Masjid Asasi Padangpanjang: Arsitektur Tiga Budaya, Pengembangan Islam

17
UNIK DAN TERTUA: Masjid Asasi Padangpanjang, tetap mempertahankan keasliannya meski telah dipugar.(IST)

Berjuluk Serambi Mekkah, Kota Padangpanjang memiliki banyak peninggalan sejarah dalam pengembangan pendidikan dan dakwah Islam. Ini ditandai dengan banyaknya pesantren dan masjid tua yang berdiri. Salah satunya Masjid Asasi di Kelurahan Sigando Nagari Gunuang, Kecamatan Padangpanjang Timur.

Banyak versi literatur berdirinya masjid berkonsep arsitektur Minangkabau tersebut. Namun mayoritas informasi yang diketahui dari berbagai sumber, Surau Gadang yang merupakan asal mula Masjid Asasi itu berdiri pada tahun 1685 Masehi. Merupakan masjid tertua kedua di Indonesia setelah Masjid Saka Tunggal di Banyumas, Jawa Tengah yang dibangun sekitar tahun 1200.

Keunikan arsitekturnya, sekilas bagian atapnya mengingatkan pada atap Masjid Demak yang berbentuk limas tiga tingkat. Sementara bangunan utama yang berjendela dan penuh ukiran mirip dengan Rumah Adat Sumatera Barat atau Rumah Gadang.

Salah seorang tokoh sesepuh masyarakat Sigando, Ashar  Nur, 87, mengutip berbagai referensi menyebutkan arsitektur masjid itu merupakan penggabungan tiga budaya. Atap masjid berbentuk tumpang atau limas dengan bahan kayu serta beratap seng dan seluruh dinding bangunan dipenuhi dengan ragam hias motif flora.

Motif yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu punya motif yang beragam. Ukirannya terdiri dari jenis tumbuhan, hewan, alam benda dan manusia. Namun bertema kehidupan alam, sebagaimana pepatah di Minangkabau mengatakan “Alam takambang jadi guru.”

“Dimana artinya alam sumber belajar sesungguhnya. Itulah yang membedakan Masjid Asasi dengan masjid-masjid lain di Sumbar,” sebutnya Azhar.

Sejak didirikan, konstruksi masjid tidak mengalami kerusakan berarti, walaupun dilanda gempa besar pada 1926 dan 2009. Pemugaran yang dilakukan berupa penggantian atap ijuk dan dinding tidak mengubah keaslian bentuk masjid. Pemerintah Indonesia telah menetapkannya sebagai benda cagar budaya di bawah Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Sumatera Barat

“Semula atap masjid berupa ijuk, kemudian diganti menjadi atap seng. Dinding kayu di bagian dalam yang sudah lapuk juga ikut diganti. Sementara itu lantai dan sembilan tiang  di ruang salat masih asli,” ungkap Azhar kepada Padang Ekspres, Rabu (13/4/) kemarin.

Disebutkannya Masjid Asasi memiliki satu bangunan kecil menyerupai teras yang berfungsi sebagai tempat tabuh atau bedug. Sejak awal berdiri, masjid tersebut merupakan pusat aktivitas Islam dari empat nagari.

“Masjid Asasi dibangun atas gagasan dari empat nagari yaitu Gunung, Paninjauan, Tambangan, dan Jaho di atas lahan sawah yang merupakan hibah dari masyarakat. Wisatawan banyak berkunjung ke masjid ini pada hari biasa sampai Hari Raya Islam,” sebutnya.

Masjid Asasi dibangun di atas tanah 25 x 22 m, berbentuk segi empat, melambangkan bahwa yang mencetuskan pembangunan masjid adalah Nagari Ampek Jurai. Di tengah ruangan masjid terpancang tiang resar, melambangkan bahwa Nagari Gunung mempunyai kesatuan pimpinan yang tercermin dalam pepatah: ada orang yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting.

Masjid ini dibangun secara gotong royong oleh seluruh masyarakat Nagari Nan Ampek Jurai dan nagari sekitamya. Arsitektur masjid ini  menerapkan konsep arsitektur tradisional Minangkabau. Ini terlihat bentuk atap dan ukir-ukiran dinding masjid.

Sedangkan, kubahnya sebagai ciri sebuah masjid, berbentuk atap limas bertingkat tiga, sebagai perlambang bahwa Nagari Gunung dikuasai tiga unsur, yakni unsur agama, adat, dan pemerintah.

Pada masa sebelum kemerdekaan, masjid ini pernah menjadi basis pengembangan Islam dan menjadi landasan kehadiran Madrasah Thawalib Gunuang yang berlokasi tidak jauh dari lokasi masjid. Secara umum, komponen bahan bangunan masjid terbuat dari kayu, mulai dari dinding, lantai, dan tiang penyangga.

“Ruang utama ditopang delapan tiang penyangga dan sebuah tonggak macu di tengah. Konon ceritanya, bahan kayu tonggak tersebut diangkut dari Batang Anai pada masa itu belum ada kendaraan pengangkut. Tonggak macu berukuran lebih besar dari tiang-tiang lainnya dengan diameter 1,5 m dan tinggi 15 meter, berbahan kayu dilapisi beton,” beber Azhar.

Disebutkannya, dinding bangunan dipenuhi dengan ragam hias motif flora, ukiran khas tradisional Minangkabau. Terdapat jendela kaca berdaun dua pada dinding sisi utara dan selatan, masing-masing berjumlah empat. Jendela serupa terdapat pula di bagian mihrab, masing-masing satu di sisi utara dan selatan mihrab.

“Atap masjid terbuat dari seng setelah pergantian dari ijuk, berundak-undak sebanyak tiga tingkat. Berbentuk limas, permukaan atap dibuat cekung dan atap mihrab berbentuk gonjong, terpisah dari atap ruang utama,” jelasnya.

Masjid Asasi berdiri di atas tanah berukuran 25 x 22 m. Ruang utama yang merupakan ruang shalat memiliki denah dasar berukuran 13,1 m x 13,1 m. Letaknya ditinggikan sekitar satu meter dari permukaan tanah, membentuk kolong.

Mihrab dibuat menjorok pada sisi barat, berdenah 2,2 m x 4,6 m. Terdapat serambi pada sisi timur berupa ruangan tertutup berukuran 5 m x 4,4 m tanpa jendela. Tangga masuk masjid berada pada sisi kiri dan kanan serambi berupa coran semen.

“Ruangan serambi difungsikan sebagai ruangan pengurus masjid dan disekat dari ruang utama. Di ruang belakang, terdapat sekumpulan benda kuno, berupa brankas peninggalan Belanda dan beberapa lembar tafsir Al Quran beraksara Arab-Melayu. Pada bagian mihrab, terdapat mimbar yang terbuat dari kayu papan,” tutur Azhar.

Selain bangunan utama, Masjid Asasi dikelilingi pagar besi di bagian selatan dan pagar tembok di bagian barat dan utara. Untuk memasuki area masjid, terdapat pintu gerbang di sebelah selatan.

Terpisah dari bangunan induk, terdapat bangunan panggung di sebelah utara seperti tempat penyimpanan padi. Bangunan ini digunakan untuk tempat bedug yang terbuat dari kayu kelapa.

“Sampai saat ini Masjid Asasi Nagari Gunung masih berdiri kokoh. Selain untuk Shalat Rawatib (lima waktu) dan shalat Jumat, masjid ini juga menjadi taman pendidikan Al Quran (TPA) bagi kanak-kanak dan remaja. Pada malam-malam tertentu juga diadakan wirid,” pungkasnya. (***)