Laporan: Two Efly & Azib Fattah Mandala Putra
Predikat gunung “paripurna” tidak berlebihan untuk Gunung Talamau. Keindahan sudah pasti. Tiga belas telaga membentang di puncak gunung, dan belasan air terjun dapat dijumpai di Gunung Opir ini.
Benarkah bersih? Sangat benar. Dari jalan tanah selepas vila menuju puncak Gunung Talamau, kami tidak menemukan sampah nonorganik dari bawaan pendaki. Mulai dari potongan plastik kecil hingga bungkus mi instan. Bahkan puntung rokok pun tidak ada. Ini menjadi sebuah keajaiban berkat ketelatenan pengelola.
“Kami dalam mengelola Gunung Talamau betul-betul mewanti-wanti soal sampah nonorganik. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Untuk sesuatu yang indah, nyaman, dan besar, kita harus memulainya dari hal kecil. Mudah-mudahan kepedulian bersama ini mampu membuat Gunung Talamau tetap lestari,” ujar Andrianto Anggara (Andri).
Antisipasi dari awal sudah terasa saat registrasi pendakian. Satu per satu barang bawaan pendaki dibuka dan dicatat, mulai dari peralatan hingga logistik. Apakah peralatan sudah sesuai standar, apakah logistik mencukupi, dan apakah logistik cadangan juga tersedia.
Barang bawaan berbungkus plastik sangat dibatasi. Jika terpaksa, harus digabungkan dalam satu bungkusan. Jika tidak bisa, tetap boleh dibawa, tetapi wajib dibawa kembali.
Khusus bagi perokok, jumlah bungkus dan batang rokok yang dibawa juga dicatat dalam formulir. Selain data diri, formulir juga memuat riwayat penyakit, surat keterangan sehat dari dokter, tata tertib pendakian, dan peta jalur pendakian. Intinya, pendakian ke Gunung Talamau benar-benar terstandarisasi.
Apakah sebatas dicatat saja? Tidak. Semua barang yang terdaftar akan dikonfirmasi ulang ketika pendaki kembali ke basecamp. Jika sudah menjadi sampah, sampahnya harus ditunjukkan.
Hal yang sama berlaku untuk puntung rokok. Berapa batang dibawa, berapa terpakai, dan mana puntungnya. Jika berbeda, maka dianggap masalah.
Khusus untuk rokok, kami membawa botol kaleng sebagai tempat puntung. Satu botol kaleng digunakan untuk dua pendaki. Kadang karena lupa, ada puntung yang terjatuh dan harus kami pungut kembali. Agar tidak lupa, kami saling mengingatkan.
“Ini sudah jadi Standar Operasional Prosedur (SOP) kita. Saat mendaftar, formulir SOP ini dibagikan dan harus dibaca sebelum disimpan oleh pendaki. Mudah-mudahan dengan cara ini kebersihan Gunung Talamau tetap terjaga,” tambah Andri.
Banyak Endemi
Selain bersih, Gunung Talamau memiliki banyak tumbuhan endemik. Mulai dari pepohonan besar hingga tumbuhan rambat yang dapat dimanfaatkan sebagai obat.
“Sudah cukup banyak tumbuhan endemik dari Gunung Talamau yang dijadikan objek penelitian LIPI di masa lalu dan BRIN saat ini. Bahkan sebagian tumbuhan itu sudah dikembangkan di Taman Nasional Cibodas, Bogor, untuk penelitian dan hilirisasi,” jelas Andri dalam perjalanan menuju puncak.
Di antara endemik dan tanaman langka di Gunung Talamau adalah Amorphophallus (salah satu flora langka), Nepenthes atau kantong semar (tumbuhan karnivora), Rhododendron (mawar gunung), dan Vaccinium dari keluarga Ericaceae yang mendominasi vegetasi di sekitar pos terakhir sebelum puncak.
Ada juga rempah bunga lawang, Letcium tenuivolium yang dapat menjadi penawar racun, Garcinia parvifolia atau kandis yang banyak ditemukan di Asia Tenggara, serta berbagai jenis tumbuhan paku seperti resam, Blechnum, Selaginella, dan paku kawat Lycopodiella. Selain itu, terdapat pula jahe merah endemik Talamau.
Untuk fauna, masih banyak ditemukan binatang langka dan dilindungi, seperti kambing hutan, burung-burung langka, kera, monyet, labi-labi, hingga kodok besar berwarna kemerahan.
Terberat dan Terindah
Untuk mencapai puncak Gunung Talamau, perjalanan ditempuh selama 4 hari 3 malam. Dari Pos 1 (basecamp) hingga Pos 6 (Camp Rajawali) berjarak sekitar 14 km.
- Pos 1 (Basecamp) – Pos 2 (Bukit Harimau Campo): 160 menit.
- Pos 2 – Pos 3 (Rindu Alam): 155 menit. Jalur bervariasi, landai dan tanjakan.
- Pos 3 – Pos 4 (Bumi Sarasah): 185 menit, jalur didominasi tanjakan.
- Pos 4 – Pos 5 (Paninjauan): 175 menit. Jalur ini terberat dan cukup panjang, dengan kemiringan ekstrem, beberapa titik harus menggunakan tali.
- Pos 5 – Pos 6 (Camp Rajawali): 85 menit. Jalur menanjak hingga Padang Siranjano.
- Pos 6 – Puncak Tri Martha: 45 menit. Jalur curam dengan tebing bebatuan, tetapi sudah dilengkapi tali pengaman.
Total waktu tempuh sekitar 795 menit atau 14 jam menuju puncak setinggi 2.982 mdpl.
Di kalangan pendaki, Talamau adalah titik ujian. Bagi yang berhasil, biasanya akan melanjutkan ke puncak lainnya. Namun tak sedikit pula yang terhenti setelah mendaki Talamau.
Keindahan puncak terbayar dengan bentangan 13 telaga yang memanjakan mata. Di antaranya Talago Puti Sangka Bulan (telaga utama), Talago Tapian Sutan Bagindo, Talago Puti Mambang Surau, Talago Siuntung Sudah, Talago Putih Bungsu, Talago Rajo Dewa, Talago Satwa, Talago Lumuik, Talago Biru, Talago Mande Rubiah, Talago Imbang Langik, Talago Cindua Mato, dan Talago Buluah Parindu.
Penamaan setiap telaga ada yang sesuai kondisi alam, ada pula yang berasal dari legenda Minangkabau. Sebagian pendaki mengaitkannya dengan hal mistis. Benar atau tidak, biarlah menjadi cerita warisan untuk generasi mendatang.
“Talamau memang unik, lengkap, dan berat. Semua rasa capek dan lelah terbayarkan dengan keindahan alamnya. Bisa jadi lain kali saya kembali ke Talamau. Belum puas rasanya kalau hanya sekali saja ke puncak ini,” ujar Azib.(***)
Editor : Hendra Efison