Kualitas Siaran TV Naik, Boy Rafli: Beri Edukasi dan Jaga Toleransi

119

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bersama 12 Perguruan Tinggi Negeri di 12 Kota di Tanah Air, telah menuntaskan kegiatan Riset Indeks Kualitas Program Siaran TV untuk tahun 2020.

Kegiatan riset yang berlangsung dalam suasana pandemi ini dibagi dua periode dan menilai secara kualitas 457 program acara di 15 televisi berjaringan nasional.

“Secara umum nilai indeks kategori program yang diteliti mengalami kenaikan cukup signifikan dibanding hasil riset sebelumnya,” ujar Komisioner KPI Pusat sekaligus PIC Riset Indeks Kualitas Program Siaran TV 2020, Yuliandre Darwis, Selasa (8/12/2020).

Menurut Yuliandre, kenaikan tersebut sangat mengembirakan di tengah suasana sulit yang dihadapi stasiun televisi di masa pandemi Covid-19. Artinya, televisi masih mampu menghadirkan program siaran yang lebih baik dan berkualitas walaupun serbaterbatas.

Komisioner KPI Pusat Yuliandre Darwis.

”Ini menjadi capaian tertinggi dari keseluruhan rangkaian riset atau survey yang pernah di gelar KPI. Meski begitu ada beberapa catatan untuk perbaikan di sejumlah kategori yang meskipun ikut mengalami kenaikan tapi belum dapat mencapai nilai indeks yang ditentukan KPI yakni 3.00,” kata Andre usai menjadi moderator acara ekspose yang dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Boy Rafli Amar yang diselenggarakan secara daring dari Bandung, Selasa (8/12/2020).

Berdasarkan data hasil riset 2020, tiga kategori program acara yang belum mampu mencapai nilai tiga antara lain kategori program acara sinetron (2,81), kategori program acara variety show (2,78), dan kategori program acara infotainment (2,68).

Adapun enam kategori program acara yang sudah mencapai nilai indeks yang ditentukan KPI yakni program religi, program anak, program talkshow berita, program talkshow non berita, program wisata budaya dan program berita.

“Kami mendorong seluruh komponen di lembaga penyiaran televisi untuk bekerja keras dan terus meningkatkan kualitas tiga kategori program acara tersebut. Meskipun dalam situasi seperti ini akan sulit tapi jangan menyerah untuk melakukan perbaikan agar kualitas dan isi siaran kita makin baik ke depannya,” ujarnya.

Rektor Universitas Andalas Prof Yuliandri.

Dalam kesempatan ini, Andre memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh televisi yang telah berusaha dan konsisten menjaga kualitas serta mutu enam kategori program acara sehingga nilainya tetap di atas rata-rata. Menurutnya, hal itu menyebabkan hasil keseluruhan nilai indeks menjadi naik dan mencapai angka rata-rata 3,14.

“Kami mengucapkan selamat dan berharap semangat mempertahankan serta meningkatkan nilai indeks kualitas terus terjaga. Kita berharap ini menjadi masukan yang baik dan konstruktif terhadap pengembangan penyiaran di tanah air. Selain itu, kita berharap hasil indeks ini menjadi acuan dan masukan bagi pengiklan untuk beriklan dalam program acara yang baik dan berkualitas sesuai dengan penilaian kami,” tandasnya.

Periklanan

Bicara soal penempatan iklan, Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indoensia (P3I) Janue Arijanto menyampaikan tanggapan tentang hasil riset yang diselenggarakan KPI ini.

Menurut Janu, pengiklan saat ini bekerja memang berdasarkan pada penilaian matematis, seperti rating, jumlah penonton dan keterikatan atau engagement. Riset yang dilakukan KPI dengan menghasilkan nilai-nilai indeks untuk setiap program siaran, kata Janu, dapat menjadi penyeimbang.

Jadi Media Edukasi

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, berpendapat bahwa program televisi harus mampu menjadi media edukasi audiensnya, terutama terkait nilai-nilai toleransi dan perdamaian di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.

Boy Rafli menitikberatkan pada program religi yang saat ini tengah marak dan digemari masyarakat. Ia menilai program tersebut tak hanya mampu meningkatkan pengetahuan dan wawasan agama saja, namun juga mampu mengubah sikap masyarakat ke arah yang positif yakni berpikir kritis, serta mampu merawat Kebhinnekaan di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.

“Program acara (religi) harus dapat menghormati perbedaan dan Kebhinekaanan, harus menjadi wadah untuk memperkuat moderasi nasional, memperkuat jati diri, mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun masyarakat mandiri, demokratis, adil, dan sejahtera,” ungkap Boy Rafli.(rel/kpi/bnpt)