Industri Pandai Besi di Sungaipua Agam, Nyaris Terlindas Zaman

10
BUTUH PERHATIAN: Salah seorang pekerja pandai besi di Sungaipua membuat alat pertanian. (Atas) salah satu produk yang dihasilkan perajin.(IST)

Industri pandai besi jadi kebanggaan masyarakat Nagari Sungaipua, Kecamatan Sungaipua, Kabupaten Agam. Bukan sembarang, senjata api jenis revolver pernah diproduksi di sini sewaktu perebutan kemerdekaan. Sayang, kini nasibnya bagai hidup segan mati tak mau. Bagaimana ceritanya?

Dentingan besi pabrik manufaktur (pandai besi) tradisonal sudah menjadi irama keseharian masyarakat di kaki Gunung Merapi ini. Bahkan, dulunya masyarakat setempat sangat bergantung dengan industri satu ini. Tak sekadar mata pencarian, tapi juga menjadi kebanggaan.

Di zaman perang kemerdekaan hasil pandai besi nagari seluas 14,43 kilometer persegi itu, menjadi senjata andalan para pejuang. Perajin sudah bisa merakit senjata jenis revolver dan memproduksi produk-produk logam untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Jelas, prestasi langka waktu itu.

Kini, situasinya berbanding terbalik. Di saat negeri ini sudah merdeka, namun industri warisan nenek moyang itu malah masih ”terjajah”. Produk-produk industri ini seakan dilindas produk industri global yang membanjiri pasaran. Tak sedikit di antaranya ”menyerah” dan gulung tikar.


Indra St Rajo Ameh, 60, salah seorang pelaku industri pandai besi Sungaipua mengatakan, saat ini yang menjadi kendala adalah sulit mencari bahan baku yang bisa dijadikan produk berkualitas.

”Kalau tidak ada bahan baku, kami tidak bisa memproduksi. Bahkan pernah satu kali kami tutup, karena kekurangan bahan baku, sehingga distribusi jadi terganggu, padahal permintaan banyak sekali,” jelasnya.

Untuk bahan baku, katanya, sebaiknya bahan sudah setengah jadi, karena lebih mudah mengolahnya dan bisa memperpendek waktu produksi, tentu dari segi harga bisa lebih bersaing.

Biasanya, dia menggunakan bekas pisau shinshow yang tidak terpakai lagi. Di samping itu, juga ada penduduk memakai bahan dari per mobil bekas. ”Kalau kita pakai bahan ini, butuh waktu lama menjadikannya sebuah sabit dan pisau, sehingga sulit memenuhi permintaan pasar,” jelasnya.

Kualitas barang harus utama, dengan kualitas bagus industri ini bisa tetap bersaing di pasaran. ”Apalagi, saat ini ada produk Tiongkok dari Medan yang mempunyai kualitas bagus. Kalau kita tidak arif, mungkin produk pandai besi Nagari Sungaipua bisa hanya tinggal nama,” katanya.

Indra satu dari puluhan perajin pandai besi yang masih bertahan sampai saat ini. Dulu sebelum menekuni warisan nenek moyang ini, dia telah melalang buana bekerja mulai dari berjualan hingga menjadi sopir. Tahun 2001, dia pulang dan kembali belajar dan menghidupkan industri pandai besi yang terbengkalai.

”Saat ini, kami sudah bisa memproduksi 8-10 kodi sabit per hari dan mempunyai 9 orang karyawan, tapi tempat pandai besi yang lain masih ada yang tidak memproduksi,” jelasnya.

Baca Juga:  Susi Septriani: Penerima Program SKSS Pariaman, Nyaris Tak Kuliah

Tempo dulu, katanya, hampir di setiap rumah ada industri pandai besi. Seiring berjalannya waktu, industri pandai besi ini hilang satu per satu, meskipun alat-alatnya masih tersimpan rapi, tapi tak ada yang akan menjalankannya. ”Pemuda cikal bakal pandai besi lebih suka merantau, daripada menghidupkan warisan ini,” jelasnya.

”Kami berharap, pemerintah membimbing dan membantu menyediakan bahan baku. Paling tidak kami bisa membeli bahan baku setengah jadi yang harganya terjangkau. Sehingga, bisa menekan biaya produksi,” jelasnya.

Hanya saja, katanya, semua elemen harus bangkit, jangan biarkan dirinya berjalan sendiri. ”Terlebih, kita sudah mempunyai branding Sungaipua, tinggal lagi membangkik batang tarandam. Mari kembali bangun Industri turun temurun ini, kalau serius alhamdulliah akan ada hasil. Saya yakin proses tidak akan mengkhianati hasil,” ujarnya.

Apalagi katanya, potensi nagari menjadi ujung tombak membangun perekonomian. Salah satunya warisan pandai besi ini.

Wakil Bupati Agam, Irwan Fikri mengatakan, pihaknya akan melakukan pembinaan terhadap pandai besi di Nagari Sungaipua, termasuk memberikan pelatihan dan keterampilan terhadap para perajin.

”Dengan pelatihan itu nanti, kita berharap produk pandai besi Sungaipua bisa bersaing di pasaran, warisan ini harus kita jaga secara bersama-sama,” jelasnya.

Modernisasi teknologi dan manajemen industri manufaktur paling tua di dunia dan paling dihandalkan ini, jelas mendukung produktivitas industri lainnya. Semua pihak harus memperhatikan industri ini dengan serius. Jika tidak, maka proses tinggal landas hanya sekadar slogan kosong saja. Artinya, bangsa ini akan tetap ‘tinggal dilandasan’ dengan mimpi yang tidak pernah terkabulkan dan mungkin makin tenggelam.

Pakar industri dan manajemen industri Unand, Wisnel menjelaskan, saat ini kalau ingin berkembang, ya harus beralih dari pengelolaan tradisional ke industri massal. Artinya, pengelolaan tidak lagi diproduksi satu dua-satu dua, tetapi sudah secara massal, sehingga biaya produksi bisa lebih mudah.

Untuk menyukseskan industrialisasi segala sektor, maka perlu ditingkatkan penguasaan teknologi dan manajemen produksi sekaligus. ”Modernisasi teknologi dan manajemen produksi inilah kunci bersaing secara nasional dan global,” jelasnya.

Jelas, semua tidak ingin industri pandai besi di Sungaipua ini hanya tinggal sejarah saja. Tinggal sekarang, bagaimana stakeholder memainkan peranan masing-masing mengangkat kembali kejayaan industri ini yang sudah kandung melegenda ini. (***)