Yuliandre: Beri Perhatian Pekerja Seni Berkarya di Platform Digital

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari mengatakan pemanfaatan teknologi informasi melalui media sosial membuka peluang bagi seniman dan pekerja kreatif untuk berproses dan berkarya dalam era digital. Mereka harus mendapatkan perhatian.

Di masa pandemi, pekerja seni dan pekerja kreatif ditantang untuk bisa menghadirkan konten yang lebih kreatif yang tidak mengurangi substansi isi dari sisi kesenian.

“Sekarang media digital untuk keperluan eksistensi para pekerja seni, kultural harus mendapatkan porsi yang lebih. Saat ini kita agak kewalahan dengan kecepatan Covid-19, kita dipaksa masuk ke satu ranah yang tidak semuanya akrab,” kata Abdul Kharis saat menjadi pemateri diskusi berbasis daring yang di selenggarakan “Badan Aksesbilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) dengan tema “Eksistentsi Dunia Seni Di Masa Pandemi Dan Revolusi Industri 4.0” di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (21/11/2020).

Hal positif dari perkembangan teknologi bagi para seniman adalah dapat dengan mudah menyebarluaskan karya, bahkan ke seluruh dunia melalui Internet.

Seniman tidak perlu bernaung di bawah perusahaan pendistribusi karya agar karya mereka dapat diterima khalayak luas.

“Dengan berkembangnya teknologi informasi, seniman juga lebih mudah dalam proses berkarya. Tentu saja di balik hal positif tersebut ada dampak yang kurang menyenangkan bagi masyarakat atau seniman,” katanya.

Senada dengan Abdul Kharis, dalam kesempatan yang sama, Komisioner Komisi Penyiaran Indoensia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis mengungkapkan tahun 2020 ini menjadi tahun yang penuh dengan ujian kesabaran.

Baca Juga:  Dari Idol Lanjut ke Lanjud

Ruang yang tercipta karena pandemi Covid-19 menuntut setiap elemen masyarakat untuk lebih mendalami pengetahuan tentang penggunaan teknologi informasi yang tepat guna.

Redupnya industri wisata di masa pandemi bukan semata-mata untuk berpasrah diri, peluang tentu hadir dalam setiap kesempatan.

“Masa Covid-19 ini bukan berarti kita untuk berpasrah diri, tetapi, kita harus lebih bijak dalam memanfaatkan peluang yang ada. Keterbatasan yang terjadi harus dimaksimalkan. Pekerja seni harus mendapat perhatian dalam menuangkan ide dan karyanya melalui saluran platform digital,” kata Yuliandre.

Menurut tokoh muda asal Padang ini, salah satu subsektor kreatif yang terdampak oleh Covid-19 ialah para pekerja seni yang kehilangan pekerjaan, khususnya pekerja seni pertunjukan. Musikus, pekerja film, seniman teater, dan seniman tari merupakan kalangan yang sempat berhenti melakoni profesi mereka karena pandemi.

Yuliandre menegaskan bedasarkan data yang dirilis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI ada 37.000 seniman dan pekerja seni kehilangan sumber pendapatan selama pandemi Covid-19.

“Hal itu membuat seniman dan musikus berupaya agar terus berkarya meski harus lewat ranah virtual ataupun tampil di panggung dengan keharusan protokol kesehatan yang telah ditentukan,” tutur Yuliandre.(rel/syr)