Kisah Yuliandre Darwis: Jadi Loper Koran, Dosen hingga Komisioner

121

Besar di keluarga berdarah Minangkabau, Yuliandre Darwis sejak kecil memiliki karakter pekerja keras, patang menyerah dan terbiasa hidup mandiri serta berjiwa wirausaha. Setelah menamatkan pendidikan menengah, ia merantau ke Pulau Jawa melanjutkan pendidikan dan berhasil menghadapi berbagai tantangan hingga dua periode menjadi komisioner.

Yuliandre Darwis yang lahir di Jakarta, 21 Juli 1980 sekarang merupakan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang dipilih untuk kedua kalinya (periode 2019-2022) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Pada periode pertama (2016-2019), anak sulung dari empat bersaudara ini dipercaya menjabat ketua KPI.

Awal mengabdi di KPI tahun 2016, Yuliandre tercatat sebagai ketua lembaga negara termuda di Indonesia. Putra pasangan Chairul Darwis (almarhum) dan Aidevita Rydas ini dipilih sebagai ketua KPI di usia 36 tahun.

Selama memimpin lembaga negara independen yang didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Penyiaran, banyak perubahan dilakukannya dalam bidang penyiaran.

Yuliandre menyadari menjadi nahkoda KPI bukan amanah ringan karena banyak tantangan di dalamnya yang membutuhkan leadership, profesionalitas dan integritas yang kuat.

Pada masa kepemimpinannya, Yuliandre membuat sejarah dalam dunia penyiaran yaitu, perpanjangan izin penyiaran stasiun televisi swasta dalam 10 tahun sekali. Dalam menjaga eksistensi penyiaran di tanah air tersebut, KPI mendorong penandatanganan tujuh komitmen lembaga penyiaran untuk kepentingan publik.

Dalam bidang pengawasan, Yuliandre cepat merespons pengaduan masyarakat dan bertindak tegas terhadap program dan siaran yang tidak mendidik.

“Bahkan, ada yang sampai pada pemberian sanksi penghentian tayangan karena dinilai melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS),” ungkapnya, Selasa (29/9/2020).

Dari sisi infrastruktur penyiaran, Yuliandre berhasil mewujudkan adanya gedung baru dilengkapi alat pemantau penyiaran yang lebih canggih dengan sarana penunjang lainnya.

Tekadnya menjadikan KPI sebagai pusat data penyiaran Indonesia pun terealisasi. Yuliandre menggagas dibentuknya Litbang KPI untuk mengawal dan memperkuat Riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi serta data-data penyiaran Indonesia bekerja sama dengan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

“Hasilnya kita bikin buku dan jadi database penyiaran di Indonesia. Alhamdulillah, kita mudah melakukan evaluasi dari waktu ke waktu hingga terjadi banyak perubahan dalam hal kualitas siaran di Indonesia, termasuk tayangan untuk konsumsi anak-anak dan sinetron,” jelasnya.

Penerima Penghargaan Tokoh Peduli Penyiaran 2016 ini juga memahami betul terjadinya transformasi yang begitu cepat di dunia penyiaran sehingga butuh adaptasi dan pengawasan ekstra dengan dukungan sumber daya manusia yang melek kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi.

Upaya lain Yuliandre bersama KPI adalah dengan memperkuat pengawasan terhadap industri penyiaran, termasuk media baru yang diharapkan masuk dalam revisi Undang-Undang Penyiaran yang kini masih dibahas di DPR RI.

Walaupun sempat diserang netizen ketika muncul wacana KPI akan ikut mengawasi media baru, Yuliandre mengaku tak khawatir dengan terjadinya dinamika seperti itu. Apalagi itu diakibatkan tidak komprehensifnya memahami esensi sebenarnya.

“Itu biasa. Bukti bahwa kini semakin banyak yang peduli terhadap kemajuan penyiaran di tanah air, apalagi dengan hadirnya media baru. Selama ini kita juga terbantu oleh para netizen yang proaktif melapor bila menemukan tayangan yang dianggap tak mendidik,” imbuhnya.

Sebagai orang yang menguasai bidang komunikasi, Yuliandre justru berani tampil menjelaskan bahwa tujuan tersebut baik dalam menjaga ruang publik dan keluarga agar terhindar dari konten program dan siaran yang bisa merusak mental dan moral anak bangsa.

