ungkapnya.

Dia sendiri mengaku, tidak ingin terlalu mengandalkan bantuan dari pemerintah semata. Apalagi, pengalaman sebelumnya mengajarkannya untuk selalu siaga, jika sewaktu-waktu terjadi tsunami. Paling tidak, dirinya bersama keluarga yang ada di lokasi pengungsian sudah menyiapkan lumbung pangan untuk sepekan ke depan.

Menurutnya, kondisi lumbung pangan yang ada di gudang kantor camat tidak cukup efektif. Selain pembagian bantuan pada saat gempa 29 Agusutus lalu yang tidak merata, juga ada yang tidak mendapat tenda bantuan karena tidak di lokasi yang ditetapkan pemerintah.

Baca Juga:  Cerita Pilu dari Stadion Kanjuruhan, Ibu Gendong Anaknya yang Meninggal

Meski begitu, dia mengaku, tetap berbesar hati. Hanya saja, dia menyarankan, agar lumbung pangan di kantor camat lebih tepat ditempatkan di daerah ketinggian.

”Saya rasa tidak cukup efektif penanganan bencana di Siberut Barat. Penanganan bencana di Mentawai tidak bisa disamakan dengan daerah daratan. Rata-rata warga Mentawai tinggal di pesisir pantai. Kita masih bersyukur gempa terjadi pagi hari. Bagaimana, kalau gempa terjadi malam hari atau dini hari, tentu kepanikan lebih besar lagi,” ungkapnya.

Murdani, 37, warga Simalegi lainnya, menyebut, pengalaman gempa semestinya bisa dijadikan pembelajaran baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Sekarang, kata dia, siaga dan evakuasi mandiri saat terjadi gempa sudah mulai disadari oleh masyarakat.

Nah, ke depan bagaimana warga bisa tetap bertahan di lokasi pengungsian untuk beberapa hari kedepan yang juga didukung dengan tenaga kesehatan. Minimal, sambungnya, sudah harus ada lumbung pangan di lokasi pengungsian untuk bisa bertahan 7 hari.

Kalau pun terjadi tsunami, warga yang masih hidup tetap bisa bertahan di lokasi pengungsian yang sudah didukung lumbung pangan dan lainnya. Sebab, apa pun yang ada di perkampungan warga di pesisir pantai akan terbawa hanyut dan tidak bisa lagi dimanfaatkan.

”Secara sederhana saja, sebetulnya di tingkat rumah tangga, minimal ada pangan yang akan dikonsumsi dan ada yang untuk dijadikan stok. Sekarang saja, bantuan yang didistribusikan menggunakan KLM Nade kemarin, sudah sangat terbatas. Untuk pemenuhan kebutuhan di rumah tangga saja, warga sudah kesulitan. Program Desa Tangguh Bencana mesti digencarkan oleh pemerintah daerah,” ujarnya.

Di samping itu, saat ini di lokasi pengungsian tidak ada akses sinyal telekomunikasi. Bahkan, warga yang akan menginformasikan kejadian terpaksa harus turun dari lokasi pengungsian untuk mencari sinyal yang tersedia.

”Ini mesti mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kita harus belajar dari kejadian atau pengalaman sebelumnya. Ketahanan lumbung mesti dibangun di titik-titik lokasi pengungsian. Secara siaga, kita sudah cukup. Tetapi, untuk bertahan di lokasi pengungsian, kita masih kewalahan. Tentunya, jika bencana tsunami terjadi, kita masih bisa bertahan. Paling tidak bertahan hidup untuk beberapa hari ke depan, hingga bantuan itu datang,” pungkasnya. (***)