PADEK.JAWAPOS.COM-Masjid Raya Bayur, yang megah berdiri di Kabupaten Agam, Sumbar telah melewati perjalanan panjang selama dua dekade sejak peresmiannya pada 8 September 2004 oleh Menteri Sosial Republik Indonesia saat itu, Bachtiar Chamsyah.
Dibangun sejak tahun 1998, masjid ini bukan hanya menjadi pusat ibadah bagi masyarakat setempat, tetapi juga telah berkembang menjadi destinasi wisata religi yang menarik perhatian baik dari dalam maupun luar Sumatera Barat.
Ini disampaikan Ketua Pengurus Masjid Raya Bayur, Hasnan Akhyar. “Dengan infastruktur bagunan yang unik, Masjid Raya Bayur bukan hanya sebagai rumah ibadah, melaikan juga tempat berwisata Religi,” kata dia.
Hasnan menjelaskan, pembangunan Masjid Raya Bayur diawali dari inisiatif swadaya masyarakat, dimulai dari tingkat kabupaten hingga kecamatan.
Namun, peran tokoh penting seperti Bachtiar Chamsyah, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Sosial, sangat signifikan dalam menghimpun dukungan dan sumber daya perantau Minang di Jakarta dan Medan.
“Beliau berperan sebagai katalisator dalam menggalang dana dan semangat mewujudkan pembangunan masjid megah ini.
Proses pembangunan yang dimulai pada November 1998 ini akhirnya berbuah manis dengan peresmian masjid pada tahun 2004,” kata dia.
Ia juga mengatakan bahwa keunikan Masjid Raya Bayur terletak pada desain arsitekturnya yang unik dan megah. Hasnan menjelaskan bahwa masjid ini dibangun tanpa menggunakan tiang penyangga di tengah ruangan utama.
Ini sebuah desain yang jarang ditemukan pada bangunan masjid berukuran besar. Keunikan ini, ditambah dengan penggunaan material berkualitas tinggi seperti kayu jati impor dari Jepara, Jawa Tengah, menjadikan Masjid Raya Bayur sebagai bangunan yang estetis dan kokoh.
Desain yang unik dan megah ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung. Masjid Raya Bayur tidak hanya menarik perhatian karena arsitekturnya.
Letaknya yang strategis di jalan lintas Maninjau-Lubukbasung juga menjadi faktor penting. Aksesibilitas yang mudah memudahkan para jamaah untuk mencapai masjid ini, baik dari dalam maupun luar Kabupaten Agam.
Keberadaan Masjid Raya Bayur telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial di daerah tersebut. Ia menjelaskan. setiap harinya, Masjid Raya Bayur dipadati oleh jamaah, terutama pada waktu-waktu salat berjamaah, khususnya sholat Maghrib dan Tarawih.
Jumlah jamaah yang membeludak ini tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar, tetapi juga dari berbagai daerah di Sumatera Barat, bahkan dari luar provinsi.
Banyak perantau Minang yang pulang kampung menyempatkan diri untuk melaksanakan salat di Masjid Raya Bayur. Kehadiran jamaah dari berbagai latar belakang ini menunjukkan betapa Masjid Raya Bayur telah menjadi simbol persatuan dan kebersamaan bagi umat Islam.
Menariknya, Masjid Raya Bayur juga menjadi tempat berkumpulnya berbagai kalangan masyarakat. Bukan hanya jamaah biasa, tetapi juga tokoh agama, pejabat pemerintah, dan para ulama terkemuka, baik dari Sumatera Barat maupun dari luar daerah.
Hasnan menyebutkan beberapa tokoh nasional yang pernah berkunjung dan memberikan ceramah di Masjid Raya Bayur, seperti Din Syamsuddin, Amien Rais, dan beberapa tokoh lainnya.
Kehadiran para tokoh ini semakin memperkuat posisi Masjid Raya Bayur sebagai pusat dakwah dan rujukan keagamaan. Selain kegiatan keagamaan rutin, Masjid Raya Bayur juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Masjid ini sering digunakan sebagai tempat penggalangan dana kegiatan kemanusiaan, seperti bantuan untuk Palestina. Kegiatan sosial lainnya yang dilakukan meliputi santunan anak yatim, bantuan bagi duafa,” jelas dia
Ia mengatakan bahwa pengelolaan Masjid Raya Bayur juga memperhatikan aspek kebersihan dan keindahan. Meskipun banyak pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar masjid.
Pihak pengurus berupaya menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah terjadinya pencemaran. “Semakin banyak pengunjungan Masjid tentu akan di khawatirkan banyak sampah, kami konses mengatasi itu,” kata dia
Terakhir ia mengatakan keberadaan Masjid Raya Bayur tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol persatuan, pusat dakwah, dan destinasi wisata religi yang semakin dikenal luas.
Dengan desainnya yang unik, letaknya yang strategis, dan kegiatan-kegiatan yang positif, Masjid Raya Bayur akan terus memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat.
Ke depan, Masjid Raya Bayur diharapkan tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas, serta menjadi ikon kebanggaan Sumatera Barat. (cr1)
Editor : Novitri Selvia