Bak Hidup Kedua, Yayasan IPWL Karunia Insani Beri Harapan Mantan Pecandu

47
SEMANGAT: Pasien Yayasan IPWL Karunia Insani mengikuti kegiatan personality class, kemarin.(ANDIKA/PADEK)

Selalu ada kesempatan kedua bagi siapapun. Tak terkecuali bagi mantan pecandu narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza) untuk melanjutkan kehidupan baru.

Hal itu dilakukan oleh Yayasan IPWL Karunia Insani yang mencoba menyembuhkan pasien mantan pencandu Napza dengan metode Therapeutic Community (TC). Seperti apa metodenya?

YAYASAN IPWL Karunia Insani berada di jalan Gang Sehati RT 003 RW 002 No 54 Kelurahan Lubukbegalung Nan XX, Kecamatan Lubukbegalung, Kota Padang. Jika berkunjung ke sana, maka ada sekitar belasan orang yang dulunya merupakan pencandu napza saat ini tengah berjuang untuk bisa sembuh dan terlepas dari belenggu dari barang haram tersebut.

Salah satu pasien yang menjalani rehabilitasi di sana adalah AKZ, 22. Kepada Padang Ekspres ia menceritakan, banyak orang yang melakukan diskriminasi kepada dirinya ketika mengetahui dirinya merupakan pecandu narkoba yang tidak akan memiliki masa depan.

Ia mengaku tertekan selama ini, karena perlakuan yang bersifat diskriminatif terhadap korban seperti dirinya. Ia bersama korban lainnya hanya menginginkan kehidupan yang normal sama seperti orang lain yang bisa menghasilkan pada usia produktif.

“Sebelumnya, kami juga tidak mau berbuat seperti ini, kami hanya butuh support, dorongan dari keluarga dan masyarakat agar mengajak kami berdiskusi, mendengarkan keluh kesah kami, agar tidak masuk lagi ke dunia hitam ini,” ungkapnya.

AKZ mengatakan, selama berada di Yayasan IPLW Karunia Insani, yang hilang dan dicari selama ini ia dapatkan kembali. Pasalnya, saat pelaksanaan rehabilitasi, petugas dan pihak yayasan memperlakukan mereka sama seperti anggota keluarga, yang selama ini tidak ia dapatkan di dalam keluarganya.

Ia bersama korban lain diajarkan bersikap selayaknya orang lain, tanpa ada sikap pilih kasih di yayasan. Berbagai macam pengalaman berharga ia dapatkan di yayasan IPLW Karunia Insani, mulai dari diajarkan bersikap, berkomunikasi, mandiri dan produktif saat sudah berada di lingkungan masyarakat.

“Sebelumnya saya bersama rekan-rekan sangat pendiam dan mengurung diri. Namun seiring berjalannya waktu, kita diajak untuk berkomunikasi, dan menahan keinginan yang selama kami dapatkan dengan mudah, dengan menjual barang-barang di rumah, dan segala macam cara yang kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan kami,” jelasnya.

Ia mengaku pertama masuk panti rehab, kesulitan dan memberontak sehingga mengganggap remeh aturan yang diadakan oleh pihak yayasan. “Pertama, pas masuk di sini, saya berontak dan melawan kepada petugas, sehingga menyebabkan sedikit pertikaian antara saya dan petugas,” ujarnya.

AKZ akan membuktikan kepada masyarakat bahwa mereka yang selama ini dianggap tidak berguna dan banyak menyebabkan masalah dalam masyarakat bisa berubah dan berbaur kembali dalam masyarakat di kemudian hari.

Ia menekankan kepada masyarakat dan generasi muda agar senantiasa tidak mengikuti jejak mereka. Karena ia sendiri sudah merasakan betapa pahitnya dikucilkan oleh keluarga dan lingkungan.

Sementara itu, IPWL Karunia Insani cabang Sumbar, merupakan salah pelayanan kepada pecandu narkoba berbasis falsafah kehidupan. Di mana lembaga ini menyediakan jasa rawatan bagi pengguna napza yang dilakukan secara intens.

