Masjid Al Imam Kotobaru Pessel, Dirancang Insinyur Belanda dan Tiongkok

32
BERMAKNA: Bangunan Masjid Al Imam Kotobaru memadukan antara adat dan budaya di Nagari Kambang, Pessel.(YONI SYAFRIZAL/PADEK)

Menjadi salah satu masjid tertua di Nagari Kambang, Kecamatan Lengayang, Pesisir Selatan (Pessel), Masjid Al Imam Koto Baru tetap mempertahankan keaslian bangunan dan ornamennya.

Keasliannya masjid berdiri tahun 1926 itu tetap terjaga, karena setiap sisi bangunan masjid memiliki arti dan makna tersendiri. Ke semuanya, tidak bisa dipisahkan dengan adat dan budaya masyarakat setempat.

Dulunya, masyarakat Nagari Kambang menjadikan masjid itu tidak hanya sekadar tempat beribadah, tapi juga difungsikan sebagai tempat bermusyawarah menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk persoalan ekonomi.

”Masjid ini sudah beberapa kali direnovasi, namun kita bersama masyarakat dan ninik mamak di kenagarian ini tetap menjaga keasliannya,” kata Ketua Masjid Al Imam Kotobaru, Masri kepada Padang Ekspres, Selasa (19/4).

Menurut ceritanya, kata Masri, dirancang insinyur Belanda dan Tiongkok dengan perpaduan gaya Timur Tengah dan Eropa. Karena tidak pernah dirombak dari aslinya sejak mulai berdiri, sehingga Dinas Kepurbakalaan menjadikan masjid itu sebagai cagar budaya.

”Bila secara umum masjid hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, namun di Kotobaru Nagari kambang Masjid Al Imam juga menjadi lambang kesatuan agama dan adat. Hal itu tertuang dalam tambo adat Nagari Kambang yang hingga saat ini masih tetap terwarisi dengan sebutan ”Musajik limo, koto sambilan, imamnyo di Kotobaru,” ucapnya.

Selama bulan Ramadhan 1443 H ini, masjid yang berdiri di jantung Nagari Kambang tepatnya di Balai Kamih Kampung Kotobaru itu, memiliki banyak kegiatan keagamaan. ”Saya katakan demikian, sebab setelah Shalat Tarawih, murid TPA dan TPSA di kampung ini melaksanakan kegiatan tadarus. Ini dilakukan hingga pukul 23.00 setiap malamnya,” jelas Marsi.

Diakuinya bahwa kenyamanan jamaah untuk beribadah di masjid itu sudah terasa sejak masjid itu mulai berdiri. Arsitek Belanda dan Tiongkok merancang standar kenyamanan masjid ini secara matang. Bahkan, bisa dikatakan Masjid Al Imam tersebut lebih unggul dibanding masjid-masjid lainnya di nagari itu.

Sejak berdiri masjid ini sudah memiliki sejumlah fasilitas utama. Di antaranya, ruang shalat yang nyaman, perpustakaan, termasuk juga TPA/TPSA. Di samping juga tempat wudhu, parkir dan lainnya.

”Mungkin karena Masjid Al Imam ini memiliki peranan sangat strategis di masa lalu. Sehingga dirancang secara matang. Selain tempat ibadah dan syiar agama, juga tempat memecahkan berbagai persoalan ekonomi warga Kambang,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kisah Nathaya dan Navice, Kakak Beradik Peraih 9 Medali di Olimpiade

Usma Werni, 40, guru TP/TPSA Masjid Al Imam Koto Baru menambahkan bahwa keberadaan pustaka di masjid itu memberi nilai tambah bagi masyarakat sekitar untuk datang membaca buku-buku bermutu dan berkualitas.

Selama Ramadhan, selain anak TPA dan TPSA, juga cukup banyak warga datang untuk membaca buku-buku bermutu yang tersedia di pustaka masjid tersebut.

”Pustaka masjid yang terdapat di samping kanan depan masjid ini, selalu buka selama Ramadhan mulai pukul 08.00, hingga sore. Di sini terdapat beberapa jenis buku mulai dari soal fiqih, tauhid dan lainnya,” jelas Weni.

Dijelaskannya juga bahwa di masjid itu juga masih tersimpan kitab-kitab kuning lama, kitab-kitab al-Umm, al-Majmu Syarah Muhadzab, Irsyadus Sari Syarah Shahih Bukhari, Syarah Ihya (Ittihaf Sadatil Muttaqin), Tuhfatul Muhtaj, dan lainnya.

Namun, beberapa beberapa kitab itu cuma dibaca oleh peminat-peminat khusus saja, seperti santri pondok pesantren dan guru agama, serta lainnya. Wali Nagari Kambang Irmawardi ketika dihubungi mengatakan bahwa Masjid Al Imam itu masjid tertua nagari itu, bahkan di Kecamatan Lengayang umumnya.

”Masjid dengan bentuk bangunan unik dan sangat menarik ini, dirancang insinyur Belanda dan Tiongkok dengan perpaduan gaya Timur Tengah dan khas Eropa. Karena keunikan itu, Dinas Kepurbakalaan menjadikan masjid itu jadi cagar budaya,” ungkapnya.

Dia juga menjelaskan bahwa pada zaman penjajahan Belanda dulu, Kampung Kotobaru banyak didiami warga Tiongkok. Hal itu bisa dilihat dengan banyaknya rumah bergaya arsitektur Tiongkok yang ditinggalkan penghuninya karena pindah ke Padang saat masa perjuangan kemerdekaan.

Nuansa Masjid Al Imam membawa kita seakan-akan berada di masa lalu. Kubahnya antik dan menarik berupa payung besar, memiliki arti tigo payuang sakaki.

”Tigo payuang sakaki adalah struktur adat yang tidak lekang hingga kini dan lekat dengan bangunan itu. Kemudian, reliefnya yang juga sangat menarik perhatian yang menggambarkan kalau masyarakat Nagari Kambang sangat menjaga seni dan keindahan,” tutupnya. (***)