Nasib Siswa dan Mahasiswa Terisolir Belajar dan Kuliah Online

Ilustrasi

Kegiatan belajar dan perkuliahan dari rumah selama pandemi ternyata tidak menguntungkan bagi pelajar dan mahasiswa yang berdomisili di daerah terisolir. Untuk mendapatkan jaringan internet, mereka berjalan puluhan kilometer, mendaki bukit dan menuruni lembah agar tugas sekolah dan perkuliahan bisa terkirim ke dosen dan guru.

Kondisi demikian dirasakan mahasiswa yang berasal dari Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok selama pandemi Covid-19. Ya, daerah terpencil dan terisolir itu memang tidak terjangkau akses internet.

Beberapa waktu lalu, sejumlah pelajar dan mahasiswa yang bersekolah dan kuliah di luar Tigolurah hanya mendapatkan satu titik sinyal di Nagari Simanau. Titik tersebut berada di sebuah tebing di sisi jalan menghubungkan kecamatan itu dengan Nagari Sirukam di Kecamatan Payung Sekaki.

Titik tersebut kemudian ramai dikunjungi remaja dan pemuda dari Nagari Simanau, Rangkiangluluih, Batubajanjang, Sumiso dan Garabakdata. Dari pusat Nagari Simanau, jaraknya sekitar 7 kilometer dan dari Nagari Rangkiangluluih sekitar 14 kilometer. Sementara, dari Nagari Sirukam di Kecamatan Payung Sekaki, jaraknya mencapai 20 kilometer.

Di sana setiap harinya, puluhan mahasiswa asal nagari-nagari tersebut mengunjungi titik itu, terutama antara pukul 08.00 hingga 12.00. Beragam aktivitas dilakukan mulai mengirim tugas, absensi online, mencari bahan kuliah hingga hanya sekadar utak-atik smartphone.

“Saya ke sini hanya untuk mengirim tugas dan mencari bahan tugas lainnya. Tapi jaringannya GSM, geser sedikit mati, makanya di sini kita saling mengerti aja,” ungkap Rani Chintia, 21, mahasiswi asal Universitas Negeri Padang.

Ia sengaja datang ke tempat itu untuk mengirim tugas dan absen online dengan dosen. “Kalau di rumah sama sekali tidak ada jaringan internet, meskipun bisa digunakan untuk menelepon,” tuturnya.

Tak hanya itu, titik internet yang kuat sinyalnya pun hanya di pinggir jalan tersebut. Bagi mereka yang mengirim tugas, kuliah online, ataupun mencari bahan tugas diprioritaskan untuk menduduki titik sepanjang 10 meter tersebut. “Bagi yang hanya sekadar chatting, update status dan lainnya bisa di tempat lain, tapi kecepatan internetnya agak lelet,” paparnya.

Riko, 24, warga Simanau mengatakan ia dan teman-temannya sudah menemukan beberapa titik yang bisa mengakses internet. Tapi tidak secepat di tepi jalan tempat semula, namun cukup untuk sekadar chatting dan update status.

“Kadang kami yang laki-laki di titik itu, yang letaknya agak di atas bukit. Jadi ke sana harus mendaki bukit yang penuh semak belukar dulu. Setelah perempuan pulang, baru kami pindah ke spot utama itu,” katanya.

Sementara itu, Ria, 20, mahasiswi lainnya menyebut ia dan teman-temannya sering ketinggalan informasi terkait tugas dan pembelajaran. Misalnya, jadwal tiba-tiba berubah dari kampus. Sebab, mereka tidak mendapatkan informasi terbaru setiap saat karena tidak adanya akases internet.

Selain itu, untuk update hanya bisa dilakukan di lokasi di Nagari Simanau tersebut. Dan untuk mencapai lokasi di tengah rimba itu ia harus berjalan sangat jauh.

“Untuk menghadang rasa takut dalam menembus perjalanan menempuh rimba ini, kami berangkat berkelompok. Jaraknya mencapai 5 hingga 10 kilometer di jalanan yang sangat lengang dan kondisi jalan yang penuh lubang. Di beberapa titik juga ada longsoran,” katanya.

Menyikapi kondisi ini, Tim Monev PSBB Kabuapaten Solok yang dipimpin Kepala Dinas PUPR Syaiful, bersama Sekretaris Dinas Pertanian Miharta Maria, dan Sekretaris Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpa du Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPM PTSP Naker) Marcos Sophan menyambangi lokasi tersebut, Jumat (24/4) lalu.

“Kami prihatin dengan kondisi ini, kemarin sudah kami belikan tambahan tikar dan spot tersebut dikasih kursi kayu dan atap, agar mereka nyaman dalam belajar online,” ujar Kepala Dinas PUPR, Syaiful saat berkunjung langsung ke tempat tersebut.

Ia mengatakan, ini sudah menjadi pekerjaan rumah Pemkab Solok terutama persoalan keterbatasan akses internet di beberapa daerah. Dengan temuan ini, pihaknya akan menyampaikan langsung kepada bupati dan dinas terkait. “Semoga persoalan ini bisa dapat diselesaikan secepatnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Solok, Deni Prihatni, mengakui hingga saat ini, memang masih ada sekitar 14 nagari yang termasuk blank spot area. “Kami akan usahakan mengurangi ini ke depannya, melalui pembangunan menara mini,” sebutnya.

Pihaknya juga sudah mengajukan program Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) ke Kementerian Kominikasi dan Informatika. Namun status Kabupaten Solok yang bukan daerah tertinggal, membuat program tersebut tidak bisa dijalankan.

“Program Bakti itu hanya untuk kabupaten tertinggal. Sangat disayangkan. Yang jelas kita upayakan selalu untuk mengurangi daerah tidak terjangkau sinyal, biar masyarakat bisa berkomunikasi di tiap sudut nagari,” ujarnya.

Tahun 2019 lalu, khusus kawasan blank spot area, Pemkab Solok juga telah memasang jaringan internet lewat satelit di 12 nagari yang termasuk daerah tertinggal. Ini sebagai upaya pemerataan jaringan komunikasi.

Tapi permasalahannya, jaringan internet satelit, daya jangkaunya tidak terlalu luas. Akibatnya masih terpusat di sekitaran pusat nagari. Hal ini disebabkan banyak kawasan yang belum mempunyai tower Base Transceiver Stasition (BTS).

“Kendalanya dalam menginisiasi pemasangan tower BTS tersebut biayanya yang sangat mahal. Satu BTS biayanya mencapai satu miliar rupiah, ini tidak mampu diakomodir Pemda. Lalu untuk tower mini ada biaya tambahan sebesar Rp 100 juta setiap bulan,” pungkasnya. (*)