Proses rehabilitasi dilaksanakan selama enam bulan. Tujuannya mengubah perilaku negatif ke arah yang positif dan pola pikir pengguna napza agar lebih baik lagi. Rillah Putra selaku Ketua IPWL Karunia Insani memaparkan bagaimana alur proses rehabilitasi yang dilakukan di IPWL Karunia Insani.

Metode yang digunakan untuk menjalankan proses rehabilitasi adalah Therapeutic Community (TC), yaitu suatu metode yang berada dalam proses rehabilitasi sosial, merupakan terapi pemulihan.

Dengan sebuah metode pemulihan yang dilakukan dalam komunitas yang memiliki permasalahan cenderung sama dan memiliki tujuan sama yaitu untuk menolong diri sendiri serta menolong orang lain, CBT (cognitiv behavior therapy), MI (motivational interviewing), spiritual dan pendekatan 12 langkah NA.

Demi kelancaran program rehabilitasi dikendalikan dengan terencana, seksama dan terpadu dengan bimbingan para konselor dan bekerjasama dengan berbagai tenaga ahli (psikolog, psikiater, dokter, tokoh agama). “Saat ini ada 18 klien yang sedang menjalankan proses rehabilitasi di tempat kami,” ucapnya.

Alur pelayanan Yayasan Karunia Insani Cabang Sumatera Barat dimulai dari screening. Itu merupakan proses penggalian informasi menggunakan assist untuk semua tingkat permasalahan atau pengguna zat berisiko pada klien. Intake, persetujuan antara pihak yayasan dengan keluarga klien dan observasi, tahap awal untuk menstabilkan kondisi fisik maupun mental klien.

Selanjutnya, assesment, setelah klien menjalani masa observasi, akan dilakukan tahap assesment. “Assesment adalah kegiatan yang dilakukan konselor terhadap klien untuk menyusun rencana terapi,” jelasnya.

Proses selanjutnya adalah Joint  Proggrame. Di sini klien sudah selesai menjalani masa observasi dan dilanjutkan menjalani program yang sudah di susun sebelumnya oleh konselor.

Program tersebut di antaranya CBT (Cognitive Behavioral Therapy) merupakan psikoterapi yang menggabungkan antara terapi perilaku dan terapi kognitif yang didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia secara bersama dipengaruhi oleh pemikiran, perasaan, proses fisiologis serta konsekuensinya pada perilaku.

Selanjutnya ada Motivational Interviewing (MI) merupakan metode untuk memfasilitasi klien pengguna napza agar mampu menapaki tahapan perubahan di dalam diri dengan memaksimalkan potensi dirinya.

Tahap berikutnya konseling, bantuan yang diberikan oleh para ahli kepada klien agar dapat menjembatani permasalahan yang dihadapi klien. Dan Monthly Report, laporan  yang dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan klien selama satu bulan.

Proses selanjutnya, Family Dialog, proses pertukaran informasi antara konselor dengan keluarga klien dengan tujuan keluarga diharapkan dapat memecahkan masalah adiksi yang dialami klien dan discharge.

Proses selesainya klien menjalani program rehabilitasi serta aftercare, pihak Yayasan Karunia Insani Cabang Sumbar terus melakukan evaluasi terkait perkembangan klien yang sudah selesai rehabilitasi.

Sementara itu, salah seorang karyawan IPWL Karunia Insani, Afif Raihan Irawan mengatakan, selama ini keluhan yang didapat selama proses rehabilitas karena kekurangan sarana dan prasarana untuk pasien rawat inap.

Ia mengatakan, lembaga sangat membutuhkan dukungan dari masyarakat dan pemerintah karena menurutnya penyalahgunaan narkoba merupakan perhatian bersama, narkoba merupakan suatu penyakit masyarakat yang tidak bisa disembuhkan namun bisa dipulihkan.

Artinya, seorang pengguna narkoba bisa saja kembali ke dunia semula karena faktor lingkungan yang tidak mendukung dan mendiskriminasi, namun dapat dipulihkan kembali dengan mengembalikan status sosialnya di masyarakat.

Pihaknya akan terus membuka pintu terhadap masyarakat yang memiliki anak yang ketergantungan obat-obatan untuk segera direhabilitasi untuk memutuskan rantai penyebaran kasus penyalahgunaan narkoba. (***)