Batang Paingan di Sungai Limau; Harapan dalam Kecemasan

31
Tokoh masyarakat setempat Haris Jhon Pnk Rang Kayo Tam Putih, Syahruddin Tuanku Khatib Bandaro, Ketua Banmus Abdul Ganip, Ketua LPM Masnol dan unsur pemuda Amir Syakini “Oyon” diskusi dengan wartawan di Masjid Raya Paingan.

Cuaca siang yang agak mendung, akhir pekan lalu tak menyurutkan langkah sejumlah tokoh masyarakat di Kuranji Hilir, Sungai Limau, bertemu untuk diskusi. Nagari di bagian Utara Padangpariaman tersebut menjadi tujuan Padang Ekspres bersama Padang TV (Padang Ekspres grup) untuk menggali potensi dan harapan anak nagari.

Sukri Umar-Padangpariaman

Tokoh masyarakat setempat Haris Jhon Pnk Rang Kayo Tam Putih, Syahruddin Tuanku Khatib Bandaro, Ketua Banmus Abdul Ganip, Ketua LPM Masnol dan unsur pemuda Amir Syakini “Oyon” menanti wartawan di Masjid Raya Paingan. Masjid megah yang berada di pinggir jalan Pariaman – Manggopoh. Kawasan Paingan cukup jauh dari pusat Kota Padang, hampir dua jam perjalanan darat.

“Masjid ini sudah dua kali renovasi termasuk pascagempa 2009 lalu. Alhamdulillah, meski awanya hanya bermodal kas puluhan juta rupiah tetapi hingga saat ini sudah menghabiskan anggaran dua miliar lebih,” ujar Tuanku Syahruddin menceritakan dengan bangga kondisi masjid.

Meski sudah melewati usia kepala tujuh, tuanku Syahruddin yang merupakan tokoh ulama setempat masih tegas dan jelas paparannya. Masjid Raya Paingan menurutnya sudah berusia lebih 200 tahun, dengan dua kali renovasi atau sudah tiga bentuknya. Terakhir, renovasi yang kini masih berlangsung karena dampak gempa 2009.

Bila dilihat perekonomian masyarakat berpenduduk sekitar 2.800 jiwa itu, dengan mayoritas di bidang pertanian dan nelayan sepertinya sulit mengumpulkan bantuan infak. Namun kebersamaan baik yang di kampung maupun di rantau proses pembangunan terus berjalan.

“Perantau memang banyak pakirimannyo, namun dengan kondisi yang agak sulit sekarang, bantuan rantau agak tersendat. Kami sebenarnya sudah mengirimkan proposal bantuan ke Pemda. Mudah mudahan bisa direalisasikan segera,” harapnya.

Haris Jhon menimpali apa yang diuraikan tuanku Syahruddin. Tokoh masyarakat yang juga pendidik di Politeknik Perikanan Pariaman ini menyebut, potensi sumberdaya alam di Kuranji Hilir sebenarnya banyak yang masih terpendam. Selain sektor pertanian dan perikanan yang belum tergarap maksimal, juga ada sumber daya tambang, baik pozzolan maupun sirtu yang ada di aliran sungai Paingan.

“Sungai ini menjadi dilematis dalam pemanfaatannya. Jika kemarau alirannya kecil, tetapi jika musim hujan terjadi banjir. Sendimentasinya banyak, sehingga permukaan air hampir sama rata dengan tebing,” ujarnya.

Ia menyebut keprihatinan makin terasa ketika warga gagal panen karena padinya dihondoh banjir luapan sungai. Tak terhitung lagi lahan sawah yang rusak dan tak terhitung lagi padi menguning yang gagal panen. Tetapi harus bagaimana, karena alam tidak bisa dilawan. Mengelolanya harus dengan sangat hati hati.

Baca Juga:  Mato Aia Dingin Paninggahan: Rasakan Sensasi Diving di Air Tawar

Ketua Banmus Abdul Ganip menyebut, apa yang disampaikan unsur niniak mamak Haris Jhon sudah berlanjut puluhan tahun. Warga dan aparat nagari harus berhati-hati bersikap dalam perbaikan aliran sungai. Agar trauma tahun 82 atau 38 tahun silam tidak terulang lagi.

“Material sungai ini dulunya untuk suplay pembangunan jalan Lubuk Alung – Manggopoh. Hampir lima tahun material sungai diambil tetapi mungkin caranya tidak pas. Tak ada reklamasi, tak ada kontribusi memadai untuk nagari. Masa itu dan sampai kini yang tersisa hanya masalah banjir, sawah telantar,” ujarnya mengenang trauma lama.

Ia menyebut, jika perbaikan aliran dilakukan dengan dana nagari tentu tidak memadai. Diminta perbaikan ke pemerintah daerah sampai kini masih berat, apalagi situasi keuangan daerah yang semakin terjepit. Masyarakat berharap ada jalan tengah asalkan dilakukan transparan, termasuk dengan melibatkan pihak ke tiga atau swasta.

Penelusuran koran ini di sungai Paingan, aliran sungai nyaris tak terkendali. Hamparan lebar sungai antara 70 sampai 150 meter, didominasi lahan tidur namun tak bisa dimanfaatkan. Warga mengaku khawatir, jika diolah mereka gagal panen karena datang air bah tanpa aba-aba. Sehingga sebagian besar lahan tersebut dibiarkan tak digarap, termasuk sawah sawah penduduk.

Ketua LPM Masnol, ketua pemuda Buyung, dan Oyon yang mendampingi saat penelusuran aliran sungai sepanjang tujuh kilometer tersebut menyebut, sebenarnya jika ada pihak yang mau transparan dan berniat baik mengelola secara sah, dengan memenuhi aturan legal maupun memperhatikan kearifan lokal, warga sangat berterimakasih.

“Sebenarnya sudah banyak pihak ketiga yang mau masuk, tetapi kami masih dilingkup rasa trauma. Kami hanya butuh pihak yang transparan, komit dan mau mengurus legalitas. Bukan kegiatan kucing-kucingan, apalagi pengusaha yang hanya mengubar janji,” kata Oyon.

Masnol lebih menegaskan, jalan tengah terbaik adalah pihak yang mau bekerjasama tak sekadar mencari bisnis, tetapi peduli dengan lingkungan dan kondisi warga. Jika mau transparan, menurutnya warga akan mau menghilangkan trauma lama.

“Kami sangat yakin, jika masalah aliran sungai diperbaiki dengan baik, ini langkah tepat membuka pintu rezeki, membuka lapangan kerja dan mata pencarian penduduk. Lahan tidur akan termanfaatkan, inkam nagari akan membaik, sawah dan perikanan akan menjadi pekerjaan baru warga kami,” ujarnya. (*)