Kepada Raffi Ahmad dan Nagita Slavia di tayangan Rans Entertainment, Yuliandre pun menegaskan bahwa pengawasan terhadap media baru tersebut tidak akan menghambat kreativitas seperti dikhawatirkan para netizen.

Menurutnya, pengawasan itu justru bisa membuat para kreator lebih bertanggung jawab dalam memproduksi konten yang ditayangkan sesuai norma yang berlaku di Indonesia. “Hak cipta konten para kreator juga akan lebih terjaga,” katanya.

Dengan perubahan-perubahan yang terjadi, eksistensi KPI semakin dirasakan publik baik di dalam maupun di dunia internasional. Yuliandre berhasil membawa nama KPI berperan dan memberi kontribusi lebih dalam dunia penyiaran khususnya di negara-negara Islam melalui konferensi internasional IBRAF (OIC Broadcasting Regulatory Authorities Forum) yang Ia prakarsai.

Setelah mengakhiri tugas di periode pertama, Yuliandre terpanggil kembali untuk meneruskan sejumlah agenda strategis penyiaran yang belum terselesaikan di periode sebelumnya.

Sepak terjangnya di KPI masih dibutuhkan. Buktinya, setelah melalui proses seleksi administrasi, intergritas dan tahap akhir dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR RI, Yuliandre kembali diberi amanah menjadi komisioner KPI periode 2019-2022.

Pada masa jabatannya sebagai Ketua KPI, Yuliandre melepas masa lajang dengan mempersunting Ratu Rolinda Rahman yang pernah menjadi Uni Sumbar. Uni Sumbar merupakan sebutan untuk perempuan yang menjuarai pemilihan Uda-Uni Sumbar, ajang pemilihan duta pariwisata dan budaya Sumbar.

Resepsi pernikahannya berlangsung meriah di Pangeran Beach Hotel Padang, Sabtu 23 September 2017. Selain selebritis papan atas, pesta pernikahannya itu juga dihadiri sejumlah juga pejabat negara, seperti Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang, Menteri PANRB Asman Abnur dan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara serta pimpinan lembaga penyiaran seperti Direktur Jawa Pos TV Mahesa Samola.

Kerja Sama Regulator Penyiaran Dunia

Kiprahnya yang terbilang cemerlang sebagai Ketua KPI Pusat berbuah manis bagi Yuliandre Darwis. Selama dua periode, yakni 2017-2018 ia terpilih menjadi Presiden Penyiaran Dunia yakni OIC Broadcasting Regulatory Authorities Forum (IBRAF).

Yuliandre berhasil menyelenggarakan konferensi penyiaran kelas dunia di Bandung, Jawa Barat. Konferensi penyiaran dunia pertama di Indonesia sekaligus pertemuan tahunan ke-5 IBRAF, diselenggarakan di Trans Luxury Hotel Bandung pada Februari 2017.

Acara tersebut dibuka Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan dihadiri Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Sekjen IBRAF Hamit Ersoy dan beberapa tokoh-tokoh penyiaran dari berbagai negara, delegasi regulator penyiaran, dan akademisi. Wakil Perdana Menteri Malaysia, Dato Seri Ahmad Zahid Hamidi menjadi pembicara kunci dalam dalam kegiatan IBRAF ini.

Yuliandre berhasil membawa 46 negara dari seluruh dunia di antaranya yang masuk pada keanggotaan OKI maupun perwakilan dari negara lain seperti Korea Selatan, New Zealand, dan Australia juga tertarik menghadiri konferensi internasional ini.

“Tujuan konferensi ini untuk membangun kerja sama antar-sesama regulator penyiaran sedunia yang harmonis, serta mencapai pemahaman bersama mengenai isu media dan dunia penyiaran terkini,” ungkap pria berkaca mata ini.

Yuliandre bertanggungjawab untuk menguatkan kembali negara-negara yang telah bergabung bersama IBRAF. Kala itu baru 31 negara yang eksis dari 57 negara yang tergabung di konferensi Islam ini.

Ia memiliki pekerjaan rumah untuk menangani isu terkait agama yang dikaitkan dengan politik yang ketika itu muncul di berbagai media, termasuk isu islamophobia yang banyak terjadi di media penyiaran.

Pengabdian Dosen dan Staf Ahli

Keberhasilan Yuliandre menjalani amanah di lembaga negara KPI tidaklah kebetulan, tapi berkat perjuangan, pendidikan dan pengalaman yang ditempanya sejak kecil di dalam dan luar negeri.

