Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Payung Tua dan Jarum Jahit, Tukang Sol Sepatu Bertahan Hidup di Pasar Raya Padang

Sofi Asri
Penulis: Sofi Asri❯

Advertisement

Tukang sol sepatu dan sandal, tetap bekerja di bawah payung tua saat hujan mengguyur kawasan Pasar Raya Padang, Kamis (5/11/2026). (Foto: Sofi Asri/Padek)
Tukang sol sepatu dan sandal, tetap bekerja di bawah payung tua saat hujan mengguyur kawasan Pasar Raya Padang, Kamis (5/11/2026). (Foto: Sofi Asri/Padek)

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM— Hujan membasahi kawasan Pasar Raya Padang, Kamis (5/11/2026). Di bawah payung tua yang mulai rusak, Son tetap menunduk. Jarum dan benang di tangannya terus bergerak memperbaiki sandal pelanggan.

Lelaki berusia 62 tahun itu tidak memiliki kios maupun tempat usaha tetap. Hanya sebuah karung berisi perlengkapan kerja dan payung yang menemaninya mencari nafkah di trotoar depan kawasan Kantor Balai Kota Padang lama.

Ada satu hitungan sederhana yang harus dipikirkannya setiap kali hendak pulang. Jika mendapat upah Rp15 ribu dari memperbaiki sepasang sandal, sementara ongkos ojek menuju rumahnya di Bukit Gado-gado mencapai Rp10 ribu, hanya tersisa Rp5 ribu.

Advertisement

Karena itu, Son terkadang memilih berjalan kaki daripada menghabiskan sebagian besar hasil kerjanya untuk ongkos perjalanan.

"Kalau dapat Rp15 ribu, lalu Rp10 ribu dipakai untuk ongkos ojek, sisanya sedikit sekali. Jadi, kalau uangnya pas-pasan, saya memilih jalan kaki saja," tuturnya.

Bagi sebagian orang, Rp15 ribu mungkin bukan jumlah yang besar. Namun, bagi Son, uang tersebut merupakan hasil dari pekerjaan yang harus ia perjuangkan sejak pagi hingga sore.

24 Tahun Mencari Nafkah, Berkali-kali Kehilangan Tempat

Son sudah sekitar 24 tahun menekuni pekerjaan sebagai tukang sol sepatu dan sandal. Sejak 2002, Pasar Raya menjadi tempatnya menggantungkan hidup.

Perjalanan panjang itu tidak membuatnya memiliki tempat usaha permanen. Ia justru beberapa kali harus berpindah karena lokasi tempatnya bekerja terkena penertiban pedagang kaki lima.

Dahulu, Son pernah membuka lapak sederhana di bagian depan Pasar Raya. Selama sekitar tiga tahun, ia menggunakan tong kecil bekas tempat salak sebagai meja kerja, sedangkan payung menjadi pelindung dari panas dan hujan.

Namun, penertiban membuatnya harus meninggalkan lokasi tersebut. Tong kecil dan payung yang biasa digunakannya bekerja bahkan sempat ikut diambil.

Son mengaku tidak ingin berkonflik dengan petugas Satpol PP karena memahami mereka menjalankan tugas.

"Saya tidak mau melawan Satpol PP. Mereka kan ditugaskan. Kalau tempat itu sudah tidak boleh, lebih baik saya pergi. Percuma juga kalau dipertahankan," katanya.

Ia pernah mencoba menggunakan tenda sebagai tempat bekerja. Namun, menurut pengakuannya, saat itu ia diminta membeli dua materai seharga sekitar Rp25 ribu serta menyiapkan uang Rp300 ribu.

Karena tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut, Son akhirnya menyerahkan perlengkapan tendanya.

Ia kemudian mencari cara lain. Dengan tong kecil, bekas baliho, dan cat seharga Rp10 ribu, Son kembali membuat tempat kerja sederhana agar bisa menerima pelanggan.

Harga Sol Rp15 Ribu, Pelanggan Tak Selalu Datang

Kini, hampir seluruh perlengkapan kerjanya dibawa dalam satu karung. Benang, jarum, pisau kater, perlengkapan sol, dan payung menjadi bekal sehari-hari.

Selain memperbaiki sepatu dan sandal, ia juga menerima jasa memperbaiki payung rusak. Kemampuan tersebut menjadi tambahan pekerjaan ketika ada pelanggan yang membutuhkan.

Untuk jasa menjahit atau memperbaiki sepatu dan sandal, Son mematok tarif Rp15 ribu sepasang. Harga itu lebih rendah dibandingkan tarif tukang sol yang menurut pengalamannya bisa mencapai Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.

Meski demikian, harga terjangkau tidak menjamin pelanggan datang setiap hari. Ada kalanya beberapa orang meminta jasanya, tetapi tidak jarang ia harus duduk berjam-jam menunggu tanpa mendapatkan pekerjaan.

Setiap pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Son berangkat dari rumahnya di kawasan Bukit Gado-gado. Ia tidak memiliki jam pulang pasti karena semuanya bergantung pada jumlah pelanggan.

