Perantau Batal Pulang Kampung, Anak Diduga Covid-19 Harus Diisolasi

32
Ade Kurniawan berharap sang buah hati yang saat ini tengah diisolasi di rumah sakit segera sembuh dan dirinya bisa pulang ke kampung halaman. (FOTO. Dok. Pri)

Ade Kurniawan, 30, perantau Minang yang tinggal di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, berharap anaknya yang diduga terinfeksi Covid-19 segera sembuh.

Keinginan Ade untuk pulang kampung ke Sumatera Barat baru bisa terwujud jika sang buah hati yang baru berusia sekitar 48 hari sudah dinyatakan sembuh dan bebas dari Covid-19.

“Sekarang anak saya diisolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit. Anak saya dicurigai terinfeksi Covid-19. Selama diisolasi dia ditemani mertua saya,” ungkap Ade ketika dihubungi, Sabtu (13/6/2020).

Pria yang berasal dari Jorong Tanjuang Simantupang, Nagari Situjuah Gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, mengaku prihatin dengan kondisi bayinya tersebut.

“Kata mertua saya, kondisi masih diinfus. Panasnya sudah turun tapi belum di bawah 37 derajat celcius. Agak lemah kondisinya. Padahal kemarin kondisinya sehat saja, masih bisa ketawa, panasnya memang tinggi tapi masih bisa ceria,” keluh Ade.

Ade mengaku belum mendapat kabar dari hasil pemeriksaan anaknya. Apakah sang bayi memang terinfeksi virus korona atau tidak.

“Hasilnya belum tahu. Kata pihak rumah sakit awalnya dua sampai tiga hari hasilnya bisa keluar. Tadi saya tanya lagi, lalu mereka bilang hasilnya bisa lama,” jelas Ade khawatir.

Sebenarnya Ade ingin pulang kampung. Tapi pihak gugus tugas di daerah tersebut belum memperbolehkan Ade pulang sampai sang anak dinyatakan sembuh.

Anaknya diketahui menderita panas tinggi saat pemeriksaan di Bandara H Asan Sampit, Kamis (12/6/2020) sore.

Ade bersama anak dan mertuanya berencana pulang kampung karena Ade sudah resign dari pekerjaannya sebagai karyawan di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Mereka berangkat menuju Padang menggunakan Sriwijaya Air. Sebelum masuk pesawat saat melewati pemeriksaan, hasilnya suhu tubuh anaknya tinggi. Apes, dia dilarang naik pesawat dan diminta mengisolasi anaknya. Alhasil rencana pulang kampungnya tertunda.

“Saya niatnya ingin pulang kampung. Tiket sudah dibeli. Tapi sewaktu pemeriksaan suhu tubuh, ternyata suhu anak saya tinggi, 38,3 derajat. Kami tidak diizinkan berangkat. Petugas bandara bahkan menelepon gugus tugas di sana. Saya menolak untuk diisolasi karena saat pemeriksaan rapid test hasilnya negatif. Tapi mereka tetap memaksa, akhirnya saya tidak bisa menolak,” jelasnya.

Setiba di rumah sakit, sang bayi langsung diisolasi. “Dia diisolasi mulai jam enam malam kemarin. Mertua berada di rumah sakit untuk mendampingi anak di kamar isolasi,” sebutnya.

Karena batal berangkat, uang tiketnya dikembalikan pihak maskapai. “Sekarang uang itu yang saya gunakan untuk keperluan saya dan mertua selama menunggu anak di rumah sakit ini,” katanya.

Ade mengaku di tengah kesusahan, masih ada kemudahan yang diberikan Allah. Banyak simpati yang datang dari para member Grup Whatsapp. Bahkan ada yang memberi bantuan uang.

“Yang menelepon sudah banyak terutama dari perantau. Alhamdulilah sudah ada yang mengirim uang. Saya ucapkan terima kasih,” pungkasnya.

Ade berharap anaknya cepat sembuh dan keinginannya untuk bisa pulang kampung dapat terwujud. “Mudah-mudahan anak bisa cepat sembuh. Bisa kembali pulang dan berkumpul dengan keluarga di kampung,” katanya. (bis)