Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kisah Retno Sriwati Bertahan yang dari Amukan Puting Beliung: ”Cucu Saya Peluk, Lalu Saya Tutupi dengan Jilbab”

Syamsu Ridwan • Rabu, 30 Juli 2025 | 13:15 WIB
TERDAMPAK: Retno Sriwati menunjukkan kondisi rumahnya yang rusak parah akibat diterjang angin puting beliung beberapa waktu lalu.(SY RIDWAN/PADEK)
TERDAMPAK: Retno Sriwati menunjukkan kondisi rumahnya yang rusak parah akibat diterjang angin puting beliung beberapa waktu lalu.(SY RIDWAN/PADEK)


PADEK.JAWAPOS.COM-Sebanyak 13 rumah terdampak bencana angin puting beliung yang terjadi pada Minggu (27/7) di dua nagari di Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota.

Salah satunya adalah Nagari Batu Payuang, tempat di mana Retno Sriwati, 51, mengalami langsung kedahsyatan angin tersebut dan berjuang menyelamatkan cucunya.

MINGGU (27/7) sore, hujan deras baru saja turun di Jorong Kapalo Bukik, Nagari Batu Payuang. Retno tengah bersiap memasak sambal di dapur rumahnya. Cuaca yang semula tampak biasa tiba-tiba berubah drastis.

“Saya waktu itu mau masak sambal di dapur. Tiba-tiba cucu saya manggil, ‘Nenek!’ sambil menangis,” ujar Retno mengisahkan dengan mata berkaca-kaca saat ditemui Padang Ekspres.

Khawatir dengan kondisi cucunya yang masih kecil, Retno bergegas menuju kamar. Putrinya dan sang menantu saat itu berada di kamar depan dan kamar tengah.

Tak lama, hujan turun semakin deras disertai angin kencang. Atap rumah yang sebelumnya sudah bocor mulai menetes di beberapa titik. “Saya ambil kain untuk ditaruh di lantai supaya tidak terpeleset.

Waktu membentang kain itulah, tiba-tiba atap rumah berbunyi keras, lalu datanglah angin puting beliung itu,” ujarnya.
Cucunya yang ketakutan langsung berlari memeluknya.

Retno kemudian menggendong cucunya. Putrinya ikut keluar kamar sambil bertanya-tanya tentang suara keras dari atap rumah. “Saya cuma bisa bilang, ‘Angin sedang kencang, ayo zikir,” tuturnya.

Angin kencang makin menjadi. Asbes rumah beterbangan. Suara angin terdengar seperti gemuruh. Dalam kepanikan, Retno memeluk cucunya erat dan menutupinya dengan jilbab.

Tiba-tiba, sebatang kayu panjang jatuh dari atap rumah dan hampir menimpa putrinya. Beruntung, ia hanya mengalami luka ringan di tangan saat mencoba menghindar.

“Saya lihat pohon kelapa di depan rumah sudah berputar-putar. Saya tanya anak saya, ‘Kita lari ke mana, Nak?’ Kami pun berlindung ke dapur rumah,” lanjut Retno.

Namun, suara keras dari arah kamar mandi membuat mereka panik. Dalam kondisi basah kuyup, Retno bersama anak dan cucunya memutuskan menyelamatkan diri ke rumah keluarga yang berada tepat di depan rumah mereka.

Di sanalah mereka akhirnya selamat dari amukan angin puting beliung yang berlangsung sekitar 15 menit. “Waktu itu saya tidak lihat jelas kapan atap rumah terbang, tapi saya dengar suara keras.

Anak saya bilang, atap sudah sampai ke seberang rumah saat dia matikan listrik,” ujarnya. Pasca-kejadian, rumah Retno mengalami kerusakan parah.

Atap bagian dapur dan kamar mandi rusak, sementara hampir seluruh perabotan rumah tangga seperti kasur, kursi, dan pakaian basah kuyup.

Untuk sementara, Retno bersama keluarganya menumpang tinggal di rumah saudaranya, “Mak Tuo”, yang berada tepat di depan rumahnya. (SY RIDWAN—Limapuluh Kota)

 

Editor : Novitri Selvia
#Retno Sriwati #Nagari Batu Payuang #puting beliung #Lareh Sago Halaban