Setelah menghabiskan masa kecil hingga menamatkan pendidikan di SMA 3 Padang, Yuliandre merantau ke Bandung untuk menempuh pendidikan di D3 Teknik Informatika, FMIPA dan S1 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Dalam menjalani hidup di perantauan, Yuliandre memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjadi loper koran. Ia mengantarkan koran-koran ke beberapa rumah makan Padang menggunakan motor Vespa miliknya. Pengalaman itu menjadi awal terbentuknya jiwa kewirausahaan dalam dirinya.

“Ketika mengambil bidang jurnalistik di Fikom Unpad dan nyambi jadi loper koran, saya menjadi tahu dari hulu  hingga hilir dunia penerbitan surat kabar. Dapat pengalaman dari bagaimana berita diketik reporter hingga sampai ke tangan pembaca,” kenangnya.

Ketika menempuh pendidikan, Yuliandre tak hanya fokus kuliah dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen. Ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Di Universitas Padjadjaran, Yuliandre terpilih menjadi Ketua Umum Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa Unpad pada tahun 2001 dan Ketua Presidium/ Presiden Mahasiswa BEM–KEMA tahun 2001-2002.

Tamat dari Universitas Padjadjaran Bandung, Yuliandre melanjutkan pendidikan magister Mass Communication, Communication and Media Studies Faculty, UiTM, Malaysia. Lalu pendidikan doktor Mass Communication and Media, Communication and Media Studies Faculty, UiTM, Malaysia.

Ia kembali aktif di organisasi dan terpilih menjadi Ketua Umum Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) tahun 2006. Di samping itu, kepiawaiannya dalam bidang komunikasi membuat Yuliandre diamanahkan menjadi Juru Bicara/ Penghubung Gubernur Sumatera Barat untuk Luar Negeri tahun 2005-2006.

“Pengalaman itu membuat saya jadi banyak kenal dengan tokoh-tokoh penting pemerintahan dan perpolitikan di Malaysia,” benernya.

Ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah didedikasikan sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Yakni dosen Postgraduate London School Public Relation (LSPR), dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, dan dosen Program Studi Komunikasi, Pascasarjana Universitas Andalas.

Kini ia memiliki jabatan fungsional sebagai Lektor Kepala di Universitas Andalas Padang. Yuliandre juga banyak diminta menjadi promotor bagi para Doktor Ilmu Komunikasi, seperti Dr. Kartika Singarimbun yang membahas dominasi Jaringan Radio Jaringan Prambors Terhadap Radio Lokal di Indonesia, Filosa Gita Sukmono yang mengkaji Dinamika Wacana Multikultur Dalam Film Indonesia dengan Isu Minoritas Pasca 1998, dan calon Doktor Mohamad Soleh dari Kementerian Sekretariat Negara RI yang mengangkat topik penelitian Politik Hukum Penyelenggaraan Penyiaran di Indonesia dari Monopoli ke Kompetisi.

Sebagai dosen Ilmu Komunikasi, ia telah menerbitkan karya berupa buku berjudul “Sejarah Pers Minangkabau” dan menulis beberapa artikel media massa lokal dan nasional serta beberapa jurnal komunikasi.

Di sela pengabdiannya di kampus, Yuliandre dipercaya menjadi Staf Ahli Wakil Ketua MPR/Ketua DPD RI dan Staf Ahli Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN). Setelah itu baru mengikuti seleksi calon komisioner KPI dan terpilih.

“Alhamdulillah. Pendidikan dan pengalaman di internal dan ekternal kampus selama ini membuat saya jadi banyak pengalaman, teman dan mudah berinteraksi dengan siapapun. Terpenting terus menjaga silaturahmi, mau mendengar dan tidak sombong,” kata sosok low profil ini.

Terpilih Pimpin ISKI

Pengabdiannya tak hanya di kampus dan lembaga negara. Namun juga di organisasi. Yuliandre Darwis terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) periode 2013-2017 dalam Kongres ke-VI di Hotel Pangeran Beach, Kota Padang.

Yuliandre mengungguli tiga kandidat lainnya yaitu Pinckey Triputra dari Universitas Indonesia, Andi Faisal Bakti, Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta, dan Henry Subiakto, Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informasi.

ISKI satu-satunya organisasi profesional yang mencakup seluruh bidang ilmu komunikasi interdisipliner. ISKI didirikan pada 12 Oktober 1983 oleh Alwi Dahlan, Jakob Oetama, Gufron Dwipayana, D.H. Assegaf, Ishadi SK, dan Mahidin.

