Zulkarnain: Satu Juz Satu Emas, Rumah Tahfizh Tanda Cinta Sang Guru

52

Usia Zulkarnain sudah setengah abad. Asalnya bukan dari Sumatera Barat. Ia lelaki dari Lombok yang berbini dengan dara dari Minangkabau. Ia guru honor yang mengajar di MTsN 6 Kabupaten Sijunjung. Zulkarnain, pantas dan patut disebut sebagai sumando ninik mamak.

Tanda cinta kepada istri. Tanda cinta kepada anak-anak. Tanda cinta kepada ranah bundo, ia ingin berbuat sesuatu yang penuh manfaat bagi umat dan bagi orang sekampung. Ia mulai berpikir, bagaimana memanfaatkan waktu seusai mengajar. Ia tak ingin waktu lapang sia-sia terbuang.

Muncul dalam ingatannya mendirikan Rumah Tahfizh. Idenya, disambut baik orang sekampung. Kemuliaan pikiran yang tulus akan senantiasa didukung ramai-ramai oleh umat. Apalagi, Rumah Tahfidz-nya ini; gratis !

Bahkan, tiap anak yang berhasil menghafal satu juz ayat Al-Quran, diberi ameh seemas. Ya 1 emas satu juz. Sudah 42 anak yang berhasil mendapatkan 1 emas. “Ini terlaksana atas dukungan masyarakat,” ujar Zul.

Sejalan waktu, rumah tahfizhnya menjadi ramai bagi anak-anak generasi muda belajar dan menghafal Al-Quran lalu mengamalkan dan membudayakan nilai-nilai Al-Quran dalam sikap hidup sehari-hari. Kini di rumah tahfizhnya itu ada sekitar 50 sampai 70 anak-anak penghafal Al-Quran.

Hafal, lalu amalkan !

Rumah tahfizh yang didirikan Zulkarnain yang tinggal di nagari Tanjung Bonai Aur (TBA) kecamatan Sumpurkudus ini berprestasi tingkat kabupaten, bahkan provinsi.
Nagari Tanjung Bonai Aur (TBA), Kecamatan Sumpurkudus.

Zulkarnain berlatar pendidikan Sarjana Hukum (SH) yang sejalan dengan mata pelajaran yang ia berikan, yakni Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan (PPKn). Orang-orang di kampung memanggilnya dengan “Ustadz Zulkarnain”.

Bagaimana awal mula ia mendirikan rumah tahfizh?

Semula ia aktif berkecimpung dalam kelompok majelis keagamaan. Kemudian berkembang menjadi kelompok tahfizh di Masjid dekat tempat tinggalnya, yakni Masjid Tahmid Jorong Kotobaru, Nagari TBA.

Alhasil, kelompok tahfizh asuhan Zulkarnain menjadi Rumah Tahfizh Madani Masjid Tahmid. Terakhir, dua orang anak didik Zulkarnain sukses mengharumkan nama Sijunjung. Mereka meraih juara II pada cabang tahfizh 5 Juz atas nama Jihan Kesuma, dan 10 Juz oleh Muhammad Farhan Maizar di ajang MTQ Nasional ke-39 Tingkat Sumatera Barat Sumbar.

Baca Juga:  Menyigi Surga Khusus Amai-Amai di Nagari Jaho, Ikon Nagari Sarat Sejarah

“Saya awalnya berniat ingin memakmurkan Masjid, salah-satunya adalah dengan mendirikan kelompok belajar Tahfizh anak-anak.Jadwalnya dibagi dua, yakni selepas Shalat Berjamaah Maghrib, dan Isya,” ujar Zulkarnain.

Ternyata, program tersebut mendapat respon positif dari masyarakat, jumlah anak-anak datang belajar lumayan banyak. Sampai akhirnya kelompok hafalan Alquran rintisan Zulkarnain diberi nama Rumah Tahfizh Madani.

“Saya hanya modal kemauan. Bahkan saya sendiri bukanlah hafizh.Tapi saya senang kalau anak-anak ramai ke Masjid dan menghafal Al-Quran dalam Rumah Allah itu,” tukas mantan Ketua BPN Nagari TBA periode 2013-2018.

Konsep yang diterapkan adalah dengan menerapkan metode muthaba’ah, atau menghafal dengan cara membaca berulang-ulang. Setiap murid memiliki progresnya sendiri. Tidak ada paksaan, namun mereka terus diberikan dukungan dan semangat. Paling cepat, 1 Juz hafal dalam empat hari.

Sekarang sudah ada yang 30 juz, 15, 10, 5 dan 1 juz. Jumlah hafalan tergantung kesungguhan dan progres murid masing-masing. Hingga kini jika ditotal sudah ada sebanyak 219 orang murid yang belajar tahfizh di Rumah Tahfizh Madani Masjid Tahmid Jorong Kotobaru tersebut.

“Setiap yang sudah memiliki hafalan harus dijaga.Menjaga hafalan itu paling sulit, mulai dari pandangan, perilaku dan sebagainya. Harus rajin muraja’ah (mengulang hafalan) dan tetap fokus pada waktunya,” ujar ustadz Zul seraya menambahkan,

“Menjadi penghafal Al-Quran bukanlah perkara mudah, tidak semua orang yang bisa melakukannya. Yang berat adalah menjaganya, dengan Al-Quran kita tidak boleh main-main. Meski sudah hafal sekian juz, kalau ada pantangan dilanggar, bisa hilang semua. Bahkan satu ayat pun tidak ingat lagi,”katanya.

Meski tidak memiliki latar belakang sebagai hafizh Quran, namun Zulkarnain terus bersungguh-sungguh mencetak para penghafal Al-Quran. Turut dibantu seorang ustadzah, Sahminar (47) yang ikut mendidik anak-anak di rumah Tahfizh Madani.

“Mereka berhasil berkat kemauan dan usaha mereka sendiri. Kita di sini hanya memotivasi dan melatihnya saja. Saya kalau ada yang setoran hafalan pasti mengiringi dengan melihat Al-Quran,” ucapnya pula. (atn)