Windu Nuri, Berdakwah Lewat Kontes Hijab: Butuh Dana Untuk Kontes Nasional

47
FINALIS: Windu Nuri berhasil menjadi finalis dalam pemilihan Putri Hijab Nusantara Sumbar 2022.(IST)

Tak pernah terbayangkan oleh gadis berpostur mungil ini untuk memenangkan kontes model hijab. Ia berhasil menjadi salah satu finalis pemilihan Putri Hijab Nusantara Sumbar 2022. Keberhasilan ini pun turut membawanya melaju ke kontes nasional.

Usaha tak akan mengkhianati hasil adalah salah satu kekuatan Windu Nuri untuk mengapai impiannya. Terbukti, dengan postur mungilnya, Windu mampu menjadi salah satu finalis dalam pemilihan Putri Hijab Nusantara Sumbar 2022.

“Ini perlombaan pertama bagi Windu. Qadarallah tahap pertama tingkat provinsi langsung menjadi runner up pertama. Juara pertama diambil oleh peserta asal Solok,” kata Windu.

Meskipun tak menjadi juara pertama di tingkat provinsi, Windu tak patah semangat ataupun sedih. Malah, dia bangga pada dirinya dan menjadikan kontes ini sebagai batu loncatan untuk membuktikan bahwa dia bisa lebih baik lagi. Pasalnya, Windu mengakui tak mudah untuk sampai di titik ini.

Windu menceritakan, tawaran untuk mengikuti kontes ini berasal dari ibunya sebagai anggota PKK di daerah tempatnya tinggal, Bungus Teluk Kabung. Dengan senang hati gadis 21 tahun itu menyanggupi tantangan yang diberikan padanya.

Namun, di sinilah tantangan pertama yang harus dilalui Windu. Untuk mengikuti kontes tahap awal, dia harus membayar uang pendaftaran Rp 150 ribu, lalu untuk kostum yang dikenakan saat kontes, dia harus merogoh kocek sebesar Rp 500 ribu lagi.

“Awalnya tidak ada biaya untuk ini. Alhamdulillah ada saja jalan yang diberikan Allah. Biaya total Rp 650 ribu itu didapatkan dari sumbangan tetangga dan saudara ibu,” katanya.

Kontes tahap awal yang dilakukan pada 10 September di Aula Kantor Gubernur Sumbar itu akhirnya berjalan dengan lancar. Nantinya, ia akan melaju ke tingkat nasional pada 27-31 Oktober di Surabaya.

Tantangan selanjutnya pun datang. Untuk melaju ke tahap nasional ini, Windu masih membutuhkan dana. Saat ini dia sedang gencar memasukkan beberapa proposal ke perusahaan-perusahaan juga ke pemerintah kota (pemko). “Yang penting saya usaha dulu. Allah melihat usaha umatnya. Insya Allah nanti ada saja jalannya,” ujarnya.

Selain memasukkan beberapa proposal ke berbagai tempat, gadis yang memiliki tinggi 150-an cm ini juga sedang mempersiapkan dirinya agar bisa tampil maksimal jika nantinya diberikan kesempatan untuk ke Surabaya.

“Semua persiapan benar-benar otodidak sendiri dengan melihat YouTube, mulai dari poin-poin yang menjadi penilaian di kontes, bagaimana bisa percaya diri hingga melihat bagaimana cara berjalan di catwalk,” aku Windu.

Tentu kepercayaan dirinya itu tak serta-merta datang untuk mengikuti kontes ini. Kepercayaan diri itu sudah ada di diri Windu sejak kecil. Mahasiswa yang kini juga berprofesi sebagai guru ini sering sekali mengikuti perlombaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) sejak mondok di Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan di Pariaman.

Baca Juga:  Cerita Pilu dari Stadion Kanjuruhan, Ibu Gendong Anaknya yang Meninggal

Bahkan Windu pernah dua kali berturut-turut menjuarai MTQ Tingkat Kabupaten Padangpariaman. Pernah juga dua kali mengikuti lomba yang sama tingkat provinsi di tahun 2019 dan menyabet harapan satu.

Lulus mondok di tahun 2020, Windu langsung dipanggil untuk menjadi guru kitab kuning di pesantren tempat dia menimba ilmu cabang Bungus. Di sini juga Windu mendapatkan rezeki untuk kembali bersekolah di Institut Agama Islam (IAI) Sumbar-Pariaman dan sekarang sudah menjadi mahasiswi semester 5 di jurusan Pendidikan Agama Islam.

“Dulu, terpikir untuk kuliah saja tidak. Kini malah dibiayai,” ucap putri dari pasangan buruh bangunan dan guru PAUD ini.

Windu menceritakan kesibukannya saat ini. Setiap hari selain hari Jumat, ia akan mengajar. Di hari Jumat, ia kuliah bersama 20 guru lainnya di pondok tempatnya mengajar. Selain itu, Windu juga sering mengisi kegiatan di beberapa masjid dan mushala sekitar rumahnya.

Apalagi di bulan Ramadhan, jadwalnya akan padat sebagai penceramah. “Saya melakukan semua kegiatan saya dengan ikhlas. Pukul 03.00 pagi sudah bangun untuk Tahajud, lalu dilanjutkan dengan tahfiz hingga subuh berjamaah,” kata Windu.

Setelah itu, akan dilanjutkan dengan mandi pagi dan mulai mengajar pukul 07.00. Pukul 09.00, ia beserta seluruh santri akan Shalat Dhuha, sebelum kembali melanjutkan kegiatan belajar mengajar.

Pukul 12.00, semua santri dan guru diwajibkan untuk tidur dan akan bangun kembali untuk Shalat Zuhur berjamaah. Baru setelah itu makan bersama. Beberapa kegiatan pesantren lain akan dilakukan hingga pukul 21.30 sebelum akhirnya ia bisa beristirahat.

Ia sangat senang membuat hari-harinya produktif dengan kegiatan positif. Bahkan di saat senggangnya diisi dengan berbagi pengalaman pada santri-santri juga mengajar mengaji untuk anak-anak yang ada di sekitar rumahnya.

“Kebetulan jarak rumah dari tempat kerja hanya 15 menit saja. Jadi kadang menggantikan ibu yang juga guru mengaji untuk mengajar bila ibu ada kendala,” sebutnya.

Windu berharap, apapun yang dia lakukan saat ini bisa sedikit banyaknya membantu keluarga dan menjadi contoh bagi adiknya yang masih duduk di sekolah dasar. Apalagi dengan mengikuti kontes ini adalah awal untuk mewujudkan cita-cita orang tuanya.

“Satu hal dalam waktu dekat ini dan semoga tercapai adalah menaikkan haji kedua orang tua dan selalu dibukakan selalu pintu rezeki oleh Allah,” tukasnya. (*)