Yati Surachman: Artis Senior Kurang Dihargai

45
Artis senior Yati Surachman. (Foto: IST)

Yati Surachman meluapkan pengalaman sedih yang dialaminya setelah puluhan tahun malang melintang di dunia film dan sinetron. Sebagai artis gaek, ia merasa artis senior kurang dihargai di Indonesia dewasa ini. “Kalau di Indonesia pemain senior nggak dihargai, direndahkan. Malah dibilang ‘sudah untung gue ajak main lo’,” kata Yati Surachman.

Perannya sebagai pembantu dalam film dan sinetron disebut Yati sebagai salah satu penyebab ia pribadi kurang dihargai. Sejumlah pernyataan tidak sedap pun kerap sampai ke telinganya. Namun dia tak mau terlalu menghiraukan omongan orang. “Biar Tuhan yang kasih karma. Dia rendahkan saya, orang lain juga akan merendahkannya,” ucapnya.

Yati Surachman menyempatkan diri bercerita soal pemeran pembantu yang diterimanya untuk pertama kali. Pertama kali dia mendapat peran itu pada 1995 silam. Sebelum menerima tawaran itu, dia bertanya lebih dulu terkait gambaran peran pembantu seperti apa. “Kalau cuma pembantu yang sediakan makan dan minum, maaf ya, siapa saja bisa. Tapi ternyata, pembantu itu adalah kunci dari cerita sebuah rumah tangga,” kenang Yati.

Sukses memerankan karakter peran pembantu, dia pun terus disodori karakter serupa untuk sinetron dan film. Karakter itu pun kini sudah melekat dengan dirinya. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, Yati mengaku tidak lelah dengan tuntutannya harus tetap melakukan syuting. Semangatnya tetap kuat untuk memberikan yang terbaik buat penonton.

“Semua ada ilmunya, ada teorinya. Apa yang kita lakukan secara terus menerus setiap hari sudah tahu sistem kerjanya. Jadi ya nggak apa-apa. Yang penting saya menangis dibayar. Tapi kalau menangisi diri, saya nggak mau,” paparnya.

Yati tidak mau terlalu dihantui rasa takut menjalani syuting di masa pandemi. Dia yakin kondisi kesehatannya tidak akan terganggu selama menjalani syuting sesuai protokol kesehatan Covid-19. “Ketakutan itu juga bisa menjadi doa lho. Kita syukuri, kita tekuni, kita gembira. Mungkin itu juga menjadi obat,” tandas Yati Surachman.

Dia juga menceritakan pengalamannya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di tengah pandemi Covid-19. Beberapa bulan tidak memiliki sumber penghasilan membuatnya cukup kesulitan untuk menyambung hidup.

Yati bercerita, dia terpaksa meminjam kartu kredit milik keponakannya untuk digunakan menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. “Keponakan saya punya kartu kredit. Karena kan film bayarannya nggak cash. Keperluan kan nggak mungkin makan sekarang buat sebulan. Keperluan itu tiap hari. Jadi saya pinjam aja lalu saya ganti. Istilahnya gali lubang tutup lubang,” katanya.

Keperluan hidupnya terbilang besar mengingat aktris 62 tahun itu juga harus memenuhi kebutuhan hidup ibunya yang kini sedang sakit-sakitan. Orang tua Yati Surachman mengalami penyakit diabetes dan darah tinggi dan umurnya sudah mencapai 81 tahun.

“Orang tua saya makan ngunyahnya sudah tidak bagus jadi kita beri makanan alternatif walaupun kadang makanan kita kasih. Terus beli popok, beli alat untuk ngecek diabet dan darah tingginya, itu kan tidak murah,” kata Yati Surachman.

Awalnya, Yati Surachman tidak mau menceritakan kesulitan yang dialaminya itu ke publik. Karena dia memiliki keyakinan akan dapat mencarikan solusi atas kesulitan hidup yang dialaminya. Yati memiliki keyakinan Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuannya.

“Saya mau ceritakan kesusahan bukannya gengsi. Saya percaya Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan saya,” katanya. Namun setelah didesak oleh salah satu media untuk diekspose ke publik, setelah melalui pertimbangan, Yati Surachman akhirnya menyetujuinya. Setelah diekspose lewat pemberitaan media, sejumlah rekan selebriti langsung menghubunginya dan mengulurkan bantuan dana.

“Banyak yang mebantu saya ada Rano Karno, Deddy Mizwar, Rina Gunawan, Syahnaz Haque, Dewi Gita, Teuku Firmansyah dan yang lainnya,” ungkap Yati Surachman.
Dia mengatakan bahwa ia mau menjual rumahnya yang terletak di daerah Bogor, Jawa Barat seharga Rp 1 miliar. Namun, ia menegaskan penjualan rumah ini bukan karena ia tidak memiliki penghasilan akibat pandemi Covid-19.

Yati mengatakan, ia sudah cukup lama berencana mau menjual rumahnya karena ingin mencari suasana baru. “Sudah terlalu tua rumahnya, sudah 26 tahun. Saya mau ganti suasana. Saya ingin kesendirian, menikmati hidup, damai, sejahtera,” katanya.

Sebelum menjual rumahnya, dia lebih dulu membenahinya supaya pembeli tidak kecewa. Ketika rumahnya sudah rapi, Yati baru akan mengiklankannya supaya dilihat banyak orang.
Rumah Yati Surachman ini memiliki luas tanah sekitar 117 meter persegi dengan struktur bangunan tingkat dan full bangunan.

Setelah rumahnya terjual, Yati Surachman kemudian mau membeli rumah lagi untuk ditempatinya. Dia menargetkan rumah baru yang akan dibelinya itu lokasinya masih terletak di daerah Bogor, Jawa Barat. (jpg)