Jika suasana sepi atau hujan membuat orang enggan keluar rumah, ia biasanya beristirahat setelah salat Zuhur di Masjid Muhammad sebelum pulang.

Tak Ingin Membebani Anak, Tetap Bekerja Meski Pinggang Sakit

Sebelum menjadi tukang sol, Son pernah menjalankan jasa foto kilat. Namun, pekerjaan itu semakin kehilangan pelanggan seiring banyaknya masyarakat menggunakan telepon genggam berkamera.

Ia juga pernah menjadi kuli bangunan. Akan tetapi, pekerjaan berat tersebut akhirnya sulit dilanjutkan karena kondisi pinggangnya mulai bermasalah.

Pekerjaan memperbaiki alas kaki menjadi pilihan yang masih bisa dijalaninya sesuai kemampuan fisik. Meski demikian, aktivitas menjahit, berjalan membawa perlengkapan, dan berpindah lokasi tetap membutuhkan tenaga.

Sesekali ia membeli jamu untuk membantu meredakan keluhan pinggangnya.

Son memiliki dua orang anak. Namun, ia tidak ingin menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada mereka karena menyadari anak-anaknya juga memiliki kebutuhan masing-masing.

Selama masih sanggup bekerja, ia ingin memenuhi kebutuhan hidup dari hasil tangannya sendiri.

"Saya tidak malu. Ada yang menganggap saya seperti pengemis karena sekarang tidak punya tempat. Tapi, selama pekerjaan yang saya lakukan ini halal, tidak masalah. Lebih baik saya berusaha daripada meminta-minta kepada orang lain," ungkapnya.

Berharap Pedagang Kecil Tetap Punya Ruang

Di balik ketekunannya, Son menyimpan harapan agar penataan Pasar Raya tidak membuat pekerja kecil kehilangan kesempatan mencari nafkah.

Ia memahami kawasan pasar perlu ditata agar lebih tertib. Namun, berdasarkan pengalamannya, lokasi yang terlalu jauh dari jalur lalu lalang pembeli bisa membuat pedagang semakin sulit mendapatkan pelanggan.

Menurutnya, tidak semua pengunjung bersedia masuk jauh ke dalam pasar hanya untuk mencari barang atau jasa yang dibutuhkan.

Son juga mengaku pernah terdata sebagai penerima bantuan sosial. Namun, belakangan bantuan tersebut tidak lagi diterimanya dan ia tidak mengetahui secara pasti penyebabnya.

Ia memilih tidak terlalu berharap pada bantuan. Sesekali, Son mengikuti kegiatan Jumat Berkah ketika ada makanan yang dibagikan masyarakat.

Di usianya yang sudah 62 tahun, ia tidak meminta tempat usaha mewah. Kesempatan untuk bekerja dan mendapatkan pelanggan sudah cukup berarti baginya.

"Yang membuat saya semangat itu, kalau sudah berusaha saja keadaan masih seperti ini, apalagi kalau kita tidak berusaha," ucapnya.

Menjelang sore, Son kembali mengemasi perlengkapan kerjanya. Ia belum tahu berapa uang yang bisa dibawa pulang hari itu, apalagi sampai kapan bisa bertahan di lokasi tersebut.

Di bawah payung tua yang menjadi pelindungnya, setiap jahitan bukan sekadar memperbaiki sepatu atau sandal yang rusak. Ada kebutuhan keluarga, ongkos perjalanan, dan harga diri yang berusaha ia pertahankan.

Son tidak ingin dikasihani. Ia hanya ingin tetap memiliki kesempatan bekerja, sehingga setiap rupiah yang dibawanya pulang benar-benar berasal dari keringatnya sendiri.(*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Setiap Senin ke Pasar Padang Tujuh, Asril Rawat Keahlian Sol Sepatu Manual

Setiap Senin ke Pasar Padang Tujuh, Asril Rawat Keahlian Sol Sepatu Manual

Selama delapan tahun, Asril menekuni jasa sol sepatu manual setiap Senin di Pasar Padang Tujuh sambil tetap bertani.

Pertamina Telusuri SPBU Usai Polisi Sita 900 Liter Solar Subsidi di Limapuluh Kota

Pertamina Telusuri SPBU Usai Polisi Sita 900 Liter Solar Subsidi di Limapuluh Kota

Pertamina menelusuri SPBU sekitar lokasi setelah polisi mengamankan 900 liter Bio Solar subsidi dalam kasus dugaan penyalahgunaan di 50 kota

WiFi Gratis Hadir di Basement Blok II Pasar Raya Padang, Pedagang-Pengunjung Bisa Akses Tanpa Biaya

WiFi Gratis Hadir di Basement Blok II Pasar Raya Padang, Pedagang-Pengunjung Bisa Akses Tanpa Biaya

Pemko Padang menyediakan WiFi gratis di Basement Blok II Pasar Raya Padang. Pedagang dan pengunjung bisa menikmati internet tanpa biaya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer