Surau Tenggih Calau Nagari Muaro, Berstatus Peninggalan Purbakala

24
BAGONJONG: Arsitektur Surau Tenggih Calau Nagari Muaro, Kabupaten Sijunjung.(YULICEF ANTHONY/PADEK)

Islam tidak berkembang begitu saja di ranah Lansek Manih (Kabupaten Sijunjung, red), melainkan diawali perjuangan berat seorang ulama besar Syekh Abdul Wahab, berpusat di Calau, Subarang Sukam, Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. Beliau pun mendirikan sebuah rumah ibadah bernama Surau Tenggih arsitekturnya perpaduan budaya Minang-Arab.

Tahun berganti musim bertukar, kini tinggal sejarah untuk dikenang anak cucu. Bahkan, sebagian kalangan cerita tersebut dipandang sebuah hal sangat penting. Sebagai bukti sejarah, bangunan tua terbuat dari kayu (Surau Tenghih, red) tersebut masih tegak kokoh beratap bagonjong dan dilengkapi enam buah tiang penyangga.

Di dalamnya terdapat kelambu putih tempat bersuluk, sejumlah manuskrib dan kitab-kitab kuno bertulisan Arab tersimpan rapi di dalamnya. Tahun 1940-an bangunan tersebut sempat dibakar kolonial Belanda.

Lalu, kembali direnovasi masyarakat secara bergotong royong dan bagian atap semula dari ijuk berganti seng. Nuansa religius dalam kompleks Kampung Calau juga dilengkapi dengan berdirinya tempat pemondokan, serta lima bangunan Surau Kayu yang berfungsi untuk menampung jamaah bila sewaktu-waktu surau utama penuh.

Plus, tepian tempat berwudhu yang airnya tak pernah kering meski bertahun-tahun musim kemarau. Kompleks Surau Tinggi Calau sangat dikenal sebagai pusat kajian, mendalami ilmu agama bagi masyarakat seantro Sijunjung. Mulai dari ilmu fiqih, hadis, pendalaman Al Quran, tauhid, dan lainnya.

Masih dalam kompleks tersebut, berjarak sekitar 10 meter terdapat sebuah kompleks pemakaman di dalamnya terdapat Makam Syekh Abdul Wahab, diapit dua makam penerusnya Syekh Djalaluddin dan Syekh Ahmad.

Saat ini fisik bangunan telah dipugar dan secara resmi berstatus obyek peninggalan sejarah purbakala di bawah naungan Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar. Meski di antara bangunan di kompleks tersebut, kini kondisinya tampak mulai melapuk dimakan usia.

Imam Calau, Umar SL Tuangku Mudo menuturkan, Surau Tuo (Surau Tenggih Calau) sampai kini masih beroperasi. Terlebih selama bulan suci Ramadhan senantiasa ramai jamaah.

Berbicara Surau Tenggih erat kaitannya dengan sejarah berdirinya Islam masa lampau. Yakni, alkisah seorang ulama besar bernama Syekh Abdul Wahab, penyebar Islam pertama di wilayah Sijunjung sekitarnya.

Berpusat di Kampung Calau, Jorong Subarang Sukam, Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung. Beraliran Tariqat Satariyah, berguru ke Syekh Burhanudin, Ulakan, Pariaman, Sumbar. Di mana, waktu itu penduduk negeri masih mayoritas berpaham animisme.

Bahkan, beraliran yang bertentangan dengan nilai/ ajaran Islam. Sebagai bukti sejarah, sampai kini masih berdiri bangunan tua (dari kayu) Surau Tinggi di Calau berasitektur atap bagonjong, Tepatnya di Jorong Subarang Sukam dahulunya menjadi pusat tempat ibadah Syekh Abdul Wahab.

Baca Juga:  Kisah Nathaya dan Navice, Kakak Beradik Peraih 9 Medali di Olimpiade

Di dalamnya, tersimpan puluhan manuskrib, kitab-kitab kuno yang dahulunya menjadi landasan bagi jamaah mendalami ilmu agama. Sebagai bentuk penegasan, Umar SL menunjukan daftar silsilah (mashab) Syekh Abdul Wahab hingga berhulu ke Nabi Muhammad SAW.

Di mana, Abdul Wahab sendiri tercatat berada diurutan ke-33. Silsilah tersebut diabadikan dan dibingkai khusus di dinding arah kiblat. Di urutan pertama tertulis nama Nabi Besar Muhammad SAW, berlanjut Imam Ali Murtadho, Husin Syahid, Imam Zainu Abas, Imam Muhammad Ali Bakar, Imam Ja’far Shidiq, Abu Yazid Bustami.

Selanjutnya, Syekh Muhammad Maghribi, Syehk Aribi Madinah’ Atiq, Habib Zufri Turkit Tusi, Lutub Habib Haqqo Qolaqoni, Qhodilah Kholilah, Muhammad Ahif, Muhammad Arif. Lalu, Abdus Syatharoh, Imam Qhudi Syatharoh, Ahad Baitullah, Aqholudri, Muhammad Ali Asyiq, Wajannatuddin Alwi, Sya’adilah, Muhammad Hasnawi, Syekh Abdul Kusasy, Syekh Abdur Rauf Aceh, Syekh Burhannuddin Ulakan.

Berikutnya, Syekh Abdurrahman, Syekh Khairuddin Marungki, Syekh Jalaluddin Tanjung Medan, Syekh Idris Mufti Tanjung Medan, Syekh Abdul Hasan Mufti Ulakan, Syekh Qusyasy Tibarau, Syekh Anikuddin Pudak Sijunjung, Syekh Abdul Wahab Calau, Syekh Jalaluddin Calau, hingga Syekh Ahmad Calau.

”Itulah daftar silsilah keguruan Syekh Abdul Wahab hingga berhulu pada Rasulullah, Nabi Muhammad SAW,” tegasnya.

Ditambahkan seorang Pewaris Calau, Bujang Gunjo, perjuangan Syekh Abdul Wahab dalam menyebarkan Islam di bumi Sijunjung sangatlah berat. Di mana, masa itu masyarakat masih berkeyakinan beragam. Bahkan, di antaranya bertentangan dengan ajaran Islam.

Beliau konon datang dari dari daerah Aru Nagari Kumanis. Sesampai di Calau Muaro Sijunjung, perjuangannya didukung seorang tokoh masyarakat bernama Datuak Tapowuok. Berkat perjuangan cukup panjang, akhirnya didirikan tempat ibadah bernama Surau Tinggi. Kemudian, berlanjut pembagunan Masjid Tuo Istiqomah di Jorong Tangah.

Beberapa tahun lalu terungkap sebuah alkisah, kalau Syekh Abdul Wahab ternyata garis keturunan Tuangku Imam Bonjol. Hal ini terkuak setelah datang rombongan masyarakat dari Bonjol. Di mana, mereka membuka lembaran sejarah garis keturunan Tuangku Imam Bonjol yang sempat hilang ratusan tahun silam.

Dikaitkan dengan sejarah yang didapatkan tokoh adat, tokoh masyarakat Sijunjung akhirnya disepakati Syekh Abdul Wahab keturunan Tuangku Imam Bonjol. Kesepakatan ini dikukuhkan lewat sebuah ritual adat (acara syukuran) ditandai dengan menyembelih seekor kerbau di Kampung Galau. (***)