Membanggakan! Dasrizal Naini, Qari Sijunjung: Juara MTQ Internasional 2022

75
PRESTASI INTERNASIONAL: Dasrizal Nainin (depan, dua dari kiri), qari asal Kabupaten Sijunjung saat menjadi juara I pada MTQ Internasional 2022 di Kuwait, beberapa hari lalu.(IST)

Membanggakan. Qari asal Kabupaten Sijunjung Dasrizal Nainin, 37, mengukir prestasi gemilang. Tak tanggung-tanggung dia sukses pada event berskala internasional. Yakni juara I dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional di Kuwait.

SEYOGYANYA bukanlah perkara mudah menjadi sang juara dalam sebuah kompetisi. Apalagi pada ajang internasional. Dibutuhkan perjuangan ekstra, diikuti proses latihan secara berkelanjutan, plus bimbingan ahlinya.

Selain itu ada juga faktor mental dan rasa percaya diri dalam menghadapi berbagai ujian, cobaan, dan tantangan. Tak kalah penting lagi, dukungan dari pihak keluarga, kerabat, serta orang-orang terdekat. Baik secara mental, materi, maupun non materi. Hingga akhirnya segala apa yang dihadapi dapat dilewati dengan baik.

Demikian halnya dengan putra daerah Kabupaten Sijunjung Dasrizal Marah Nainin, warga Nagari Padanglaweh, Kecamatan Koto VI, Kabupaten Sijunjung. Sukses yang berhasil ditorehnya pun diwali dengan perjalanan panjang yang diikuti perjuangan keras. Sebelum akhirnya putra tunggal bersuku Melayu anak pasangan Marah Nainin dan Darusiah ini meraih prestasi.

Yakni menjadi pemuncak dalam lomba seni baca Al Quran MTQ di Kuwait, Jumat (14/10) lalu. Tak pelak keberhasilan Dasrizal seketika mengharumkan nama Indonesia, serta Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada khususnya.

Saat diwancarai Padang Ekspres Senin (24/10), dia sempat berbagi sekelumit cerita, sebelum akhirnya sukses mengukir prestasi gemilang tingkat dunia itu. Sebelumnya dia juga meraih Juara I MTQ di Kuala Lumpur Malaysia tahun 2013, dan Juara II MTQ Nasional XXVIII di Padang 2020 lalu .

Dalam ajang MTQ di Kuwait, menurut Dasrizal terdapat sejumlah utusan negara menjadi lawan terberat, hingga Ia dituntut harus bisa tampil secara maksimal. Salah-satunya adalah peserta dari negara tuan rumah sendiri, Tanzania, dan Palestina.

Dasrizal tampil pada hari ke-tiga perlombaan, memegang lot nomor 12, membaca Surat Hud Ayat 24. Alhasil, dalam acara puncak pembacaan pengumunan hasil pertandingan, Dasirzal selaku utusan Negara Indonesia dinyatakan keluar sebagai Juara I.

Adapun urutan negara pemenang, yakni Juara I diraih oleh Indonesia, disusul Kuwait (Juara II), Tanzania (Juara III), Komoro (Peingkat IV, serta Palestina (Peringkat V).

“Kebetulan saya baru sampai di tanah air Minggu (23/10) malam. Alhamdulilah kita ditetapkan sebagai Juara I dalam. Terimakasih saya ucapkan pada Kementerian Agama, tim pembimbing dan semua pihak yang tekah ikut membantu,” ujar Dasrizal.

Atas prestasi tersebut, putra Sijunjung jebolan MAN 2 Padang dan S1 jurusan Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, S2 Islamic Studies Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini pun berhak menbawa pulang hadiah sebesar 5000 dinar, atau setara Rp 250 juta. Seiiring dengan itu Pemerintah melalui Kemenag RI juga akan memberikan reward sebesar Rp 25 juta.

“Alhamdulilah. Rencana hadiah tersebut akan saya manfaatkan untuk biaya rehap rumah, sebahagian lagi diwakafkan untuk Yayasan Tilawah Alquran di Kampung, Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII , Kabupaten Sijunjung,” ungkapnya pula.

Ditanya soal resep sukses meraih suksesinya, Dasrizal mengaku, setiap hari rutin membaca Al Quran. Yakni tiap ba’da Subuh dan Maghrib. Hal itu bahkan sudah dijalaninya sejak masih anak-anak, dan sampai sekarang terus dijalani. Dengan demikian seni baca Al Quran terus diulang, dan surat yang dibaca pun senantiasa divariasikan.

“Bagi saya membaca Al Quran justru sudah jadi candu, dan itu sudah berlangsung sejak masih anak-anak, hingga sekarang menjadi Dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta,” tukas suami tercinta Febriani Yunita ini.

Menurutnya menbaca Al Quran membawa ketenangan, kesejukkan, dalam hati. Maka dalam situasi apapun Dasrizal selalu menyempatkan diri untuk mengaji, bahkan juga disela kesibukan, dan saat dalam perjalanan.

“Sewaktu masih kecil di kampung saya rajin ke surau, serta sudah punya banyak guru mengaji, dan tiap mereka hebat-hebat,” imbuhnya pula.

Guna menyemarakkan seni baca Al Quran, Dasrizal berharap agar rumah-rumah baca Al Quraan dapat senantiasa diaktifkan sebagaimana mestinya. Proses pembelajaran jangan hanya dioptimalkan ketika hanya akan ada perlombaan saja, namun harus terus-menerus diasah.

Menjadi qari tidak bisa dilakukan secara instan. Sebab ayat-ayat dalam Al Quran adalah firman Allah SWT. Maka Al Quran harus dicintai dengan cara membacanya secara rutin, walau sedang sesibuk apapun. (***)