Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Riza Yulfi, Dulu Wartawan Kini Kembangkan Zataka Express: Pinjam Datsun Tua, Kini Punya 150 Unit Armada

Mhd Nazir Fahmi • Senin, 14 Juli 2025 | 11:45 WIB

STRATEGI KUASAI PASAR: Riza Yulfi pemilik Zataka Express berencana memindahkan kantor utamanya ke Jakarta.(MHD NAZIR FAHMI/PADEK)
STRATEGI KUASAI PASAR: Riza Yulfi pemilik Zataka Express berencana memindahkan kantor utamanya ke Jakarta.(MHD NAZIR FAHMI/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Anda mungkin pernah berpapasan dengan truk atau pikap yang di dinding mobilnya bertuliskan Zataka Express saat melintasi jalanan di Kota Padang?

Melihat dari namanya, banyak orang pasti tahu itu adalah perusahaan jasa pengiriman. Tapi, mungkin banyak juga orang belum tahu seperti apa pemiliknya menggeluti bisnis ini hingga berkembang pesat. Dulu hanya di Padang, kini sudah menjelajah ke nusantara.

YA, Riza Yulfi, sang pemilik Zataka Express. Menarik menyimak perjalanan bisnis pria kelahiran Pariaman, 15 Juli 1975 silam ini.
Ia tidak pernah menduga masuk ke bisnis ini.

Setelah tamat kuliah, pernah sebentar jadi wartawan. Sekitar dua tahun. Sempat kerja di kantor notaris, lalu jadi instruktur pengajar di lembaga pendidikan.

“Saya jalani dua tahun mengajar. Cuma mungkin naluri bisnis sehingga nampak terus potensi-potensi lainnya hingga berlabuh di jasa logistik,” kata Riza mengawali perbincangan, baru-baru ini.

Cikal bakal tertarik ke dunia logistik, kata Riza, di saat bekerja sebagai distributor air mineral galon di Kota Padang. Saat itu ada armada untuk mengantar galon-galon ke pelanggan.

“Nah, tidak setiap hari ya kita mengantar ke pelanggan, tidak full setiap hari itu jalan penuh. Sehingga di tengah hari sudah nongkrong mobilnya.

Tiba-tiba ada yang tertarik menyewa mobil. Ada anak-anak kos mau pindah kosan atau toko-toko mau angkat barangnya mau pindah toko. Kita ambil peluang itu. Karena armada kita nganggur, kita ambil objekan,” katanya.

Dihitung-hitung per bulan, lumayan pemasukannya. Ada penambahanlah dari bisnis utama yang distributor itu.

“Nah akhirnya, melihat celah itu kita pasang iklan di media cetak. Kita pasang iklan baris di koran. Awal coba-coba begitu, jadi dua hari dalam seminggu. Jumat Sabtu Minggu kita pasang iklan. Ternyata terjadi lagi peningkatan,” ujarnya.

Karena ada peningkatan, kata Riza, iklan bulanan di koran berupa iklan kolom. Bisnis angkat barang dan pidahan ini makin dikenal. Karena ada peningkatan aktivitas akhirnya timbul wacana untuk membentuk jasa pengiriman reguler dan logistik. Tahun 2010 dibuka jasa kurir dan kargo.

“Awalnya reguler di Kota Padang. Lalu ada permintaan-permintaan ke luar Padang dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Barat. Kemudian ada lagi permintaan ke Pekanbaru, Jambi, Jakarta dan sekarang seluruh nusantara. Dulu berawal dari mobil datsun tua pinjaman orang tua. Alhamdulillah kini sudah 150 unit kita punya,” ungkap Dewan Pembina DPW Asperindo Sumbar ini.

Terkait bisnis yang digeluti saat ini, Riza, optimis terus dibutuhkan sampai ke depan. Bisnis yang selalu dibutuhkan dan sampai sekarang pun nampaknya belum ada pengganti alternatifnya.

Karena barang tidak bisa di email, tidak bisa di SMS. Tetap membutuhkan tenaga transportasi. Tapi, ungkapnya, saat ini kompetisi sangat tinggi. Banyak pemain-pemain baru yang hadir.

Apalagi setelah Covid-19, jasa logistik salah satu bisnis yang tetap jalan terus. Beberapa pemilik usaha yang terganggu karena Covid melirik ke logistik. Jadi bertambah lagi pemain jasa logistik baru.

Bagaimana kondisi di tengah efisiensi yang dilakukan pemerintah? Sebenarnya, jawab Riza, siapa yang bisa efisien dia akan lebih sukses di dunia logistik.

“Nah, makanya kita juga punya prinsip tidak mau jor-joran di logistik ini karena fluktuasinya cukup tinggi. Efisiensi dari pemerintah sedikit banyaknya mempengaruhi perjalanan bisnis ini. Pengiriman jadi berkurang atau acara-acara di hotel dikurangi itu mungkin kebutuhan alat-alat hotel yang rutinitas itu juga sedikit berkurang pengirimannya gitu,” katanya.

Di tengah persaingan dan efisiensi saat ini, jelas Riza, Zataka lagi konsen ke jasa pindahan di seluruh kota di Sumatera. Selain itu melakukan kreativitas berupa efisiensi tarif. Contohnya dengan melakukan keseimbangan muatan bolak balik.

“Jadi kalau misalnya muatan kita hanya sebelah, biayanya jadi tinggi, tapi kalau ada muatan bolak balik akan menguntungkan dan efisien biaya,” ungkapnya.

Riza menjelaskan tantangan ke depan bisnis logistik ini. Kalau dari sisi teknologi, mungkin nanti drone akan berperan dalam bisnis ini. Tapi tetap tidak maksimal karena itu mungkin untuk barang-barang kecil.

Barang-barang besar mungkin belum bisa maksimal pakai drone dan dari sisi risiko, pasti lebih aman dengan mobil tertutup dari pada drone.

Tantangan lain adalah masuknya pemain-pemain luar yang punya kapitalisasi dana besar. Bisa-bisa pemain besar itu melakukan bakar uang terlebih dahulu dan infrastruktur lebih lengkap yang tentu bisa lebih menguasai bisnis ini.

“Tapi nilai plus kita sebagai pemain nasional atau lokal, lebih mengetahui geografis dan historisnya karena ada beberapa titik tertentu yang butuh sentuhan-sentuhan spesifik daerahnya,” ujarnya.

Untuk lebih menguasai pasar, Riza berencana memindahkan kantor utamanya ke Jakarta. Dari pengalaman kecendrungan customer itu memang kalau berpusat di Jakarta lebih dipercaya.

Barang 70 persen itu dari Jakarta. Jakarta masih sentra bisnis logistik. Dari Sumatera Barat banyaknya juga ke Jakarta. Semakin besar sebuah kota itu pergerakan logistik dan omset tinggi.

Demi keberlangsungan bisnis ini, Riza berharap kepada pemerintah dan pihak terkait agar setiap regulasi bisa dijalankan dengan baik. Pelaku logistik terkadang punya kendala itu di lapangan.

Ada oknum-oknum yang melakukan pungutan liar di lapangan. Dengan adanya tol, titik-titik pungutan ini terus berkurang. (MHD NAZIR FAHMI—Padang)

Editor : Novitri Selvia
#Riza Yulfi #Zataka Express #kisah inspirasi #bisnis jasa logistik