Inspiratif: Maknai HUT Ke-76 RI, Sulap Pos Pemuda Jadi Sarana Belajar

8
ANTUSIAS: Anak-anak antusias belajar di Posko Ilmu Kelurahan Balaigadang, Kecamatan Kototangah.(IST)

Berawal dari cerita lepas di posko pemuda bersama 2 orang temannya, Dedi Setiawan berinisiatif mendirikan Posko Ilmu dengan menyulap posko pemuda untuk dijadikan tempat belajar bagi anak-anak di sekitar lingkungannya.

Sejak didirikan bulan Desember 2020 lalu, Posko Ilmu yang berada di dekat Kantor Lurah Balaigadang, Kecamatan Kototangah ini selalu ramai dikunjungi anak-anak maupun orang dewasa untuk belajar dan menambah wawasan ilmu pengetahuan secara gratis.

Salah satu inisiator Posko Ilmu, Dedi Setiawan kepada Padang Ekspres, kemarin (17/8) menceritakan awal berdirinya Posko Ilmu dilatarbelakangi oleh kondisi di mana banyak anak muda di lingkungan sekitar lebih banyak menghabiskan waktu melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat seperti bermain game atau lainnya.

“Kemudian di tengah pandemi Covid-19 saat ini banyak anak-anak di sini yang kesulitan dalam belajar daring, sehingga kami bertiga tertarik untuk membantu mereka dengan apa yang bisa kami lakukan,” kata Dedi.

Beranjak dari kondisi itulah, Pos Pemuda Balaigadang tersebut mereka sulap menjadi tempat yang bisa memberikan ilmu pengetahuan kepada siapa saja. Posko tersebut diberi nama sesuai dengan misi dan visi yakni Posko Ilmu.

Dengan fasilitas bangunan yang seadanya tidak menyurutkan langkah Dedi dan kedua temannya untuk menjalankan Posko Ilmu. Adanya donasi buku-buku bacaan dan pelajaran yang didapatkan, membuat dirinya yakin bahwa apa yang mereka lakukan didukung oleh banyak orang.

Mahasiswa semester 4 jurusan Sastra Minangkabau Unand itu mengungkapkan, kegiatan utama di Posko Ilmu adalah membantu anak-anak dalam belajar khususnya yang tidak maksimal dalam mengikuti pembelajaran daring.

Anak-anak yang belajar di Posko Ilmu berasal dari berbagai usia dan kelas mulai dari kelas 1 SD sampai 9 SMP. Bahkan ada di antara mereka yang putus sekolah karena ketidakmampuan ekonomi orangtua.

“Sejak di Posko Ilmu ini saya baru menyadari di lingkungan saya ada ternyata yang putus sekolah karena faktor ekonomi orangtua. Temuan ini menjadi pelecut bagi kami untuk semangat mengajarkan mereka tentang ilmu pengetahuan,” katanya.

Lebih lanjut Dedi menyampaikan, PBM dilaksanakan dari hari Senin sampai Jumat setiap minggunya. PBM dimulai dari pukul 16.00 sampai 18.00. Untuk jumlah pengajar rutin yang ada di Posko Ilmu setiap harinya ada 2 orang.

“Kadang untuk pengajar ini kami dibantu oleh sukarelawan yang berasal dari berbagai latar belakang seperti komunitas peduli baca, mahasiswa, guru, dan lainnya,” ungkapnya.

Untuk jumlah anak yang belajar di Posko Ilmu itu sekitar 20 orang. Namun untuk yang terdaftar saat ini ada sekitar 60 orang anak, tidak hanya berasal dari Kelurahan Balaigadang, tapi juga dari kelurahan lainnya.

Dalam proses pembelajaran, Dedi dan kawan-kawan banyak menemukan beberapa fakta tentang kondisi anak-anak. Salah satunya adalah banyak anak-anak yang belum fasih membaca padahal sudah berada di kelas 4 SD.

“Penyebabnya mungkin karena 3 semester ini belajar daring, jadi mungkin si anak ini jarang disuruh praktek membaca atau memang kesulitan dalam belajar daring itu sendiri,” tuturnya.

Fakta selanjutnya adalah beberapa anak yang terpaksa putus sekolah karena permasalahan ekonomi. Selain membantu memberikan pelajaran, Posko Ilmu berencana akan membuka paket belajar sehingga anak-anak tersebut bisa memiliki ijazah nantinya.

Semua kegiatan yang dilakukan di Posko Ilmu dilaksanakan secara gratis. Pendanaan kegiatan baik penyediaan buku, fasilitas, dan lainnya berasal dari donasi atau bantuan masyarakat sekitar dan orang-orang dermawan yang peduli dengan pendidikan anak-anak.

Apa yang dilakukan Dedi dan teman-temannya di Posko Ilmu tersebut juga mendapatkan perhatian dari sejumlah pejabat baik itu anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), DPRD, maupun Pemko Padang.

“Namun untuk Pemko Padang sejauh ini perhatian yang diberikan masih dalam bentuk kunjungan. Tentu kami berharap ada bantuan lebih seperti pendanaan atau bantuan fasilitas,” jelas Dedi.

Di momen HUT ke-76 RI ini, Dedi berharap apa yang telah mereka lakukan bisa memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan meskipun dalam skala kecil yakni di Kelurahan Balaigadang.

“Namun dengan gerakan kecil tersebut diharapkan bisa menjadi pemicu bagi pemuda di Indonesia untuk bisa berkontribusi bagi bangsa dan negara dengan cara mereka sendiri,” ungkapnya.

Sesuai dengan tema HUT RI ini yakni Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh, anak-anak Kota Padang dan Indonesia pada umumnya bisa menjadi generasi Indonesia yang tangguh dan berdaya saing. (***)