Kongres ke-VI yang diadakan dengan seminar ISKI ini diikuti 350 orang anggota ISKI dari seluruh Indonesia. Seminar ketika itu dihadiri Menteri Komunikasi dan Informatika RI Tifatul Sembiring, Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo.

Tiga menteri itu menekankan pentingnya komunikasi dalam berbagai aspek kehidupan termasuk berbangsa dan bernegara. Mereka berharap, para ilmuwan komunikasi yang tergabung dalam ISKI dapat memberikan peran yang lebih besar dalam kehidupan bangsa dan negara.

Menurut Yuliandre, komunikasi sangat penting sekali dalam sebuah organisasi terutama di lembaga pemerintahan di pusat dan daerah. Namun, kadang masih ada yang menganggapnya sebelah mata.

“Betapapun hebatnya program suatu perusahaan atau pemerintahan jika tidak dikomunikasikan dengan baik oleh komunikator yang andal melalui saluran tepat, maka informasinya bisa biasa dan tidak komprehensif sampai ke masyarakat hingga ke desa dan nagari,” jelasnya.

Entrepreneur dan Entertainment

Selain di dunia pendidikan, Yuliandre adalah seorang entrepreneur. Terbukti ia pernah mendapatkan penghargaan sebagai dosen terbaik bidang kewirausahaan pada ajang Unand Award tahun 2011.

Selain itu menjabat CEO PT. Uda Metromoney Exchange dan CEO PT Uda Metro Land. Tour & Travel serta pernah menjabat Direktur Utama PT. Uda CS Holidays Indonesia Tour and Travel.

Sebagai entrepreneur, peraih Uda Sumatera Barat tahun 2004 ini aktif di organisasi profesi dan bisnis di antaranya Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), dan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI). Ia juga pernah meraih predikat 40 Inspiring Young Entrepreneurs” dari HIPMI tahun 2012.

Kecintaannya pada dunia industri kreatif dan enterpreneurship membuat Yuliandre Darwis turut tergabung menjadi KADIN (Kamar Dagang dan Industri) sejak tahun 2009.

Saat ini Yuliandre menjabat Wakil Ketua Komisi industri Kreatif KADIN Indonesia tahun 2015-2020. Sejalan dengan itu, Yuliandre juga terlibat aktif dalam organisasi Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia sebagai salah satu ketua periode 2016-2021 dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) serta Gerakan Ekonomi dan Budaya Minangkabau (Gebu Minang).

Yuliandre juga dipercaya sebagai Dewan Pembina Sahabat Pekerja. Organisasi yang memberikan workshop pekerja federasi, pekerja migran dan pekerja mandiri.

“Kita sering sharing dan diskusi serta menginisiasi adanya pengembangan capacity building pekerja, lifeskill pekerja, manajemen kepemimpinan dan advokasi, serta informasi untuk saling membantu. Lalu berupaya membantu pekerja agar terlindungi, termasuk pekerja-pekerja  sektor informal,” katanya.

Dalam bidang entertainment, sosok yang namanya sempat masuk bursa calon menteri milenial ini turut menggairahkan industri kreatif dengan terjun sebagai produser dan pemain film Mangga Muda. Sebelumnya juga memproduseri film yang kisahnya diambil dari Wattpad dengan judul Revan & Reina.

Belakangan, tokoh muda yang pernah menjadi duta muda UNESCO itu meluncurkan program “Interaksi” di channel youtube pribadinya: Yuliandre Darwis. Ini dilakukan dalam upaya dirinya memberikan inspirasi sekaligus edukasi program siaran bermanfaat bagi masyarakat terutama yang kini banyak mengakses media baru.

Konten dalam acara “Interaksi” tersebut berupa obrolan santai berbagi cerita dan pengalaman dari sosok-sosok inspiratif di Indonesia. Di antaranya, selebriti Raffi Ahmad, Pendiri Rumah Produksi terbesar di Indonesia MD Entertainment Manoj Punjabi dan Arief Muhammad, Youtuber yang juga selebritas Twitter dan penulis buku Poconggg Juga Pocong.

“Mereka ini sosok luar biasa semua. Cerdas-cerdas pemikiran mereka dan sangat menginspirasi orang tentang bagaimana menjalani kehidupan sejak kecil, kerja keras mereka hingga mencapai sukses,” ungkap Yuliandre. (esg)