Kisah Pasien Sembuh Covid-19, Pernah Serasa Mau Dijemput Malaikat Maut

26
RAJIN BERJEMUR: Buyuang Lapau saat isoman di lantai 2 rumahnya.(IST)

Virus Covid-19 di gelombang kedua ini masih berbahaya. Menyerang siapa saja tanpa pernah diduga. Bahkan banyak terjadi klaster keluarga. Seperti dialami Buyuang Lapau,
PNS tinggal di Anduring, Padang. Seperti apa?

Buyuang Lapau tak pernah membayangkan bakal dapat jatah terpapar Covid-19. Sebab ia selalu taat protokol kesehatan. Namun apa daya, virus Covid-19 tetap menghinggapinya.

“Saya tak pernah membayangkan bakal terpapar virus Covid-19. Bukan hanya saya, tapi juga istri dan mertua yang komorbit sebagai penderita stroke dinyatakan positif Covid-19,” ujarnya kepada Padang Ekspres, kemarin (15/8).

Ketika badannya terasa demam Selasa (16/7), ayah tiga anak ini sudah merasa curiga. Jangan-jangan ia terkena virus Covid-19. Untuk memastikannya, Buyuang Lapau pun berinisiatif melakukan tes swab, Rabu (21/7) ke Puskesmas Seberangpadang Kecamatan Padang Selatan lewat bantuan salah seorang keluarganya yang bekerja di sana.

“Saya langsung bisa swab pada kesempatan pertama jam.10.00 pagi. Jumat, 23 Juli 2021 hasil swab PCR keluar saya dinyatakan positif Covid-19. Tanpa berpikir panjang Sabtu 24 Juli 2021 melalui rujukan Puskesmas Seberangpadang dan dibantu juga oleh dokter anggota keluarga yang bekerja di sana, saya langsung screening di RS Unand Padang.

Secara maraton pemeriksaan labor dan rontgen hasilnya keluar hari itu juga. Saya direkomendasikan untuk isolasi mandiri (isoman) dan diberi obat untuk 6 hari lamanya,” tuturnya. Untungnya rumah Buyuang Lapau dua lantai, sehingga ia bisa isoman di lantai 2 sedangkan lantai I ditempati anggota keluarga yang negatif Covid-19.

Sedangkan mertuanya yang komorbit diungsikan ke rumahnya di Seberangpadang. “Di sana ternyata ada juga anggota keluarga yang se rumah dengan mertua sudah demam dan belum diswab. Akhirnya mertuapun demam di Seberangpadang dan dibawa lagi ke Anduring, rumah kami bersama keluarga dirawat istri saya Masdiana. Namun sehari setelah itu istripun demam,” ujarnya.

Maka 3 Agustus semua anggota keluarganya yang terkontak erat, baik di Seberangpadang maupun di Anduring diswab lagi. “Termasuk saya yang sudah sembuh dari demam ikut diswab. Hasil swab keluar tanggal 5 Agustus hasilnya positif 3 orang yakni, mertua, istri saya dan satu lagi keluarga yang di Seberangpadang,” ujarnya.

Beruntung, anak-anaknya tidak ada yang positif meskipun tinggal serumah. Saat ini mertua dan istri Buyuang Lapau masih drawat di Rumah Sakit Unand Padang.
Buyuang Lapau yang seorang pejabat di Pemko Pariaman ini pun menceritakan penderitaannya ketika dijangkiti virus Covid-19.

“Demam tinggi memang sangat menyiksa sekali. Seluruh sendi terasa sangat nyeri seakan mau lepas saja. Sebatang badan sakit semua. Serasa remuk redam seperti habis kecelakaan mobil yang terhempas ke aspal. Suhu badan panas yang tinggi, kepala sakit menghentak-hentak seperti ada duri besar yang menusuk-nusuk di sekeliling kepala. Kerongkongan kering dan lidah terasa pahit dan dilengkapi pula dengan flu yang membuat ingus selalu meleleh di hidung.

Lengkaplah sudah rasanya penderitaan demam ini yang memang lain rasanya dari demam-demam biasa yang pernah saya alami. Malamnya ketika tidur saya mengigau dan perasaan serta halusinasi melayang ke mana-mana. Banyak teringat yang bukan-bukan. Mimpi yang menakutkan. Dan yang paling menakutkan seolah-olah malaikat maut sudah menghampiri kita,” tuturnya.

Kondisi seperti ini dialaminya selama empat hari sampai Selasa 20 Juli 2021 saat Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriyah. “Hari Selasa inilah pikiran saya mulai menerawang dan ingat akan Covid-19. Salah satu cirinya mulai hilangnya penciuman. Saat saya mencium minyak kayu putih dalam kondisi normal baunya sangat menyengat, namun saat itu tidak terbau sama sekali,” ujarnya.

Saat dinyatakan positif Covid-19 dan menjalani isolasi mandiri di rumanya Jalan Pepaya II N0.9 Kelurahan Anduring Kecamatan Kuranji Padang itu dilalui dengan kondisi yang masih demam.

“Namun agak berkurang dari demam 5 hari pertama. Selera makan pun patah. Apa pun yang dimakan terasa pahit. Namun harus tetap dipaksakan makan. Saran dari dokter, Covid-19 harus dilawan dengan meningkatkan imun melalui makanan yang kaya protein. Banyak makan buah dan sayuran, banyak minum air putih, banyak mangkonsumsi vitamin C dan berjemur mendapatkan vitamin D melalui sinar ultraviolet pukul 10.00 sampai pukul 11.00 pagi serta berolahraga mengeluarkan keringat,” tuturnya.

Hari-hari isoman dengan kondisi demam dan tidak mau makan berlalu sampai hari ke-10. Hari ke-11 dan seterusnya demamnya mulai berkurang dan selera makannya mulai terbuka.

“Rasa makanan yang dimakan mulai terasa enak. Sampai akhirnya di hari ke- 20 sejak demam atau hari ke-14 sejak positif Covid-19 kondisi saya benar-benar normal kembali. Demam tidak ada lagi dan selera makan sudah normal kembali seperti sediakala. Seperti kita dalam keadaan sehat wal’afiat. Setelah dilakukan swab PCR dan pada 5 Agustus, saya dinyatakan negatif,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak agar semua sadar bahaya Covid-19. Karena kalau kita terpapar Covid-19 dan ada keluarga yang komorbit situasinya akan sangat membahayakan. Bahkan ada yang sampai mati mendadak akibat terlambat mendapat pertolongan lantaran terlambat dibawa ke rumah sakit.

Buyuang Lapau mengajak bila mengalami gejala seperti terpapar virus Covid-19 segeralah mencari pertolongan medis. Dimulai dengan tes swab dan langkah-langkah selanjutnya agar cepat tertangani. Jangan sampai terlambat atau akan menyesal kemudian. Meski takdir Tuhan yang menentukan, yang penting kita berikhtiar. (***)