Kiprah TK RA Bakti 36 Sipora Jaya: Berprestasi, Lahirkan Generasi Qurani

92
MEMBANGGAKAN: Rosmaida Yudas dan Kepala Dinas Pendidikan Kepulauan Mentawai, Oreste Sakeru berkunjung ke TK RA Bakti 36 beberapa waktu lalu.(IST)

Eksistensi TK Raudatul Adfal (RA) Bina Akhlak Keimanan Takwa Islam (Bakti) 36 Sipora Jaya memang tidak diragukan lagi. Lebih dari 25 tahun telah melahirkan generasi Islam yang Qurani. Bagaimana kiprahnya?

TK RA Bakti 36 merupakan salah satu dari 14 TK Bakti di bawah naungan Yayasan Pendidikan Bakti Wanita Islam (YPBWI) yang ada di Kepulauan Mentawai.

Selain sebagai salah satu TK tertua di Kepulauan Mentawai yang berdiri semenjak tahun 1995, sekolah ini kini juga menjadi satu-satunya TK Islam percontohan di Kepulauan Mentawai.

Berbagai raihan prestasi juga telah didapuk oleh TK yang berada di jalan Raya Tuapejat Kilometer 7 atau berada di samping pasar ibu Sipora Jaya ini.

Baik di tingkat kabupaten sendiri, maupun tingkat Provinsi Sumatera Barat. Baru-baru ini, TK Bakti 36 telah meraih prestasi di bidang parenting atau mewarnai yang diadakan di Kabupaten Darmasraya. Begitu juga prestasi di bidang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat anak-anak.

Hal itu tentunya tidak terlepas dari metode pembelajaran yang di terapkan di sekolah binaan Kementrian Agama (Kemenag) Kepulauan Mentawai dan juga pengawasan dari dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kepulauan Mentawai.

Dimana, sistem pembelajaran dibagi dalam dua kategori, yakni, pendidikan umum dan pendidikan agama Islam.

“Dari hari Senin sampai hari Kamis kita mengajarkan pelajaran umum. Sedangkan, untuk Kamis hingga Jumat kita kenalkan dasar-dasar agama Islam, hingga belajar tahfiz Quran dan menghafal hadits,” ungkap Jumaini, selaku kepala sekolah TK RA Bakti 36 Sipora Jaya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Ani ini, saat ini ada empat orang tenaga pengajar di TK RA Bakti 36 Sipora Jaya dan ditambah 1 orang guru tahfiz.

Dengan jumlah ruangan belajar (rombel) sebanyak 3 ruangan, terbagi kepada 1 lokal untuk TK A dan 2 lokal untuk TK B. Sedangkan, untuk jumlah peserta didik sendiri, saat ini mencapai 55 orang.

Keunggulan dari TK RA Bakti, juga menerapkan buku penghubung. Di mana, wali murid atau orang tua juga ikut berperan dalam mengetahui perkembangan anaknya.

Baca Juga:  Kisah Nathaya dan Navice, Kakak Beradik Peraih 9 Medali di Olimpiade

Menurut Ani, tanggung jawab pendidikan tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada guru atau pengajar. Mesti turut serta peran orang tua.

Diakuinya, di dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, ada satu program yang tidak bisa terselenggara, yakni, program Manasik Jaji. Biasanya, kata dia, setiap tahun program tersebut, terus terselenggara.

Saat ini, lanjut dia, untuk proses pembelajaran sendiri, sudah menerapkan pembelajaran tatap. Namun, dengan menerapkan sistem sift atau bagi waktu. Di mana, dalam pekan pertama anak didik ada yang masuk pagi dan sebagian yang lain masuk siang.

Di samping itu, kata dia, untuk memulai pembelajaran juga menerapkan protokol kesehatan. Baik itu mencuci tangan sebelum belajar maupun membuat jarak meja belajar.

“Jadi, karena kita memang menjadi sekolah percontohan, makanya kita betul-betul menerapkan protokol kesehatan. Apalagi, kita tidak hanya berada di bawah Kemenag, namun, juga dalam pengawasan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kepulauan Mentawai,” ujar kepala sekolah yang memimpin sejak tahun 2013 ini.

Selain itu, TK RA Bakti 36 juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya, Yayasan Amna. Dimana, yayasan tersebut, telah ikut membantu pembangunan satu unit gedung belajar.

Selain itu, dalam waktu dekat ini, TK RA Bakti juga akan mendapatkan bantuan alat bermain berupa ayunan dan yang lainnya.

Di sisi lain, kata Ani, tantangan yang dihadapi oleh TK RA Bakti 36 dan juga TK RA Bakti lainnya di Kepulauan Mentawai, yakni, belum adanya sarana sekolah dasar yang islami.

Semestinya, kata dia, peserta didik TK RA Bakti melanjutkan pendidikan pada bidang Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau MIS yang sejalan. Namun, saat ini, sarana tersebut, belum ada di Kepulauan Mentawai.

“Jalan satu-satunya, wali murid menyekolahkan anaknya ke sekolah umum. Alhasil, kata dia, hafalan hadist dan Quran yang selama tersimpan di memori anak menjadi hilang karena jarang diulang. Sejatinya, inilah tantangan kita saat ini,” pungkasnya.(***)