PADEK.JAWAPOS.COM-Ramadhan telah tiba. Masyarakat muslim pun menyambutnya dengan suka cita. Seiring itu, penyintas banjir bandang di Kota Padang berharap, bulan suci ini mendatangkan berkah kepada mereka, untuk kembali bangkit menjalani hidup.
EKA Setiawan dan keluarga merupakan salah satu penghuni hunian sementara (huntara) di Kampuangtalang, Kelurahan Kapalokoto, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Mereka korban banjir bandang yang terjadi pada November tahun lalu.
Tak hanya rumah, mata pencahariannya pun diterjang banjir. Kehidupan mereka pun berubah 180 derajat.
Tahun ini, jadi yang pertama bagi Eka dan keluarga menjalankan ibadah Ramadhan di huntara. Meski demikian mereka ikhlas menjalani hal tersebut.
Sebagai seorang buruh, lelaki 33 tahun itu menempati rumah sederhana bersama istri dan dua anaknya. Fasilitas dapur masih terbatas dan menyatu dengan ruang termpat tinggal.
Ia menyebut kondisi tersebut membuat suasana Ramadhan terasa berbeda di banding tahun-tahun sebelumnya.
“Ditempat baru ini tentu saja kurang nyaman jika dibandingkan dengan dulu. Di mana, di sekitar tempat kami tinggal dikelilingi keluarga dan tetangga. Pascabencana kami dibuat terpisah-pisah, jika ingin pindah ke lokasi semula juga sudah tidak mungkin karena sudah berada di zona merah dan itu berisiko,” sebutnya kepada Padang Ekspres, kemarin.
Selain itu masjid sekarang cukup jauh dari tempat tinggalnya kini. Dengan kondisi saat ini, apalah yang hendak mau dikata. Dia pun ikhlas.
“Saat ini kami tinggal di rumah sementara selagi rumah permanen kami dibangun,” katanya. Rumah permanen atau hunian tetap itu dibangun di depan huntaranya saat ini.
Ia pun berharap, agar mushalla yang tengah dibangun, dapat segera tuntas. Sehingga dapat menunjang ibadah masyarakat selama bulan suci Ramadhan.
Di sisi ekonomi, kondisi sebagai buruh harian juga terdampak. Eka mengaku pekerjaan tidak selalu ada, karena distribusi barang yang biasa ia angkut belum kembali normal pascabencana.
“Kadang bekerja, kadang tidak. Untuk kebutuhan anak-anak juga jadi terbatas. Kalau menyebut Lebaran, tentu butuh biaya,” katanya.
Sebelumnya, istri Eka juga turut membantu perekonomian keluarga. Ia baru merintis berjualan makanan ringan. Namun kini ia tidak bisa lagi berjualan karena lokasi berjualan juga terbawa banjir.
“Istri berjualan di dekat bendungan Gunung Nago, namun seperti yang kita ketahui kawasan itu juga turut terdampak bencana dan sekarang istri saya tidak memungkinkan lagi membantu pekerjaan seperti dulu,” tambahnya.
Di tengah kondisi yang terjadi dan pembangunan huntap untuk para pengungsi, ia mengapresiasi progres pembangunan huntap yang dinilai cukup cepat. Aparat TNI bersama masyarakat disebut turut membantu percepatan penyelesaian rumah warga.
Eka berharap pembangunan rumah dan fasilitas pendukung bisa rampung sebelum Idul Fitri. Sehingga, keluarganya dapat merayakan Lebaran di rumah yang lebih layak dan permanen.
Hal yang sama dirasakan Eva Susanti. Kini ia mulai merasa lega karena memiliki ruang yang lebih luas dibanding sebelumnya waktu ia pertama kali mengungsi ke lokasi ini.
“Alhamdulillah sekarang lebih lega dan senang. Apalagi menyambut Ramadhan, rasanya sangat berharga bisa dapat tempat yang lebih layak,” katanya.
Eva tinggal bersama suami berserta enam anak dan beberapa anggota keluarga lainnya di lingkungan yang sama. Mereka telah menghuni huntap yang dibangun, Di lingkungan itu sendiri, terdapat sekitar 11 kepala keluarga yang mengalami kondisi serupa.
Sebelum bencana, Eva menjalankan usaha kecil-kecilan di rumah semi permanennya. Suaminya bekerja sebagai driver ojek online. Namun pascabanjir, motor suaminya rusak dan belum bisa digunakan kembali.
“Rumah sekaligus tempat jualan, kulkas, perabot, semua hanyut. Ekonomi kami putus sekali,” ungkapnya.
Ia menyebut seluruh kebutuhan sekolah anak-anak ikut terdampak. Selama ini, hasil jualan menjadi penopang utama biaya pendidikan.
Kini, untuk kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan sembako yang disalurkan kepada ia dan korban bencana lainnya.
Ia berharap bulan suci ini menjadi awal yang lebih baik bagi keluarganya.
“Harapan saya, semoga kami sehat-sehat dan ekonomi bisa kembali. Saya ingin jualan kecil-kecilan lagi supaya bisa menyekolahkan anak,” katanya.
Ia juga berharap ada dukungan permodalan atau bantuan usaha bagi warga terdampak, agar dapat kembali mandiri secara ekonomi. “Saya ingin ada lembaran baru dan rezeki baru untuk anak-anak,” tutupnya. (SUYUDI—Padang)
Editor : Novitri Selvia